7 Hal Penyebab Writer’s Block & Solusinya

Spread the love
Butuh waktu 3 menit untuk membaca tulisan ini

Konten ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya tentang 4 Ciri Penulis Mengalami Writer’s Block, happy reading!
Pribahasa menyatakan “Ada asap ada api”, ini bermakna segala hal yang terjadi pasti ada sebabnya. Hal ini pun berlaku ketika seorang penulis mengalami writer’s block. Umumnya, seorang penulis yang mengalami kebuntuan akan beralasan sedang tidak mood. Padahal kalau diperhatikan, alasan itu sebenarnya cenderung tidak jelas. Sebab, tetap akan muncul pertanyaan “Kenapa nggak mood nulis?”
Ibarat seseorang hendak memadamkan api, tentu akan lebih efektif ketika mengetahui sumbernya. Begitu pula halnya dengan writer’s block, perlu dipahami dulu sebab-sebabnya. Berikut ini ulasan singkat hal-hal yang kemungkinan menyebabkan seseorang mengalami writer’s block:

Kondisi fisik sedang kurang prima

Orang bijak selalu berpesan “Sehat itu mahal,” karena ketika kondisi badan kurang sehat seluruh aktifitas akan ikut terpengaruh. Meskipun tidak terkait langsung dengan teknis menulis, poin ini perlu diperhatikan. Mengkomsumsi makanan sehat dan bergizi, olahraga, menerapkan gaya hidup sehat, hingga menghindari kelelahan menjadi solusi ampuh agar proses kreatif menulis tidak terganggu akibat kondisi badan yang kurang fit.

Masalah perasaan

Sebagai makhluk yang dikaruniai perasaan, tidak dipungkiri terkadang ada permasalahan yang mempengaruhi suasana hati. Misalnya ketika kehilangan orang tercinta, bisa saja membuat seorang penulis kehilangan inspirasi bahkan menjadi depresi.
Meskipun tak jarang, kondisi ini justru menjadi sumber cerita dan titik awal motifasi menulis, seperti dalam kisah Zainuddin yang ditinggalkan Hayati pada novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Sabar, tawakkal, dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah menjadi tameng pelindung dari dampak negatif ketika ditimpa masalah.

Persiapan yang kurang baik

Poin ini menjadi salah satu fase terpenting ketika akan mulai menulis. Layaknya orang yang hendak menuju ke suatu tempat, perlu mempersiapkan apa saja yang hendak dibawa serta rute yang akan dilalui.
Meskipun tak menjadi sebuah kewajiban, melakukan riset awal serta menyusun kerangka tulisan menjadi sesuatu yang dianjurkan. Tujuannya, agar ketika proses menulis tidak mengalami kebingungan menyusun alur tulisan. Sebab dalam beberapa kasus, penulis yang tidak memiliki persiapan awal yang baik, sulit menyelesaikan tulisan karena menjadi terlalu meluas dan tidak memiliki arah yang jelas.

Kurang kompeten

Salah satu tips yang sering diungkapkan trainer dalam pelatihan menulis adalah “Tulislah sesuatu yang dekat dengan keseharian”. Tak perlu memaksakan diri untuk menulis sesuatu yang sama sekali tidak dikuasai. Terlebih jika referensi atau literatur yang menjadi sumber dan bahan tulisan masih kurang bahkan sulit ditemukan. Apalagi jika masih termasuk penulis pemula, sangat dianjurkan untuk memulai dari hal-hal sederhana.
Namun, kondisi ini bisa dikecualikan bagi para penulis yang memiliki motifasi belajar serta rasa ingin tahu yang besar. Sama halnya dengan poin sebelumnya, kondisi ini bisa menjadi pemicu untuk mengeksplor diri, menelsuri informasi lebih mendalam, mengamati lebih teliti, mengembangkan wawasan, dan terus belajar hal-hal baru. Ketika hal tersebut bisa dimaksimalkan, aktifitas menulis justru akan menjadi jalan untuk meningkatkan kompetensi.

Terlalu perfeksionis

Membuat sebua tulisan yang baik dan enak dibaca, tentu menjadi harapan setiap penulis. Akan tetapi, ketika terlalu mengejar kesempurnaan, dapat berakibat negatif. Muncul ketakutan yang berlebihan tentang kualitas tulisan yang dibuat, khawatir akan mendapatkan kritik dari pembaca, cemas karyanya tidak sesuai ekspektasi pembaca, merasa tulisannya tidak menarik, hingga mengakibatkan proses menulis menjadi lambat bahkan terhenti.
Ketakutan dan kekhawatiran itu harusnya tidak terjadi. Sebab, tiap tulisan memiliki pembacanya masing-masing, dengan respon serta penilaian yang tentu berbeda-beda. Kuncinya, tuliskan segala hal yang terpikirkan. Setelah semuanya dirasa cukup, diamkan sejenak untuk menyegarkan ide menulis, dilanjutkan proses self editing untuk memeriksa kembali dan melengkapi tulisan yang telah dibuat.
Selesai dengan seluruh tahapan menulis, tanamkan keyakinan atas usaha yang telah dilakukan. Karena, tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai.

Beratnya tekanan

Masing-masing orang punya toleransi yang berbeda ketika menghadapi tekanan. Bagi penulis yang kurang bisa bekerja di bawah tekanan, akan memicu perasaan depresi. Kondisi ini biasanya menimpa penulis yang sedang dikejar deadline, lingkungan sosial yang kurang menyenangkan, iklim kompetisi yang tidak sehat, dan faktor-faktor lain yang membuat seseorang merasa tidak nyaman.
Jika berada di kondisi seperti ini, berusahalah mencari sesuatu yang menyenangkan diri, misalnya nonton film, berkumpul dengan keluarga atau orang-orang tercinta, berlibur, dan lain-lain. Bahkan jika merasa benar-benar tak sanggup lagi menghadapi berbagai tekanan yang ada, rehat sejenak dari aktifitas menulis menjadi opsi terbaik. Jika tak ingin lagi mendapatkan tekanan yang sama terus menerus, mencari suasana dan lingkungan baru juga menjadi hal yang bisa dipertimbangkan.

Lemahnya komitmen dan motifasi

Hal ini biasanya dialami penulis pemula. Pada awal menulis, semangat akan terasa membara. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, semangat itu turut padam. Hal ini perlu diperhatikan para penulis, sebab memulai terkadang lebih mudah daripada mempertahankan. Modal semangat yang telah berkobar, harus terus dijaga agar tetap menyala. Komitmen menyelesaikan apa yang telah dimulai, patut menjadi prinsip yang tak boleh dilanggar.
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengobarkan semangat serta menguatkan komitmen. Misalnya menentukan target yang ingin dicapai, mencatat setiap progres yang telah dilalui, berkumpul bersama orang-orang yang punya semangat juang yang sama, memberikan apresiasi pada diri jika berhasil menyelesaikan target, menghukum diri sendiri jika gagal, dan terus memotifasi diri agar tidak mudah menyerah.
Selain hal-hal di atas, sahabat juga bisa berbagi pengalaman serta pengetahuan di kolom komentar terkait penyebab writer’s block yang pernah dialami, serta bagaimana solusi mengatasinya.