Keluarga ~ Muhammad Syaiful

Spread the love
Butuh waktu 26 menit untuk membaca tulisan ini

Pada zaman dahulu, ada sebuah kerajaan yang makmur dan sejahtera di bawah pemerintahan Prabu Jaya Minggat. Prabu Jaya Minggat adalah seorang raja yang bijaksana dan adil. Ia sangat dicintai oleh rakyatnya. Prabu Jaya Minggat memiliki seorang istri yang cantik dan baik hati bernama Permaisuri Saraswani. Mereka berdua sangat bahagia karena telah dikaruniai seorang putra yang tampan dan cerdas bernama Pangeran Jaka Sara. Pangeran Jaka Sara adalah putra mahkota kerajaan yang menjadi harapan dan kebanggaan orang tuanya.

Suatu hari, ketika Pangeran Jaka Sara baru saja genap berusia delapan tahun, Prabu Jaya Minggat dan Permaisuri Saraswani ingin merayakan ulang tahun putra mereka dengan cara yang istimewa. Mereka berencana untuk mengadakan pesta besar-besaran di istana dan mengundang seluruh rakyat kerajaan. Selain itu, Prabu Jaya Minggat juga ingin mengajak Pangeran Jaka Sara untuk berburu di hutan sebagai bagian dari pendidikan dan pengalaman sang putra.

“Bagaimana kalau besok kita mengadakan pesta ulang tahun untuk Pangeran Jaka Sara, Baginda? Kita bisa mengundang seluruh rakyat kerajaan untuk ikut merayakan hari bahagia ini. Pasti Pangeran Jaka Sara akan senang sekali.” Ucap Permaisuri Saraswani dengan penuh semangat.

“Baiklah, istriku. Aku setuju dengan usulanmu. Kita akan mengadakan pesta ulang tahun yang meriah untuk putra kita tersayang. Aku juga ingin mengajaknya untuk berburu di hutan besok pagi. Aku yakin dia akan menyukai petualangan itu.” Jawab Prabu Jaya Minggat dengan senyum bangga.

“Tapi Baginda, apakah tidak terlalu berbahaya untuk membawa Pangeran Jaka Sara ke hutan? Di sana banyak binatang buas dan perampok yang bisa membahayakan nyawa kita.” Tanya Permaisuri Saraswani dengan raut wajah yang khawatir.

“Tenang saja, istriku. Aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada putra kita. Aku akan membawa para prajurit terbaik kerajaan untuk menjaga keamanan kita. Kita juga tidak akan pergi terlalu jauh dari istana. Percayalah padaku, ini akan menjadi pengalaman yang berharga bagi Pangeran Jaka Sara.” Ucap Prabu Jaya Minggat dengan meyakinkan.

“Baiklah, Baginda. Aku percaya padamu. Semoga Tuhan melindungi kita semua.” Ucap Permaisuri Saraswani dengan pasrah.

Keesokan harinya, segala persiapan untuk pesta ulang tahun dan perburuan telah selesai dilakukan. Prabu Jaya Minggat dan Pangeran Jaka Sara bersiap-siap untuk berangkat ke hutan bersama para prajurit. Mereka berpamitan kepada Permaisuri Saraswani yang menunggu di pintu gerbang istana.

“Istriku, kami izin untuk pergi ke hutan sebentar. Kami akan kembali sebelum pesta dimulai.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil mencium tangan Permaisuri Saraswani.

“Hati-hati di jalan, Baginda. Jagalah dirimu dan putra kita baik-baik.” Ucap Permaisuri Saraswani sambil memeluk Prabu Jaya Minggat dan Pangeran Jaka Sara.

“Bunda, aku berangkat dulu ya. Aku akan membawa hadiah untukmu dari hutan.” Ucap Pangeran Jaka Sara dengan riang sambil mencium pipi Permaisuri Saraswani.

“Iya, putraku yang tampan, hati-hati ya! Jangan jauh-jauh dari ayahmu ketika berada di hutan nanti!” Peringat Permaisuri Saraswani sambil membelai rambut Pangeran Jaka Sara.

“Iya, Bunda. Aku tak akan jauh-jauh dari ayah kok. Bunda tak perlu khawatir tentang diriku. Aku akan menjaga diriku baik-baik. Lagipula aku kan kuat! Nanti aku akan bawakan khusus satu ekor harimau untuk Bunda, janji!” Ucap Pangeran Jaka Sara sembari tersenyum lebar.

“Ya sudah, putraku. Prajurit! Prajurit!” Panggil Permaisuri Saraswani sedikit meninggikan suaranya.

“Siap, Permaisuri!” Jawab salah satu prajurit yang menghampirinya.

“Aku minta tolong untuk jaga putraku! Jangan sampai dia kenapa-napa, karena dia adalah calon putra mahkota kerajaan ini dan tolong jaga dia dengan baik!” Perintah Permaisuri Saraswani dengan tegas dan khawatir. Mendengar perintah itu, para prajurit mengangguk patuh dan hormat kepada Permaisuri Saraswani.

