Sejauh Senin Ke Minggu ~ Aisyah

Spread the love
Butuh waktu 2 menit untuk membaca tulisan ini

Di tengah hujan yang membasahi kota, Azira terduduk termenung di pelataran musholla. Meski raganya diam, pikirannya jauh dari kata tenang.

Dari kejauhan, tampak seorang lelaki bertubuh tegap berjalan menembus hujan, menggunakan tasnya sebagai payung. Azira tersenyum dalam hati melihat pemandangan itu.

Lelaki itu adalah Ardan, orang yang baru-baru ini berhasil mencuri perhatiannya. Cara Ardan berkomunikasi, hingga ketaatannya, semuanya membangkitkan rasa kagum dalam diri Azira.

Interaksi mereka memang jarang. Kadang hanya sebatas tatapan atau senyum tipis. Begitu juga kali ini.

Di dalam musholla kecil, Ardan khusyuk menunaikan sholat Ashar, seolah mencurahkan segala isi hatinya dalam doa.

“Hafid, lihat, ada Zira,” ujar Ardan, mengarahkan dagunya ke arah Azira yang sedang asyik membaca buku. Ardan hanya tersenyum tipis dan menunduk setelah melihat pemandangan Azira yang cantik dengan hijab pashmina, bersandar di tiang musholla.

“Cantik, kan, Dan? Kamu tidak tertarik dengan dia? Bukankah dia tipe idealmu?” goda Hafid.

“Sekarang bukan waktunya saya memikirkan hal itu, Fid,” balas Ardan.

Interaksi dua lelaki itu di dalam musholla menimbulkan rasa kagum pada Azira. Ardan tahu, ini bukan saatnya untuk memikirkan cinta. Ada banyak hal lain yang harus didahulukan.

Waktu berlalu, hujan mereda, meninggalkan genangan air di halaman musholla. Azira beranjak pulang, begitu juga Ardan dan Hafid yang sedang duduk di depan sambil memakai sepatu.

“Duluan ya, Mbak,” sapa Hafid pada Azira.

Hafid dan Ardan menunduk sambil tersenyum, lalu berlalu melewati Azira. Degup jantung Azira seakan tak terkendali, terbawa oleh senyuman manis Ardan.

“Ya Allah, saya tak ingin terlalu larut dalam perasaan ini ketika dia tersenyum,” ucap Azira dalam hati.

Mungkin perasaan mereka memang sama. Keduanya seperti dua kutub yang tak ingin mengungkapkan apa-apa sebelum waktunya tiba. Karena mereka tahu, segala yang dipertemukan pasti akan dipisahkan.

Dan itulah yang terjadi pada mereka. Ardan harus meninggalkan kota kelahirannya demi pendidikan yang telah ia perjuangkan. Sementara Azira juga mengejar pendidikannya di negeri seberang.

Meski dipisahkan oleh jarak dan hanya bisa memantau keadaan satu sama lain melalui Instagram, hati mereka tetap pada orang yang sama. Mereka mencintai sambil mempersiapkan diri.
Karena mereka percaya, apa yang ditakdirkan untukmu pasti akan kembali, meski jarak antara mereka sejauh hari Senin ke Minggu.

=====

Aisyah, dipanggilnya Ais aja biar singkat. Mengenyam pendidikan di MAN 2 Probolinggo, mau jadi anak rantau biar nanti terbiasa pas kuliah di luar negri, aamiin. Sebagian tulisanku hanya sebatas curahan perasaan atau angan belaka. Jika ingin tau lebih lanjut, mending check @aisyazraaa_