Pelajaran Hidup~Lailatul Munawaroh

Spread the love
Butuh waktu 6 menit untuk membaca tulisan ini


“Bu, Ami berangkat dah,” pamitku kepada ibu. Hari ini aku akan pergi ke sekolah untuk menyelesaikan tugas. Walaupun dalam suasana liburan tetap pergi ke sekolah. Karena diam di rumah saja membosankan.
“Minta uang jajan?” tanya ibu.
“Ga usah dah. Ami cuman sebentar bahas tugas. Jam 10 Ami udah pulang,” tolakku karena hari ini rencananya cuman sebentar.
“Hati-hati di jalan!”
Sebelum berangkat Aku memakai masker dan pakai helm. Kuputar kontak sepeda motorku. Menekan tombol stater yang ada di pojok kanan setir. Setelah mesinnya panas kulajukan sepedaku untuk menjemput temanku.
Setelah 10 menit berkendara, aku tiba di pertigaan rondo kuning. Banyak kendaraan berlalu-lalang, membuatku tidak bisa melihat Rani. Tiba-tiba Rani memanggilku di seberang Jalan.
“Lewat dalam saja Am. Tadi katanya di depan sekolah kita ada orang kecelakaan dan meninggal di tempat,” saran Rani.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.” Kematian memang datang kapan saja. Tidak ada syarat muda atau tua, sehat atau sakit.
“Ayo cepat naik dah!”
Di tengah perjalanan aku baru ingat. Aku sudah bilang akan membawakan Rani buah kedondong. Berhubung tadi aku terburu-buru dan lupa, “Rani, aku lupa bawa kedondong. Gimana, ga jadi rujakan dong?”
“Loh, beneran kamu mau bawain aku kedondong?” tanyanya dengan nada sedikit terkejut. Mungkin dikira tadi malam aku hanya bercanda.
“Beneran Ran, karena kemarin juga dikasih lumayan banyak sama temenku. Metik sendiri di pohonnya,” jelasku. Karena kemarin waktu silaturrahmi. Di rumah temanku banyak buah-buahan. Ada buah klengkeng, kedondong, jeruk nipis, belimbing bintang, pisang. Yang aku bungkus cuman kedondong saja.
“Kalo masuk sekolah dah Am.”
“Keburu matang Ran.”
“Kan enak kalo matang.”
“Yah ga enak Ran. Emangnya mangga kalo matang makin manis.” Emang ada-ada saja Rani ini.
“Ami nanti kamu pulang jam berapa? Bisa nunggu aku dulu, mau ketemu pembina asrama. Paling setelah jumatan sudah selesai.”
“Gimana yah Ran, terserah nanti dah. Aku izin pulang jam 10 sama Ibu soalnya. Karena setelah jumatan Ibu ngajak ke Krejengan.”
“Ya terserah nanti dah,” jawab Rani.
15 menit kemudian, kami telah sampai di seberang jalan raya depan sekolah. Banyak sekali truk bermuatan berat, mobil, dan sepeda motor memenuhi jalanan. “Kenapa jalannya ramai sekali?” tanyaku pada Rani.
“Biasa lah Am menuju tahun baru. Orang-orang pada liburan. Emangnya kita penunggu sekolah,” candanya.
Selang beberapa menit kendaraan sudah mulai sepi. Aku segera menyeberang menuju sekolah. “Alhamdulillah,” ujarku dan Rani bersamaan.
Kemudian kami turun dari sepeda motor menuju ruang perpustakaan. Di dalam perpustakaan sudah ada pak Rama dan pak Arif. Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB.
“Ran masuk duluan sana!” pintaku kepada Rani
“Kamu duluan dah Am,” tolak Rani. Daripada ga cepat masuk. Ya udah deh masuk aja barengan.
“Assalamualaikum,” ucap kami bebarengan.
“Wa alaikumussalam,” jawab pak Rama dan pak Arif.
Sesampainya di dalam perpus, aku dan Rani duduk mengelilingi meja bundar yang terletak di tengah ruangan. pak Arif duduk di sebelah utara, sementara Aku dan Rani duduk di selatan. Pembahasan hari ini di mulai dari pembagian tugas, penjelasan tugas-masing-masing, dan rencana program ke depannya.
Jam terus berputar, begitu cepat waktu berlalu. Tidak terasa dua jam sudah kami melakukan diskusi pagi ini. Semua tugas sudah dijelaskan, selanjutnya kami bersiap pulang. Namun, sebelum pulang laptopku bermasalah. Semua keyboardnya tidak berfungsi.