“Siap, Permaisuri! Kami akan menjaganya dengan baik sekuat tenaga kami.” Ucap mereka serentak dengan tegas.

“Baiklah, aku serahkan semua kepadamu.” Ucap Permaisuri Saraswani sambil menyerahkan Pangeran Jaka Sara kepada salah satu prajurit.

“Siap laksanakan! Mari, Baginda Pangeran, ikut saya. Biar saya antarkan!” Ucap prajurit itu sambil menggendong Pangeran Jaka Sara ke atas kudanya.

Setelah berpamitan, mereka pun pergi berburu ke hutan bersama Prabu Jaya Minggat dan para prajurit lainnya. Di tengah perjalanan, Pangeran Jaka Sara melihat seekor rusa yang sedang memakan rumput di pinggir jalan. Ia segera menunjuk rusa itu dan memberitahukan kepada ayahnya. Prabu Jaya Minggat tersenyum melihat antusiasme putranya. Ia lalu mengajari cara memanah yang benar kepada putranya.

“Ayah! Coba lihat itu di sana ada rusa yang sedang memakan rumput!” Tunjuk Pangeran Jaka Sara sambil menunjuk rusa itu dengan jarinya.

“Oh, iya. Itu dia rusanya. Sini, Ayah ajarkan cara memanah dengan cara yang benar. Jadi begini caranya, putraku. Kamu pegang panah bagian tengah dan tarik talinya. Bidik rusanya ke arah bagian tengah badan si rusanya, anakku. Lalu lepaskan anak panahnya sesuai dengan bidikan yang telah engkau tujukan.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil memberikan panah dan busur kepada Pangeran Jaka Sara.

“Baik, Ayah. Aku akan mencobanya.” Ucap Pangeran Jaka Sara sambil mencoba membidik rusa itu dengan panahnya.

“Sebentar, anakku. Tahan bidikanmu. Tunggu rusanya tidak bergerak terlebih dahulu.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil mengawasi Pangeran Jaka Sara.

“Nah, sekarang sudah tidak bergerak. Waktunya melepaskan anak panahmu.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil memberi isyarat kepada Pangeran Jaka Sara.

Pangeran Jaka Sara pun melepaskan anak panahnya dengan cepat dan tepat. Anak panah itu mengenai rusa itu di bagian tengah badannya. Rusa itu terjatuh dan sekarat di tanah. Pangeran Jaka Sara bersorak gembira melihat hasil bidikannya.

“Yes! Ternyata hasil bidikanku mengenai sasaran, Ayah!” Ucap Pangeran Jaka Sara sambil melompat-lompat kegirangan.

“Putraku ternyata sangatlah hebat.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil memeluk Pangeran Jaka Sara dengan bangga.

“Tentu dong, Aku kan putra Ayah.” Ucap Pangeran Jaka Sara sambil tersenyum manis.

“Bagus sekali, putraku. Ayah sangat bangga padamu. Prajurit! Segera hampiri rusa hasil buruan Pangeran dan bawa ke istana!” Perintah Prabu Jaya Minggat kepada para prajurit yang mengawal mereka.

“Siap laksanakan, Baginda!” Jawab para prajurit serentak sambil menghampiri rusa yang tergeletak di tanah.

Namun, tiba-tiba dari semak-semak muncul sekelompok orang yang berpakaian liar dan membawa senjata tajam seperti tombak dan parang. Mereka adalah pasukan musuh yang ingin menyerang kerajaan Prabu Jaya Minggat. Mereka telah mengetahui rencana Prabu Jaya Minggat untuk berburu di hutan dan mereka telah menyiapkan perangkap untuk membunuhnya dan menculik Pangeran Jaka Sara.

“Jangan bergerak!” Teriak salah satu pasukan musuh sambil menghunus parangnya dan mengancam Pangeran Jaka Sara.

“Hiyaaa!” Teriak salah satu pasukan musuh lainnya sambil menyerang Prabu Jaya Minggat dengan tombaknya.

“Hwaaa!” Teriak Prabu Jaya Minggat sambil menangkis serangan pasukan musuh dengan pedangnya.

“Prajurit! Tolong bantu Ayahku!” Teriak Pangeran Jaka Sara sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pasukan musuh yang menyanderanya.

“Prajurit! Segera bantu Baginda! Serang!” Perintah salah satu prajurit yang melihat keadaan itu.

Para prajurit pun segera beraksi untuk membantu Prabu Jaya Minggat dan menyelamatkan Pangeran Jaka Sara. Mereka beradu senjata dengan pasukan musuh yang jumlahnya lebih banyak. Pertempuran sengit pun terjadi di tengah hutan. Di tengah kekacauan itu, salah satu pasukan musuh berhasil menyelinap dan membawa Pangeran Jaka Sara pergi dari tempat peperangan. Ia berlari menuju tempat persembunyiannya yang jauh dari istana. Ia berencana untuk mengancam Prabu Jaya Minggat dengan tawanan putranya.

“Huhhh, ternyata di sekitar hutan ini masih terdapat pasukan musuh. Siapa gerangan yang berani menyerang kita?” Gumam Prabu Jaya Minggat sambil mengusap keringat di dahinya.

