Nestapa ~ Siti Aisyah

Spread the love
Butuh waktu < 1 menit untuk membaca tulisan ini

Terduduk termangu di tepi pantai sendirian, hanya ada suara pasir yang disapu ombak.
Mataku tertuju pada kaki langit, memikirkan isi hati.
Tentang sesosok pria yang datang tanpa permisi, lalu pergi tanpa pamit.

Apa maksudmu, Tuan?
Datang kepadaku seolah-olah aku ini rumahmu.
Bukannya memperlakukan hatiku dengan lemah lembut, menjaga hati seperti rumah yang seharusnya.
Kau malah mematahkan hatiku, patah sepatah-patahnya. Membiarkannya berantakan, hingga hancur berkeping-keping, yang sulit untuk utuh kembali.
Setelah itu, kau pergi mencari rumah selanjutnya untuk kau patahkan lagi hatinya.
Sopankah kau, Tuan?

Baiklah … pergi saja, pergi yang jauh, Tuan!
Hingga ditelan bumi.
Soal rumahku yang kau biarkan berantakan, biar aku sendiri yang menata kembali dengan hati yang penuh lara, dengan tangan berdarah akibat kepingan hati yang pecah.
Aku tak apa, meski aku menginginkan asmaraloka yang begitu indah.
Akan kurasakan setiap sakit,dan setiap proses penyembuhannya. Agar aku ingat dan tak akan membiarkan orang lain merusak kembali rumahku.
Aku akan bersorai tentang semua ini.
Tentang bagaimana kejamnya dikau, Tuan!

=====

Hallo, aku Siti Aisyah kelas XII Agama. Lahir di Probolinggo 05 November 2005.
“Ini hanya sekedar aksara tidak tulus dari dalam jiwa, karna ada yang mengatakan bahwa aksara tak selalu mengandung makna”.
Bisa kunjungi lewat IG: @suarajiwaa_
Terima kasih.