Sepenggal Pesan dalam Surat ~ Putri Sri Utami

Spread the love
Butuh waktu 3 menit untuk membaca tulisan ini

Putri adalah seorang gadis yang berasal dari keluarga sederhana. Ia tinggal di Jakarta bersama ayah dan ibunya. Namun, karena ayahnya mendapat tugas di Bandung, ia harus ikut pindah juga. Putri memiliki sifat yang pemalu dan tidak mudah bergaul.

Suatu pagi yang cerah, Putri terbangun dari tidurnya dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Ia membereskan tempat tidurnya, mandi, sarapan, dan mengambil tasnya. Ini adalah hari pertamanya di sekolah barunya.

Sesampainya di sekolah, Putri merasa asing dengan lingkungan sekitarnya. Ia mencari kelas yang sudah ditentukan untuknya. Sebelum ia masuk ke kelas, ia mendengar suara ramai dari dalam. Ia menarik napas dalam-dalam dan membuka pintu.

Seketika, suasana kelas menjadi hening. Semua mata tertuju pada Putri yang berdiri di depan pintu. Ada seorang anak laki-laki yang berdiri dan berkata dengan suara keras, “Hai, gadis culun! Apakah kamu murid baru di sini?”

Putri merasa malu dan ingin segera pergi dari sana. Ia hanya menjawab dengan suara pelan, “Iya, kak,” lirihnya seraya melangkah pelan mencari tempat duduk yang kosong dan bergegas menuju ke sana.

Tidak lama kemudian, datanglah seorang guru wanita yang bernama Ibu Fira. Ia memulai pelajaran dengan membaca doa bersama-sama. Setelah itu, ia meminta Putri untuk memperkenalkan dirinya di depan kelas.

Putri bangkit dari kursinya dengan perasaan gugup, malu, dan takut. Ia berjalan ke depan dan berkata dengan suara gemetar, “Ha- hai, teman-teman. Perkenalkan, namaku Salsabila Putri. Bisa kalian panggil Putri. Aku berasal dari Jakarta dan pindah ke sini karena ayahku bertugas di sini.”

Beberapa temannya berbisik-bisik dengan nada sinis, “Mangsa baru, haha.” Putri merasa semakin tidak nyaman. Ia segera kembali ke tempat duduknya setelah selesai memperkenalkan diri.

Pelajaran pun berlangsung seperti biasa. Saat istirahat tiba, Putri masih duduk di kelasnya karena ia tidak punya teman. Tiba-tiba, datanglah seorang gadis yang bernama Fara. Ia mengajak Putri untuk ke kantin bersama.

Putri merasa senang karena ada yang mau berteman dengannya. Ia pun mengikuti Fara ke kantin sambil berbincang-bincang. Hari pertamanya di sekolah baru terasa lebih menyenangkan berkat Fara.

Namun, hari-hari selanjutnya tidak semudah itu bagi Putri. Ia masih sering menjadi korban ejekan dan bully-an dari teman-temannya yang lain. Mereka menyebutnya “Putri bisu”, “sok jadi pendiam”, “ga punya mulut”, “item dekil”, “mukanya jerawatan”, dan kata-kata kasar lainnya.

Putri merasa sakit hati dan tertekan dengan perlakuan mereka. Namun, ia tidak pernah menceritakannya kepada orang tuanya atau guru-gurunya. Ia lebih suka memendam semuanya sendiri.

Satu tahun berlalu, Putri merasakan lelah dengan keadaannya. Setiap hari ia harus mendengarkan omongan yang sama sekali tidak ia sukai. Suatu hari, ia bercerita kepada Fara tentang perasaannya.

“Fir, kalau seandainya aku mati, pasti anak-anak ga bakalan ngebully tiap hari kayak gini ya kan? Udah ga ada mangsa mereka lagi,” ucap Putri dengan nada sedih.

Fara merasa khawatir dengan ucapan Putri. Ia mencoba menenangkan dan menyemangati temannya itu. “Ngomong apa sih, Put? Udahlah, jangan dipikirin mereka. Emang gitu, kalau ngomong ga kira-kira. Ga punya otak mereka itu,” ucap Fara.

Pada saat jam pulang, Putri diajak oleh segerombolan temannya untuk ke belakang sekolah. Putri tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padanya. Ia merasa ketakutan dan ingin lari, tapi ia tidak bisa.

Putri ditarik, didorong, dipukul oleh mereka. “Udah, ih! Sini cepetan lu! Lama banget sih cuma jalan doang!” ucap salah satu dari mereka. “Nih, mandi lu! Kan bau! Pasti belum mandi kan?” lanjutnya sambil menyiram Putri dengan air yang sudah kotor.

Putri merasa sakit dan hina. Ia menangis dan berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang mendengarnya. Ia hanya bisa berharap agar semua ini segera berakhir.

Sebagian teman yang di sana hanya menertawakannya. Tak ada rasa untuk menolongnya. Setelah mereka puas melakukan hal itu, mereka pergi dan meninggalkan Putri dengan keadaan basah kuyup dan luka memar di bagian kakinya.

Tak lama dari itu, Fara pergi ke belakang sekolah karena ia mendengar suara keributan. Ia kaget melihat keadaan Putri pada saat itu dan segera membantu Putri untuk pulang. Sesampainya di rumah, Putri merasakan suasana yang sangat sepi. Mungkin ayah dan ibunya sedang keluar.

Fara menyuruh Putri untuk mandi dan istirahat. Fara tidak bisa menemaninya karena ada acara yang harus ia hadiri. Sebelum Putri masuk ke rumahnya, ia mengatakan, “Fira, Putri cape. Dan tolong bilangin ke anak-anak kalau mereka udah menang. Udah selesai keinginan mereka. Udah ga ada korbannya lagi. Makasih ya, Fira, udah mau jadi temen baik aku. Aku ga bakalan lupain kamu.”

Fara yang bingung dengan apa yang dimaksud ucapan Putri itu, namun ia tidak memikirkannya dan segera pergi.

Sesampainya ayah dan ibunya di rumah, mereka melihat keadaan pintu terbuka dan hanya ada tas Putri yang bergeletakan di bawah. Ibunya berpikir bahwa si Putri sedang istirahat karena itu jamnya dia tidur. Namun, setelah beberapa jam, perasaan ayah dan ibunya mulai tidak enak dan segera membuka pintu kamarnya Putri.

Hingga pada akhirnya, Putri ditemukan tewas di dalam kamarnya dengan keadaan bergantung diri. Dan ditemukan satu surat yang dipegang di tangannya yang bertulis, “Mah, Putri cape dibully. Putri udah ga kuat sama semua ini. Putri minta maaf ya mah pah. Putri pamit.”

Jangan pernah membully teman-teman kalian. Terkadang omongan lebih sakit daripada pukulan. Kita tidak tahu mental seseorang seperti apa. Ingat, jangan pernah membuat orang trauma karena omongan kita sendiri.

=====

Hai … Saya Putri, hobi saya membaca dan menggambar kaligrafi. Membuat cerita adalah kesukaan saya dari MTs. Motto hidup saya adalah “Terlahir dari keluarga sederhana tidak akan menghalangiku untuk bisa meraih cita-cita.” Selamat membaca meskipun ga nyambung.