“Lapor, Baginda. Pangeran tidak ada di tempatnya. Kami tidak tahu kemana dia pergi.” Ucap salah satu prajurit yang mendekati Prabu Jaya Minggat dengan wajah pucat.

“Apa? Yang benar saja kamu! Bagaimana bisa kalian kehilangan Pangeran? Bukankah kalian bertugas untuk menjaganya?” Bentak Prabu Jaya Minggat dengan marah dan bingung.

“Iya, Baginda. Kami mohon maaf atas kelalaian kami. Kami tidak menyadari bahwa ada pasukan musuh yang menyelinap dan menculik Pangeran saat kami sibuk melawan pasukan musuh lainnya.” Ucap prajurit itu sambil menunduk malu.

“Tidak mungkin! Pasti Pangeran bersembunyi di sekitar sini. Coba cari kembali! Jangan sampai kalian kembali tanpa membawa Pangeran!” Perintah Prabu Jaya Minggat dengan tegas dan sedih.

“Siap laksanakan, Baginda! Ayo, cepat mencari Pangeran!” Ucap prajurit itu sambil berbicara dengan prajurit lainnya.

Para prajurit pun bergegas untuk mencari Pangeran Jaka Sara di sekitar hutan. Mereka memanggil-manggil nama Pangeran dengan harapan mendapatkan jawaban dari putra mahkota itu.

Prabu Jaya Minggat menghela napas panjang. Ia merasa bersalah dan sedih karena telah kehilangan putranya yang sangat dicintainya. Ia menyesal telah membawa Pangeran Jaka Sara ke hutan tanpa memperhatikan bahaya yang mengancam mereka. Ia tidak menyangka bahwa di sekitar hutan itu masih terdapat pasukan musuh yang ingin menghancurkan kerajaannya.

“Pangeran! Pangeran! Keluarlah, Pangeran! Para pasukan musuh telah pergi!” Teriak salah satu prajurit dengan keras.

“Benar, Pangeran! Pasukan musuh telah pergi! Kami akan membawamu kembali ke istana!” Teriak prajurit lainnya dengan penuh harap.

Namun, setelah mereka memanggil-manggil Pangeran berulang kali, tidak ada jawaban sama sekali dari Pangeran Jaka Sara. Tanpa mereka sadari, hari pun mulai gelap dan prabu pun mulai putus asa. Kemudian Prabu Jaya Minggat memutuskan untuk kembali ke kerajaan sementara waktu dan melanjutkan pencarian besok pagi.

“Lapor, Baginda. Sepertinya Pangeran diculik oleh pasukan musuh. Kami tidak menemukan jejak atau tanda-tanda keberadaannya di sekitar hutan.” Ucap salah satu prajurit dengan suara lirih.

“Ya sudah, kita lanjutkan besok pagi saja. Sekarang hari mulai gelap. Sebaiknya kita kembali ke kerajaan dulu. Siapa tahu ada kabar baik dari sana.” Ucap Prabu Jaya Minggat dengan nada pasrah dan berat.

“Siap laksanakan, Baginda.” Ucap para prajurit serentak sambil mengikuti Prabu Jaya Minggat menuju istana.

Kemudian sesampainya di kerajaan, Prabu Jaya Minggat disambut oleh Permaisuri Saraswani yang menunggu di pintu gerbang istana. Permaisuri Saraswani sangat senang melihat suaminya kembali dengan selamat. Namun, ia segera merasa heran dan khawatir karena tidak melihat Pangeran Jaka Sara bersama suaminya.

“Selamat datang kembali, Baginda. Apa kabar perburuanmu?” Tanya Permaisuri Saraswani sambil menyambut Prabu Jaya Minggat dengan hangat.

“Terima kasih, istriku. Perburuan kami berjalan lancar. Kami berhasil mendapatkan beberapa ekor rusa dan babi hutan.” Jawab Prabu Jaya Minggat sambil tersenyum tipis.

“Lalu, mana Pangeran Jaka Sara? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia mendapatkan hasil buruan yang bagus?” Tanya Permaisuri Saraswani dengan nada panik sambil mencari-cari Pangeran Jaka Sara di antara para prajurit.

“Maafkan aku, istriku. Putra kita diculik oleh para pasukan suku musuh tadi. Kami sempat diserang oleh mereka di tengah hutan. Tanpa kami sadari, ternyata Pangeran disandera dan dibawa pergi oleh suku musuh itu.” Ucap Prabu Jaya Minggat dengan nada sedih dan bersalah.

“Apa? Tidak mungkin! Apakah kalian tidak mencari Pangeran terlebih dahulu? Prajurit! Prajurit!” Teriak Permaisuri Saraswani sambil memanggil para prajurit yang mengawal Prabu Jaya Minggat.

“Siap, Permaisuri! Ada apa, Permaisuri?” Jawab salah satu prajurit yang mendekati Permaisuri Saraswani.

“Bagaimana tanggung jawabmu terhadap Pangeran? Yang telah aku serahkan kepadamu! Kau harus menjaganya dengan baik! Kau harus membawanya kembali ke istana!” Bentak Permaisuri Saraswani dengan marah dan kecewa kepada para prajurit.

