Teladan Dari Nu’aiman; Hormati Orang Lain ~ Syafhira Khoirotun Zahra

Spread the love
Butuh waktu < 1 menit untuk membaca tulisan ini

Mungkin sebagian dari kita sudah familiar dengan nama Nu’aiman, seorang Sahabat Nabi yang terkenal akan kejenakaannya. Namun, ada yang berpendapat bahwa sikap Nu’aiman terlalu berlebihan untuk seorang Sahabat Nabi Muhammad SAW.

Nu’aiman memiliki kebiasaan yang kurang baik, yaitu sering mabuk. Fakta ini diketahui oleh banyak orang, termasuk Nabi Muhammad SAW. Dalam beberapa sumber, disebutkan bahwa Nabi Muhammad memberikan hukuman cambuk sebanyak 40-60 kali kepada Nu’aiman karena perbuatannya tersebut.

Ada Sahabat yang sampai berani melaknat Nu’aiman karena perbuatan mabuknya. Namun, Rasulullah membela Nu’aiman dengan bersabda, “Janganlah kalian gemar menghujat Nu’aiman. Karena sesungguhnya, dia cinta pada Allah dan Rasul-Nya.”

Dari sini, kita bisa belajar bahwa sikap Rasulullah dalam menghadapi Nu’aiman mengajarkan kita untuk menghormati dan memaklumi karakter orang lain, yang pada akhirnya akan membuat kehidupan kita lebih damai dan tenang.

Kisah Nu’aiman juga mengingatkan kita bahwa kita tidak pernah benar-benar mengetahui isi hati orang lain. Oleh karena itu, sebaiknya kita menghindari sikap menghakimi orang lain hanya berdasarkan perbuatan yang tampak di mata.

Hanya orang itu sendiri dan Allah SWT yang tahu apa yang ada di dalam hatinya. Seperti Nu’aiman, meski sering terlihat mabuk dan berkelakuan jenaka, Rasulullah tidak marah dan bahkan melarang Sahabat untuk mencelanya. Karena Rasulullah tahu bahwa Nu’aiman mencintai Allah SWT dengan sepenuh hatinya.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah pentingnya menghilangkan prasangka buruk terhadap orang lain. Kita boleh berwaspada terhadap orang tertentu yang mungkin berpotensi membawa pengaruh buruk, tetapi jangan sampai memiliki prasangka buruk terhadapnya. Karena pada akhirnya, hanya Allah SWT yang benar-benar mengetahui dan memahami isi hati setiap orang.

=====

Assalamualaikum

Dàjiā hǎo, wǒ shì Syafhir.
Siganeul naeeo je jagpumeul ilgeojusyeoseo khamsahabnida.
Dangsini geugeoseul joahandamyeon naneun haengboghada.
Wǒ bùnéng shuō hànyǔ, dàn wǒ zài xuéxí.

Xièxiè nǐ! Khamsahabnida…”