Keutamaan Bulan Muharram & Dalilnya ~ Muhammad Bagas Rizky Pratama

Butuh waktu 3 menit untuk membaca tulisan ini

Mengawali lembaran baru di tahun 1444 H, banyak keutamaan yang dapat diperoleh selama bulan Muharram ini. Berikut beberapa dalil terkait hal tersebut:
1. Termasuk 4 bulan haram (mulia)
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit & bumi, (dan) di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yg empat itu” (QS. At-Taubah [9]: 36)
Bulan Muharram termasuk bagian dari bulan-bulan yg haram (mulia) yaitu bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram serta Rajab, dimana kaum muslimin dilarang untuk memulai peperangan

2. Dilipatgandakan pahala amal-amal shalih seperti shalat, bersedekah, baca al-Qur’an, berpuasa, berdzikir dll
Ibnu ’Abbas رضي الله عنهما berkata :
“Allah mengkhususkannya pada 4 bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan mulia, melakukan maksiat pada bulan itu dosanya akan lebih besar dan amal-amal shalih yang dilakukan (di bulan itu) akan menuai pahala yang lebih banyak” (Lathaa-iful Ma’aarif hal 207)

3. Muharram merupakan bulan terbaik setelah bulan Ramadhan
Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata :
“Sesungguhnya Allah membuka awal tahun dengan bulan haram (Muharram) & telah menjadikan akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Lalu tidak ada bulan di dalam setahun, setelah bulan Ramadhan, yang lebih mulia di sisi Allah dari pada bulan Muharram. Dahulu bulan ini telah dinamakan Syahrullah Al-Asham (bulan Allah yang sunyi), karena sangat mulianya bulan ini” (Lathaa-iful Ma’aarif hal 34)

4. Puasa sunnah di bulan Muharram adalah sebaik-baik puasa setelah puasa di bulan Ramadhan
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda :
أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم
“Sebaik-baik puasa (sunnah) setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu al-Muharram” (HR. Muslim no. 1163, hadits dari Abu Hurairah)

5. Bulan Muharram telah dinamakan Syahrullah (bulannya Allah)
Bulan Muharram disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah) untuk menunjukkan keistimewaan di bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tdk menyandarkan bulan lain pada Allah kecuali bulan Muharram saja.

6. Puasa ‘Asyuro’ (pada 10 Muharram) menghapuskan dosa setahun yang lalu
Abu Qatadah al-Anshari berkata :
“Nabi ﷺ ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah ?” Maka beliau menjawab : “Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan juga setahun yang akan datang”. Dan beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyuro’ ? Maka beliau menjawab : “Puasa ’Asyuro’ akan menghapuskan dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim no. 1162)
Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata :
“Ketika Rasulullah berpuasa ‘Asyuro’ (10 Muharram) dan memerintahkannya, para sahabat berkata : “Wahai Rasulullah, ini adalah hari yang telah diagungkan kaum Yahudi dan Nashrani. Lantas Rasulullah ﷺ pun bersabda : “Di tahun depan insya Allah kita akan berpuasa pada tanggal 9 (juga)”. Ibnu Abbas berkata : “Sebelum tiba tahun depan ternyata Rasulullah ﷺ wafat” (HR. Muslim no. 1134)
Imam az-Zuhri pernah safar, dan beliau berpuasa ‘Asyuro’, maka beliau ditanya :
“Mengapa engkau berpuasa, padahal engkau itu berbuka (tidak berpuasa) di bulan Ramadhan ketika safar ?” Maka beliau pun menjawab : “Sesungguhnya Ramadhan itu ada hari-hari lain (untuk qadha puasa), sedangkan ‘Asyuro’ tidak ada (hari lain untuk qadha puasa)” (Siyar A’laamin Nubalaa’ V/342)
Begitu ditekankannya puasa Asyura di masa itu sampai anak kecil pun juga dilatih untuk berpuasa
عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ قَالَتْ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ الَّتِى حَوْلَ الْمَدِينَةِ : مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ
Dari ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz bin ‘Afraa’ ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengutus (seseorang) pada pagi hari Asyuraa’ menuju perkampungan Anshar yang berada di sekitar Madinah (agar mengumumkan): Barangsiapa yang pagi ini berpuasa, hendaknya ia sempurnakan puasanya. Barangsiapa yang pagi ini tidak berpuasa, hendaknya ia berpuasa untuk sisa hari ini. Kami setelah itu berpuasa dan membuat anak-anak kecil kami berpuasa InsyaAllah dan kami pergi ke masjid membuatkan mainan dari bulu untuk mereka. Ketika mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan itu hingga masa berbuka tiba.(H.R Muslim)

7. Tanggal 10 Muharram adalah hari dimana diselamatkannya Nabi Musa & kaumnya dari kezhaliman Fir’aun
Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata :
“Ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari ‘Asyuro’. Beliau bertanya : “Hari apa ini ?” Mereka menjawab : “Hari yang baik, hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, sehingga Musa berpuasa”. Lalu Nabi ﷺ bersabda : “Aku lebih layak menghormati Musa daripada kalian”. Kemudian Nabi ﷺ pun berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa” (HR. Bukhari no. 4680 dan Muslim no. 1130)

Referensi:
• Channel Telegram ustadz Najmi Umar Bakkar
• Website Ma’had Al-I’tisham, ditulis oleh ustadz Abu Utsman Kharisman

Muhammad Bagas Rizky Pratama, biasa dipanggil Bagas. Siswa jurusan keagamaan, MAN 2 Probolinggo. Lahir di Probolinggo pada tanggal 16 Maret 2006, dan sekarang berusia 16 tahun. Bertempat tinggal di Desa Sukokerto, Kec. Pajarakan, Kab. Probolinggo.