“Maaf, Permaisuri. Kami telah lalai dalam menjaga Pangeran. Kami tidak menyadari bahwa ada pasukan musuh yang menyelinap dan menculik Pangeran saat kami sibuk melawan pasukan musuh lainnya.” Ucap prajurit itu sambil menunduk malu.

“Sudahlah, istriku. Ini salahku karena keteledoranku yang telah menyuruh para pasukan mengambil hasil buruan yang telah didapatkan sehingga sang Pangeran tidak ada yang menjaganya.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil memeluk Permaisuri Saraswani yang menangis.

“Tidak mungkin! Aku masih tidak percaya dengan apa yang Baginda katakan! Dimana putra kita sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia dalam bahaya?” Ucap Permaisuri Saraswani sambil mondar-mandir kebingungan.

“Sudahlah, istriku. Terimalah saja. Biarkanlah pasukan kita yang mencarinya besok. Kau harus tenangkan pikiranmu terlebih dahulu. Ayo masuk ke dalam ruangan.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil mengajak Permaisuri Saraswani masuk ke dalam istana.

Di sisi lain, para pasukan suku musuh sedang berada di perjalanan menuju tempat kumpulnya para suku musuh di alas. Di tengah perjalanan, mereka merasa lelah dan haus. Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di pinggir sungai. Mereka meletakkan Pangeran Jaka Sara yang masih terikat di bawah pohon. Mereka tidak menyadari bahwa ikatan Pangeran Jaka Sara sudah longgar dan bisa dilepaskan.

“Pimpinan, perjalanan menuju ke alas masih lama. Sedangkan kami sudah merasa capek dan haus. Bagaimana kalau kita istirahat sebentar di sini?” Ucap salah satu pasukan suku musuh kepada pemimpinnya.

“Iya, benar. Kita tiduran di sini saja. Hari pun mulai gelap. Kita lanjutkan besok pagi.” Ucap pemimpin pasukan suku musuh.

“Baiklah. Pangeran kita tinggalkan di sini saja. Dia pasti tidak akan bisa melarikan diri dari ikatan kita.” Ucap pasukan suku musuh lainnya sambil mendudukkan Pangeran Jaka Sara di bawah pohon.

Pasukan suku musuh pun tidur pulas di sekitar Pangeran Jaka Sara tanpa mengawasinya. Mereka tidak menyadari bahwa Pangeran Jaka Sara telah berhasil melepaskan ikatan tangannya dengan menggosok-gosokkan tali itu ke batang pohon.

“Ini kesempatanku. Keadaan sudah mulai aman. Waktunya melepaskan ikatan ini.” Gumam Pangeran Jaka Sara sambil berbicara dalam hati.

Pangeran Jaka Sara pun melepaskan ikatan kakinya dan pelan-pelan melarikan diri dari pasukan suku musuh hingga jauh dari mereka. Ia berlari secepat mungkin tanpa tahu arah jalan kembali ke istana. Ia hanya berharap bisa bertemu dengan ayahnya atau para prajurit yang mencarinya.

Pangeran Jaka Sara terus berlari hingga ia menemukan sebuah pohon besar yang rindang dan teduh. Ia merasa lelah dan haus setelah berlari sejauh itu. Ia pun bersembunyi di bawah pohon itu dan mencoba untuk beristirahat sejenak.

“Waduh, harus cepat lari dari pasukan suku musuh. Aku tidak mau ditangkap lagi oleh mereka.” Ucap Pangeran Jaka Sara sambil berlari hingga bersembunyi.

“Sepertinya di sini sudah cukup aman dari pasukan suku musuh. Aku mending diam di sini saja. Huhh, tapi di sini gelap dan sepi. Aku jadi takut. Bunda… Bunda… Aku rindu Bunda…” Ucap Pangeran Jaka Sara sambil menangis dan menutupi badannya dengan dedaunan.

Pangeran Jaka Sara pun tertidur di bawah pohon itu dengan perasaan sedih dan ketakutan. Ia bermimpi tentang ibunya yang selalu menyayangi dan menjaganya.

Keesokan harinya, para pasukan suku musuh pun terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa Pangeran Jaka Sara telah lari dari tempat mereka. Mereka pun panik dan marah karena gagal menjaga tawanan mereka.

“Cepat bangun! Pangeran telah kabur! Gimana ini? Kita harus bergegas mencarinya! Ayo!” Teriak pemimpin pasukan suku musuh sambil bangun terkejut dan membangunkan pasukan suku musuh lainnya.

“Haa… Ha… Yang benar saja! Mana Pangeran? Ayooo!” Teriak pasukan suku musuh lainnya dengan ekspresi linglung sambil bergegas mencari Pangeran Jaka Sara.

Setelah mengetahui bahwa Pangeran Jaka Sara telah lari, mereka bergegas mencarinya di sekitar hutan. Mereka berteriak-teriak memanggil nama Pangeran Jaka Sara dengan harapan menemukannya.