“Pak, laptopnya saya ga bisa keyboardnya. Ga berfungsi semua Pak. Baru saja saya restart dan update. Gimana Pak?” tanyaku kepada pak Arif. Karena baru 1 tahun yang lalu aku ganti keyboard. Masa harus ganti keyboard lagi.
“Masih bisa di klik? Coba pake keyboard ini. Kalo bisa berarti emang keyboard laptop kamu yang bermasalah,” ujar Pak Arif sambil menyerahkan sebuah keyboard bluetooth..
Sekarang aku hanya fokus kepada laptopku. Kuklik kembali icon jendela di layar laptop. Lalu memilih power dan update and restarting. “Pak tetap ga bisa. Gimana dah?”
“Bawa sini,” titah pak Arif.
Pak Arif menekan beberapa tombol keyboard. Ternyata keyboardnya masih berfungsi. Dalam hati aku bersyukur karena tidak perlu mengganti keyboard. Sekarang tinggal menunggu laptopnya di update. Pastinya akan membutuhkan waktu yang lama.
“Am, aku belum sarapan dari tadi pagi,” bisik Rani kepadaku.
“Ayok makan ke warungnya mbah yok!” ajakku.
“Ran, kamu bawa uang berapa?” tanyaku kepada Rani.
“4000 cuman Am, emangnya kenapa?”
“Aku haus, pinjem uang 1000 boleh? Aku ga bawa uang sama sekali. Aku tadi mengira kita cuman sebentar jadi ga bawa uang,”
“Aku juga begitu. Karena sebentar, aku Cuma bawa uang 4000.” Ternyata aku dan Rani sehati.
Dengan membawa uang 4000, kami pergi ke warung kecil yang terletak di utara pasar Karanggeger. Uang ini dibuat untuk membeli gorengan 3000 dan es apel satu. Pulang dari warung kami langsung kembali ke perpus. Berhubung sekarang hari jumat, jadi pak Arif dan pak Rama pulang terlebih dahulu.
Kini tinggal Aku dan Rani di sekolah. Menunggu laptopku selesai diupdate, dan menunggu pembina asrama yang akan menunjukkan kamar yang bisa ditempati Rani. Namun, setengah jam berlalu laptopku belum selesai diupdate. Sampai lampu merah di bawah menyala. Menandakan bahwa harus diisi daya.
“Ran bataerainya lemah. Ayo cepetan ke sanggar,” ujarku cemas sambil berlari menuju sanggar.
“Am HP nya lupa.” Rani langsung bergegas untuk mengambil semua barang-barang kami. Lalu aku bergantian untuk mengambil sepeda motorku. Setelah semua barang-barang beres. Kami istirahat sejenak di dalam sanggar.
“Ran, nanti jadi kita beli jemblem?” tanyaku kepada Rani. Memang mulai tadi pagi kita sudah ada rencana untuk beli jemblem.
“Ya, jadi Am lihat cuaca nanti juga dah.”
Sekarang aku merasa pusing melihat laptopku yang lama sekali update. Alasan apa nanti yang akan kuberikan kepada Bapak kalo sampek laptopku ga bisa. Kulihat Rani yang sedang istirahat. Sepertinya dia juga lelah. Tiba-tibab laptopku berwarna biru dan keluar beberapa tulisan yang berbahasa inggris. Yang aku pahami dari situ “don’t turn off your PC”. Sedangkan di luar langit sudah gelap, bunyi guntur pun mulai terdengar bersahutan. Setelah menunggu beberapa menit kuhubungi pak Arif.
Setelah bertanya kami memutuskan untuk datang ke rumah pak Arif. Karena jika dibawa pulang dalam keadaan seperti itu, aku bingung penjelasan apa nanti yang akan kuberikan kepada orang tuaku.
Sesampainya di rumah pak Arif laptopku diperbaiki. 15 menit kemudian laptopku sudah selesai diupdate. “Terimakasih Pak, Mau pulang dah Pak,” pamitku kepada pak Arif.
Di perjalanan aku merasa ada yang tidak beres. Setiap melewati polisi tidur sepedanya terasa aneh. Aku memutuskan untuk mengecek bannyayang ternyata kempes. Aku pun akhirnya meminjam pompa di rumah Bu Dhe ku. Inilah gunanya menjalin silaturrahmi dengan baik. Kita tidak pernah tahu akan mendapat masalah dimana. Ketika kita baik ke semua orang dan menjaga tali silaturrahmi. Maka akan ada orang baik juga yang menolong kita.
