Si Seniman Muda ~ Devi Zafarina Salsabilah

Spread the love
Butuh waktu 2 menit untuk membaca tulisan ini

“Siapapun yang berani menghina bahwa seni itu hina, maka hidupnya jauh lebih hina dibanding hanya sebuah secarik kertas yang isinya hanya coretan pena.”

Dafi duduk di teras depan kamarnya, tempat ia bisa melihat dunia luar. Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu kayu usangnya. Dia sudah tahu siapa yang datang.

“Dor! Kaget ya,” kejut Mira, adik perempuannya yang masih berusia tujuh tahun.

“Apa sih, Dek! Jangan ganggu Mas dong, lagi ngegambar nih,” omel Dafi kepada adiknya.

“Nggeh, nuwun sewu, Aden. Hahaha,” balas Mira sambil tertawa dan meninggalkan Dafi sendirian.

Tak lama kemudian, terdengar teriakan dari Ibunya, “Dafi! Muduno sek, mangan kene le.”

“Nggeh, Bun, bariki, kulo sek ngentaske gambar kulo,” jawab Dafi, yang berarti ia akan menyelesaikan gambarnya dulu.

Tiba-tiba, kakaknya yang juga putra sulung keluarga ini berteriak, “Wadalah, ayam pahanya dimakan Kak Adji loh!”

“Nggeh, otewe!” Dafi berlari terburu-buru melewati tangga kayu dan menuju ke dapur.

“Ngendi toh, Bun, ayamnya?” tanya Dafi kepada Bundanya.

“Ayam opo, Bunda ra masak ayam og,” jawab Bunda sambil tertawa melihat Dafi dan kakaknya. Dafi yang mengetahui bahwa kakaknya menipunya hanya bisa melirik dengan mata sinis.

“Wes toh, makan iwak bandeng kui, bapakmu sakno seng manceng ra di pangan,” ujar Bunda kepada ketiga anaknya. Ia meyakinkan mereka bahwa mereka hanya keluarga sederhana, tidak lebih tapi cukup untuk mereka berlima.

“Bapak kemana, Bun?” tanya Dafi kepada Bundanya.

“Bapak udah berangkat ke pasar buat dagang,” jawab Bunda.

Langit senja telah menyapa kampung halaman. Dafi seperti biasa duduk untuk melanjutkan gambarnya. Sedikit lagi ia akan menyelesaikan gambar yang indah nan cantik. Suasana yang tepat untuk menggambar! Sunyi, hening, tak ada keributan membuatnya lebih fokus untuk menyelesaikan lukisannya.

“Yosh! Akhirnya selesai juga,” Dafi tampak senang dengan lukisannya yang mengesankan.

“Aku harus menunjukannya kepada Bunda dan Bapak nanti,” batinnya.

Malampun tiba, Dafi pergi ke Bunda dan Bapaknya untuk menunjukkan lukisannya, :Pak, Bun, lihat nih gambar yang aku buat,” sambil menyerahkan lukisan itu kepada mereka berdua.

“Oalah, bagus sekali, pertahankan ya.” Bapak memberi apresiasi kepada Dafi.

Lalu ia menaruh lukisannya itu di lemari untuk dipajang di kamarnya. Di lemari itu memang sudah banyak lukisan yang selama ini ia lukis dan sekarang malah menumpuk di lemari itu.

“Bersambung …”

=====

Assalamu’alaikum wr. wb. Saya Devi Zafarina Salsabilah, lahir pada tahun 2007. Berasal dari kecamatan Banyuanyar, belakang kantor kepala desa, Banyuanyar Kidul desanya. Motto hidup saya adalah “Ingin mencapai sesuatu harus dengan keyakinan, kesabaran, ketabahan, dan niat yang baik. Ingat bahwa ada Allah yang selalu bersama kita.”
Sekian terima kasih