“Pangeran! Pangeran! Keluarlah, Pangeran! Kami tidak akan menyakitimu! Kami hanya ingin membawamu kembali ke alas!” Teriak salah satu pasukan suku musuh dengan keras.

“Benar, Pangeran! Kami tidak akan menyakitimu! Kami hanya ingin berbicara denganmu! Kami punya sesuatu yang penting untukmu!” Teriak pasukan suku musuh lainnya dengan penuh tipu.

Namun, Pangeran Jaka Sara tidak mendengar teriakan mereka. Ia masih tertidur di bawah pohon besar yang jauh dari tempat mereka. Di sisi lain, terdapat seorang kakek dan nenek yang sedang mencari kayu bakar di sekitar hutan. Mereka adalah pasangan petani yang tinggal di sebuah gubuk kecil di pinggir hutan. Mereka hidup sederhana dan damai tanpa mengganggu siapa pun.

“Nek, di mana ya kira-kira ada kayu bakar yang kering untuk kita masak nanti?” Tanya kakek sambil menggendong keranjang bambu di punggungnya.

“Oh, iya. Kemarin aku keliling hutan melihat banyak kayu kering di sekitar hutan bagian barat, Pak E.” Jawab nenek sambil membawa parang di tangannya.

“Apakah iya? Ya sudah kalau begitu, sebentar lagi kita pergi ke sana untuk mencari kayu bakar.” Ucap kakek sambil mengangguk.

“Iya, Pak E. Nanti lagi aku ikut buat mencari kayu bakar. Tapi sebentar ya, aku masih mau ambil tali untuk mengikat kayunya nanti.” Ucap nenek sambil masuk ke dalam gubuk untuk mengambil tali.

“Udah, ayo berangkat.” Ucap kakek sambil berjalan keluar dari gubuk.

“Ayo.” Ucap nenek sambil mengikuti kakek.

Mereka pun berjalan menuju hutan bagian barat dengan riang. Di tengah perjalanan, mereka melihat sesuatu yang aneh di bawah pohon besar. Mereka melihat seorang anak kecil yang tertidur dengan badan penuh dedaunan.

“Kakek, lihat itu! Ada apa di bawah pohon itu?” Tanya nenek sambil menunjuk ke arah pohon besar.

“Entahlah, Nek. Ayo kita lihat lebih dekat.” Jawab kakek sambil mendekati pohon besar.

Mereka pun terkejut ketika mereka melihat bahwa yang tertidur di bawah pohon itu adalah seorang anak kecil yang sangat tampan dan bersih. Mereka heran bagaimana anak kecil itu bisa berada di tengah hutan tanpa orang tua atau pengawal.

“Ya ampun! Ini anak kecil! Bagaimana dia bisa berada di sini? Siapa dia?” Ucap nenek dengan kaget dan kasihan.

“Aku tidak tahu, Nek. Mungkin dia tersesat atau terlantar di hutan ini. Kasihan sekali dia.” Ucap kakek dengan prihatin dan iba.

“Ayo kita bangunkan dia. Mungkin dia lapar atau haus.” Ucap nenek sambil menggoyangkan tubuh Pangeran Jaka Sara.

Pangeran Jaka Sara pun terbangun dari tidurnya. Ia merasa bingung dan takut ketika ia melihat dua orang tua yang tidak dikenalnya di depannya. Ia lalu berteriak ketakutan dan berusaha untuk lari dari mereka.

“Aaaah! Siapa kalian? Jangan dekati aku! Tolong! Tolong!” Teriak Pangeran Jaka Sara dengan ketakutan.

“Tenang, Nak. Kami tidak akan menyakitimu. Kami hanya ingin menolongmu.” Ucap kakek dengan lembut sambil mencoba menenangkan Pangeran Jaka Sara.

“Iya, Nak. Kami hanya ingin menolongmu. Kamu siapa? Bagaimana kamu bisa berada di sini?” Ucap nenek dengan ramah sambil mencoba mendekati Pangeran Jaka Sara.

Pangeran Jaka Sara masih merasa takut dan curiga kepada kakek dan nenek itu. Ia tidak tahu apakah mereka jujur atau berbohong. Ia tidak tahu apakah mereka teman atau musuh. Ia tidak tahu apakah mereka akan membantunya atau mengkhianatinya.

“Aku… Aku… Aku tidak tahu… Aku tersesat di hutan ini… Aku mencari ayahku… Aku ingin pulang…” Ucap Pangeran Jaka Sara dengan terbata-bata sambil menangis.

“Kasihan sekali kamu, Nak. Kamu pasti sangat rindu dengan ayahmu. Siapa ayahmu? Apa yang terjadi padamu?” Tanya nenek dengan penuh kasih sayang.

“Ayahku adalah Prabu Jaya Minggat, raja dari kerajaan ini. Aku diculik oleh pasukan suku musuh saat aku sedang berburu bersama ayahku di hutan. Mereka ingin membawaku ke alas untuk mengancam ayahku. Aku berhasil melarikan diri dari mereka dan bersembunyi di sini.” Cerita Pangeran Jaka Sara dengan sedih.

