Melukai Untuk Menghadirkan Bahagianya ~ Nilam Juliana Putri

Spread the love
Butuh waktu 3 menit untuk membaca tulisan ini

Kisah ini tentang Nara, gadis yang harus tega menghancurkan kebahagiaan demi menghadirkan bahagia kekasih yang dicintainya.

“Kuharap kau tak menyesal melepaskannya?” Kalimat yang membuat Nara terkejut, sekaligus menyiramkan cuka di atas perihnya luka hati yang kini ia rasakan.

=====

Setahun lalu:

Nara divonis penyakit Kanker hati. Ketika dia mendapatkan kabar itu, Nara merasa sangat frustasi kenapa tuhan selalu mengujinya seperti ini. Pertama dia harus kehilangan kedua orang tuanya, dan kini harus menghadapi kenyataan bahwa dia sedang sakit parah.

“Kenapa Tuhan? Kenapa harus aku? Apa salahku sampai kau terus mengujiku seperti ini?” ucap Nara sambil terus menangis di sepanjang jalan pulang.

Sesampainya di rumah, Nara langsung pergi kekamar untuk istirahat karna besok dia akan bertemu dengan kekasihnya Nathan, “Apakah aku harus memberi tahu tentang penyakitku? Tapi aku tidak ingin dia merasa sedih karna penyakitku ini …” gumamnya pada diri sendiri.

Sepanjang malam ia dilanda kebingungan, terus berpikir tentang hal yang harusnya ia lakukan. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk pergi saja dari kehidupan Nathan.

=====

Keesokan harinya, Nathan menunggu Nara di salah satu danau di tengah taman kota. Rencananya dia akan melamar Nara hari ini.

“Hah … mana sih dia? Kok lama banget nyampenya.” Nathan merasa sangat gelisah.

Sudah satu jam Nathan mondar-mandir menunggu gadis pujaan hatinya, namun tak ada tanda-tanda Nara muncul sama sekali di danau tempat mereka berjanji untuk bertemu. Tiba-tiba ketika dia membalikkan badan, terlihat sosok yang sedari tadi dia harap.

“Kamu kok lama banget sih? Aku nunggu dari tadi loh,’ ujar Nathan dengan raut wajah yang terlihat lega.

“Maaf, tadi aku ada urusan mendadak.” Nara menjelaskan singkat dan dibalas anggukan oleh Nathan.

Mereka pun mengambil posisi duduk di kursi taman dekat danau, dan mengobrolkan beberapa hal ringan. Tanpa disangka, tiba-tiba Nathan berdiri dan mengambil posisi berlutut di hadapan Nara.

“Carissa Nara Kurniawan, maukah engkau menikah denganku?” ucap Nathan sambil menatap lurus ke mata Nara, berharap gadis di depannya bersedia menerima lamarannya.

Mendapati perlakuan romantis dari kekasihnya, Nara diam terpaku. Hanya ada tatapan sendu dari dua mata Nara yang memandang lekat-lekat pria di hadapannya,

“Ma-maafkan aku, Than. Aku nggak bisa …” tukas Nara yang langsung berdiri dan bergegas meninggalkan Nathan yang terlihat mematung.

“Ta-tapi kenapa, Ra. Bukannya kita saling mencintai?” Nathan mulai buka suara, berusaha meminta penjelasan Nara yang terlihat mulai berjalan pergi.

“Sekali lagi aku minta maaf udah nyakitin kamu.” Nara berbalik sebentar ke arah Nathan, dan kembali mempercepat langkahnya ke arah mobil hitam yang telah terparkir rapi di pinggir jalan.

Nathan yang masih tak terima, berusaha mengejar dan menghentikan Nara. Namun usahanya sia-sia. Dia berusaha menggapai Nara, tapi hanya udara hampa yang bisa dia rengkuh. Nara telah berada di dalam mobil hitam yang langsung membawanya pergi.

=====

Nara yang kini telah duduk di dalam mobil, sebenarnya juga sangat terpukul. Dia menangis sejadi-jadinya. Impian bersanding dengan pria idaman hatinya, terpaksa ia kubur dalam-dalam. Bukan karena dia tak mau, tapi tak bisa.

“Kamu yakin dengan keputusanmu ini?” ucap seorang berjaket hitam di balik kemudi yang menemani Nara.

“Iya … aku yakin! Dia tidak boleh tahu tentang keadaanku ini,” balas Nara yang terdengar masih sesenggukan.

Pria berjaket hitam itu pun hanya mengangguk, dan kembali fokus ke jalan. Sementara Nara, terlihat membuka jendela di sampingnya, berusaha menghirup udara bebas untuk menenangkan hati, “Kuharap kau menemukan seorang gadis yang lebih baik dari diriku,” gumam Nara dalam hati.

=====

Kembali ke hari ini:.

Selama satu tahun Nathan mencoba untuk melupakan Nara,tapi hingga saat ini semua itu sia-sia. Bahkan di hari pernikahannya bayang Nara masih saja bercokol di hati Nathan, perempuan yang menjadi cinta pertamanya.

Meskipun begitu, Nathan tak lantas terus meratapi takdir. Di hari ini, dia akan membuka lembaran baru bersama Alana Natasya Pratama, putri dari sahabat ayahnya. Terlihat Nathan duduk dengan gugup ditemani penghulu yang akan menikahkannya, menunggu sang calon mempelai perempuan.

Tak lama, dari salah satu pintu utama sosok Alana muncul dengan begitu anggun dan berhasil mencuri perhatian semua pasang mata di tempat itu, tak terkecuali Nara. Ya, Nara yang dulunya menjadi kekasih Nathan memutuskan datang karena diundang langsung oleh kedua mempelai.

Di hari ini, Nara menyaksikan secara langsung pria yang begitu ia cintai menyatukan komitmen sehidup semati, namun nukan dengannya tapi dengan wanita lain. Hatinya memang hancur dan terasa begitu sakit, namun di sisi lain hati kecilnya turut bahagia melihat pria yang dicintainya telah menemukan kebahagiaannya yang baru.

“Kuharap kau tak menyesal melepaskannya?” bisik pria di samping Nara. Pria berjaket hitam yang juga menemani Nara setahun lalu, ketika Nara memutuskan pergi dari Nathan. Dia adalah Alvaro, dokter yang merawat Nara selama ini.

“Aku sama sekali nggak nyesal dengan semua ini, aku dan dia mungkin tak ditadirkan untuk berjodoh,” geleng Nara yang terlihat mulai berkaca-kaca, namun tetap berusaha tersenyum tegar.

“Terkadang kita harus mengikhlaskan orang yang kita cintai. Bukan bermaksud untuk berhenti mencintainya, tetapi lebih penting menyadari bahwa kebahagiaannya di atas segala -galanya, meskipun pada akhirnya kebahagiaannya tidak bersama kita”.

=====

Assalamu alaikum, Perkenalkan nama saya Nilam Juliana Putri, bisa dipanggil Nilam. Saya kelahiran Juli 2007, dan tinggal di Desa Tanjung. Anak pertama dari dua bersaudara, hobi membaca dan menyanyi. Cita-cita saya ingin menjadi pramugari. Impian terbesar saya ingin bertemu dengan Kim Taehyung, seorang artis Korea Selatan yang berasal dari boyband BTS.
Sekian perkenalan dari saya, wassalamu alaikum.