Aku sudah curiga kalo bannya kena paku. Karena tadi pagi masih baik-baik saja. Ternyata dugaanku benar. Sampai di selogudig wetan bannya kempes lagi. “Ran kayaknya kita beneran harus dorong sepedanya. Mungkin bannya terkena kopi,” ujarku. Lantas Rani turun dan mendorong sepedaku dari belakang.
“Am masih lama gak nyampeknya?” Tanya Rani dengan wajah yang penuh peluh.
“Dikit lagi,” jawabku memberi semangat.
Kini aku mengerti bahwa membawa uang saat kita keluar sangatlah penting. Seperti saat ini, ban sepeda bocor, tenggorokan kering, perut lapar. Disepanjang jalanpun tak ada pintu rumah yang terbuka. Karena saat ini waktunya orang tidur siang.
Sesampainya di sebuah bengkel tambal ban, aku bertanya “Mas nambal ban berapa Mas?”
“10 ribu mbak.”
“Ya dah mas lihatkan sepedanya saya. Saya mau pulang dulu nitip helm lagi mas.”
“Ya dah mbak,” jawab mas bengkelnya.
“Ran, sambil nunggu ayo pulang ke rumah dulu, ambil uang!” ajakku kepada Rani.
Tiba di rumah, aku langsung mengajak Rani beristirahat sejenak. “Ayo Ran masuk dulu.”
Aku memberikan segelas air kepada Rani yang nampak kelelahan, setelah mendorong sepeda dan harus jalan dari selogudig Wetan sampai Selogudig Kulon. “Ran, Ini ada buah naga sama Apel. Makan ini dulu dah aku mau goreng telur,” ujarku sambil menyodorkan buah naga dan apel.
“Ga usah dah Am. Cukup buah saja, makan ini udah kenyang kok.”
“Beneran,” tanyaku meyakinkan, Rani mengangguk.
Setelah beristirahat sejenak sembari memakan buah-buahan dan meneguk air, akhirnya kami kembali ke bengkel dengan berjalan kaki melewati lorong-lorong. Menurut Rani jalan menuju rumahku seperti labirin.
Tiba di bengkel, aku langsung bertanya “Mas gimana udah ditambal? Berapa yang bocor Mas?”
Terlihat Mas tukang tambal ban masih sibuk dengan pekerjaannnya. Aku mengira ini sudah cukup lama, seharusnya sudah selesai. Tadi pas ditanya katanya sebentar, tapi setelah ditinggal pulang ke rumah ternyata masih belum selesai.
“Mbak yang bocor dua. Ini bekas tambalan yang dulu lepas lagi.”
“Kalo beli yang baru berapa Mas? kalo nambal dua kali berapa?”
“Kalo beli 30 ribu Mbak, Kalo mau ditambal kan ini ada dua yang bocor biasanya sih 20 ribu tapi kasih 15 ribu aja dah.”
Setelah dipikir kok lebih murah diganti yang baru. Jika cuman ditambal khawatir lepas lagi. Aku langsung memilih bannya diganti yang baru.
Setelah proses penggantian ban selesai, aku berujar sambil menyerahkan selembar uang 50 ribu “Mas, bannya 30 ribu?”
“Ya mbak,”
“Loh 30 ribu ini sama ongkos pasangnya, atau bannya tok?”
“Disitu berapa kembaliannya Mbak?”
“10 ribu, berarti totalnya 40 ribu. Tadi Masnya bilang kok 30 ribu?”
“Kan Mbak tanya harga bannya. Kan betul 30 ribu.”
Selesai urusan dengan mas tukang tambal ban, aku langsung mengantarkan Rani pulang. Diperjalanan pulang kita dikagetkan denga suara gemuruh guntur dan kilatan petir. Sampai di rumah Rani hujan mulai membasahi bumi.
“Alhadulillah, Am terimakasih yah. Pakai dulu jas hujannya, Am!” ucap Rani.
“Sama-sama Ran. Ga usah deh ribet kalo pake jas hujan,” tolakku, tapi tetap saja Rani memaksa. Aku pun akhirnya turun dari sepeda dan menggunakan jas hujan. Sampai di rumah aku langsung bergegas untuk mandi.
Begitu banyak pelajaran yang aku dapat hari ini. Mulai dari laptop yang bermasalah, ban bocor, ga ada uang untuk membeli minum. Pelajaran yang hanya bisa diberikan oleh guru pengalaman. Semoga semua ujian hari ini menjadi pahala.