“Ya Tuhan! Kamu adalah putra mahkota kerajaan ini? Kamu adalah Pangeran Jaka Sara?” Ucap kakek dengan kaget dan takjub.

“Iya, aku adalah Pangeran Jaka Sara. Siapa kalian? Apa kalian juga pasukan suku musuh yang ingin menangkapku?” Tanya Pangeran Jaka Sara dengan curiga.

“Jangan takut, Nak. Kami bukan pasukan suku musuh. Kami adalah pasangan petani yang tinggal di sebuah gubuk kecil. Kami tidak ada hubungan apa-apa dengan suku musuh itu.” Ucap nenek dengan jujur.

“Iya, Nak. Kami hanya orang biasa yang hidup sederhana dan damai di pinggir hutan ini. Kami tidak pernah mengganggu siapa pun. Kami hanya ingin membantumu.” Ucap kakek dengan tulus.

“Maaf, Nek. Maaf, Kek. Aku kira kakek dan nenek pasukan suku musuh yang mau menculikku lagi.” Ucap Pangeran Jaka Sara dengan malu.

“Tidak apa-apa, Nak. Kami mengerti perasaanmu. Kamu pasti sangat ketakutan dan bingung.” Ucap nenek dengan pengertian.

“Jadi begitu ya ceritamu, Nak? Kalau begitu mending kamu ikut ke rumah kakek dan nenek untuk sembunyi dari pasukan suku musuh. Mungkin mereka masih mencarimu di hutan ini.” Ucap kakek dengan bijak.

“Benar kata kakek, Nak. Mending ikut dengan kami saja. Kami akan menjagamu sampai kamu bisa bertemu dengan ayahmu lagi.” Ucap nenek dengan baik hati.

Kemudian Pangeran Jaka Sara pun ikut bersama kakek dan nenek ke tempat tinggal mereka. Sesampainya di rumah, nenek langsung memberikan Pangeran Jaka Sara makan karena kelihatan kelaparan.

“Rumah kami di sini, Nak. Maaf jika rumah ini terlalu sederhana buatmu. Tetapi ini sudah cukup nyaman untuk kami.” Ucap nenek sambil membuka pintu gubuk.

“Iya, tidak apa-apa, Nek. Aku suka kok dengan rumahnya. Pemandangannya indah, asri, dan sejuk lagi.” Ucap Pangeran Jaka Sara sambil memasuki gubuk.

“Iya, mungkin di kerajaan keadaannya tidak begini, Nak. Tapi sudah gimana lagi. Kakek dan nenek hidupnya susah. Tidak seperti kamu yang kehidupannya terjamin.” Ucap kakek sambil mengikuti Pangeran Jaka Sara.

“Tidak juga, Kek. Hidupku di kerajaan tidak selalu merasakan bahagia juga, Kek. Padahal menurutku hidup kakek lebih tenang. Tidak ada gangguan sama sekali.” Ucap Pangeran Jaka Sara sambil duduk di lantai bambu.

“Tidak juga, Nak. Hidup kakek dan nenek tidak sama seperti yang dipikirkan kamu, Nak. Kakek dan nenek selalu berpikiran, jika sudah tua renta nanti siapa yang bakalan merawat kakek dan nenek. Kami tidak punya anak atau cucu yang bisa menemani kami.” Ucap nenek sambil merenung.

Pangeran Jaka Sara pun merasa iba mendengar cerita kakek dan nenek itu. Ia merasa bersyukur masih memiliki ayah dan ibu yang menyayangi dan menjaganya.

“Sudahlah, Nek. Mending buatkan teh dan makanan untuk Nak ini. Dia kelihatan sudah kelaparan.” Ucap kakek sambil mengalihkan pembicaraan.

“Iya, Pak E. Sebentar ya, Nak. Nenek ambilkan dahulu.” Ucap nenek sambil menuju ke dalam gubuk untuk mengambil makanan dan minuman.

“Sudahlah, Cu. Jangan dipikirkan yang barusan nenek katakan. Kamu harus tetap semangat dan berharap bisa bertemu dengan orang tuamu lagi.” Ucap kakek sambil menepuk bahu Pangeran Jaka Sara.

“Iya, Kek. Aku cuma memikirkan Bunda dan Ayah, Kek. Gimana keadaan mereka? Apakah mereka baik-baik saja? Apakah mereka mencariku?” Ucap Pangeran Jaka Sara dengan sedih.

“Sudah, Cu. Jangan dipikirkan. Nanti mungkin Ayah dan Bunda kamu bakalan mencarimu. Mereka pasti sangat sayang sama kamu.” Ucap kakek sambil tersenyum.

Kemudian setelah itu nenek datang dari dalam gubuk membawakan makanan dan minuman untuk Pangeran Jaka Sara. Ia membawakan nasi, sayur, ikan asin, dan teh hangat.

“Udah nih makan, Cu. Wah kok asik sekali sih? Lagi ngomongin apaan ya Pak E?” Tanya nenek sambil meletakkan makanan dan minuman di depan Pangeran Jaka Sara.

“Tidak ada, Buk E. Ini Pangeran sedang memikirkan orang tuanya katanya.” Jawab kakek sambil duduk di sebelah Pangeran Jaka Sara.

“Sudahlah, Cu. Jangan dipikirkan. Ini dimakan dulu. Biar kamu kuat dan sehat.” Ucap nenek sambil menyodorkan sendok ke tangan Pangeran Jaka Sara.

“Baiklah, Nek. Terima kasih, Nek.” Ucap Pangeran Jaka Sara sambil menerima sendok dari nenek.

“Sebentar lagi kamu langsung istirahat aja terlebih dahulu di dalam sana.” Ucap kakek sambil menunjuk ke dalam gubuk.

“Pasti kamu capek setelah berlari dari pasukan suku musuh. Sebentar lagi kakek dan nenek mau pergi ke kebun untuk memanen buah dan sayur.” Ucap nenek sambil membereskan makanan dan minuman yang sudah habis dimakan oleh Pangeran Jaka Sara.

“Tidak, Kek. Aku tidak merasakan capek kok, Kek. Aku boleh kan ikut dengan kakek dan nenek untuk memanen buah dan sayur tersebut?” Tanya Pangeran Jaka Sara dengan antusias.

“Tidak usah repot-repot sudah, Cu. Cukup di sini saja. Kamu harus istirahat biar cepat sembuh.” Ucap nenek dengan khawatir.

“Tidak, Nek. Aku mau ikut ke kebun. Aku ingin belajar banyak hal dari kakek dan nenek.” Ucap Pangeran Jaka Sara dengan gigih.

“Ya sudah kalau begitu. Sebentar lagi kakek bakalan ajarin cara memanen yang benar.” Ucap kakek dengan senang.

“Tapi jarak dari sini ke kebun lumayan jauh loh, Cu. Harus menaiki bukit terlebih dahulu.” Ucap nenek dengan mengingatkan.

“Tidak apa-apa kok, Nek. Aku siap menaiki bukit itu.” Ucap Pangeran Jaka Sara dengan bersemangat.

“Ya sudah nenek bersiap-siap terlebih dahulu.” Ucap nenek sambil masuk ke dalam gubuk untuk mengambil keranjang bambu dan parang.

Kemudian setelah mereka bersiap-siap untuk pergi ke kebun, mereka pun berangkat bersama-sama. Pangeran Jaka Sara menggendong keranjang bambu di punggungnya, sementara kakek dan nenek membawa parang di tangan mereka. Mereka berjalan menuju kebun dengan riang. Di tengah perjalanan, Pangeran Jaka Sara sedang asik menikmati udara yang segar dan menyanyi.

“Huh… Segarnya udara di sini…” Ucap Pangeran Jaka Sara sambil menghirup udara.

“Naik… Naik… Ke puncak gunung… Tinggi tinggi sekali… Kiri kanan ku lihat saja… Banyak pohon cemara…” Nyanyi Pangeran Jaka Sara dengan ceria.

“Tunggu, Cu. Jangan cepat-cepat, Cu. Tunggu kakek dan nenek.” Ucap nenek sambil berteriak dari belakang.

“Udah, Kek. Ayo cepetan. Jangan lama-lama. Aku udah tidak sabar untuk memanen buah dan sayur.” Ucap Pangeran Jaka Sara dengan bersemangat.

“Iya, Cu. Sabar sebentar lagi udah mau sampai, Cu.” Ucap kakek sambil berjalan menaiki bukit.

“Sudah sini, Cu. Takut nanti ada ular pas di jalan.” Ucap nenek sambil menggandeng tangan Pangeran Jaka Sara.

“Udahlah, Nek. Kek. Aku tidak takut kok cuma sekedar ular. Hewan buas pun aku bunuh kok, Kek.” Ucap Pangeran Jaka Sara dengan percaya diri.

“Udah, Cu. Itu dia kebunnya.” Ucap kakek sambil menunjuk ke arah kebun yang terlihat hijau dan subur.

Setelah sampai di kebun, kemudian kakek mengajari Pangeran Jaka Sara untuk memanen buah dan sayur tersebut. Ia menunjukkan cara memilih buah dan sayur yang matang dan segar, cara memotongnya dengan hati-hati, dan cara menyimpannya di dalam keranjang bambu. Pangeran Jaka Sara pun belajar dengan rajin dan antusias. Ia merasa senang bisa melakukan hal baru yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.

“Begini, Cu. Kamu lihat buah ini? Ini namanya mangga. Kamu harus pilih yang warnanya kuning atau merah. Itu tandanya sudah matang dan manis.” Ucap kakek sambil memetik sebuah mangga dari pohon.

“Oh, begitu ya, Kek. Lalu bagaimana cara memotongnya?” Tanya Pangeran Jaka Sara dengan penasaran.

“Kamu pakai parang ini. Kamu hati-hati ya, jangan sampai melukai tanganmu. Kamu potong tangkainya seperti ini.” Ucap kakek sambil menunjukkan cara memotong tangkai mangga dengan parang.

“Baiklah, Kek. Aku coba ya.” Ucap Pangeran Jaka Sara sambil mengambil parang dari tangan kakek.

Pangeran Jaka Sara pun mencoba memotong tangkai mangga dengan parang. Ia berhasil memotongnya dengan rapi dan tanpa cedera.

“Bagus, Cu. Kamu pintar sekali.” Puji kakek sambil tersenyum.

“Terima kasih, Kek.” Ucap Pangeran Jaka Sara sambil tersenyum balik.

“Lalu kamu masukkan buahnya ke dalam keranjang bambu ini. Kamu susun rapi ya, jangan sampai penyok atau busuk.” Ucap kakek sambil menunjukkan keranjang bambu yang sudah berisi beberapa buah mangga.

“Baiklah, Kek.” Ucap Pangeran Jaka Sara sambil memasukkan mangga yang telah dipotongnya ke dalam keranjang bambu.

Begitu seterusnya kakek mengajari Pangeran Jaka Sara untuk memanen buah dan sayur lainnya seperti pisang, pepaya, jeruk, bayam, kangkung, dan cabai. Mereka pun asik berbicara dan bercanda sambil bekerja. Mereka merasa akrab dan nyaman satu sama lain.

Di sisi lain, Prabu Jaya Minggat sedang berpamitan kepada Permaisuri Saraswani untuk mencari Pangeran Jaka Sara bersama para prajurit perkasanya. Ia sudah tidak tahan lagi menunggu kabar dari putranya yang hilang diculik oleh pasukan suku musuh. Ia ingin segera menemukan dan menyelamatkan putranya.

“Istriku, aku izin terlebih dahulu ya untuk pergi ke tempat pasukan suku musuh untuk menyelamatkan sang Pangeran, ya, Istriku.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil memeluk Permaisuri Saraswani.

“Ya sudah, Baginda. Hati-hati di jalan. Semoga Pangeran segera ditemukan.” Ucap Permaisuri Saraswani sambil melepaskan pelukan Prabu Jaya Minggat.

“Iya, Istriku. Aku berangkat terlebih dahulu, ya.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil beranjak dari pelukan Permaisuri Saraswani.

“Ya sudah, Baginda.” Ucap Permaisuri Saraswani sambil mengangguk.

Seusai berpamitan dengan Permaisuri Saraswani, Prabu Jaya Minggat pun langsung bergegas pergi ke hutan bersama para prajurit perkasanya. Ia membawa senjata dan perlengkapan perang yang lengkap. Ia bersumpah akan menghancurkan pasukan suku musuh yang telah menculik putranya.

“Kita sudah dekat dengan tempat tujuan berkumpulnya para pasukan suku musuh. Kalian harus bersiap-siap takutnya sebentar lagi ada penyergapan seperti kemarin. Coba kalian keliling di sekitaran hutan sini karena takut ada pasukan suku musuh yang sedang berkeliaran.” Perintah Prabu Jaya Minggat kepada para prajuritnya.

“Siap laksanakan, Baginda.” Jawab para prajurit dengan kompak.

Setelah para prajurit berkeliaran, salah satu dari prajurit kerajaan melihat para pasukan suku musuh yang juga sedang mencari Pangeran Jaka Sara. Ia segera melaporkan kepada Prabu Jaya Minggat. Prabu Jaya Minggat pun langsung menyergap para pasukan suku musuh. Akhirnya Prabu Jaya Minggat dan prajurit kerajaan perang dengan pasukan suku musuh.

“Lapor, Baginda. Saya menemukan para pasukan suku musuh berada di sekitaran sini.” Ucap prajurit itu sambil menunjuk ke arah pasukan suku musuh.

“Bagus. Kita serang mereka sekarang juga. Mungkin mereka tahu di mana Pangeran kita berada.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil menghunus pedangnya.

“Siap, Baginda.” Jawab para prajurit sambil mengikuti Prabu Jaya Minggat.

Mereka pun bergegas menuju ke tempat pasukan suku musuh. Mereka langsung menyerang dan langsung menangkap mereka. Mereka bertempur dengan sengit dan tanpa ampun.

“Bagaimana ini, Bro? Jika hasil penyergapan kita masih belum ditemukan.” Ucap salah satu pasukan suku musuh dengan cemas.

“Sudahlah, gausah banyak omong. Cepat cari Pangeran tersebut.” Ucap pemimpin pasukan suku musuh dengan marah.

“Tapi, Bro. Kita sudah mencari di mana-mana. Tapi Pangeran tidak ada jejaknya sama sekali.” Ucap pasukan suku musuh lainnya dengan putus asa.

“Jangan menyerah, Bro. Kita harus menemukan Pangeran sebelum Prabu Jaya Minggat datang. Kalau tidak, kita akan mati semua.” Ucap pemimpin pasukan suku musuh dengan tegas.

“Tapi, Bro…” Ucap pasukan suku musuh lainnya dengan ragu.

“Tidak ada tapi-tapian. Cari terus!” Bentak pemimpin pasukan suku musuh dengan keras.

Namun, sebelum mereka sempat mencari lagi, mereka sudah diserbu oleh Prabu Jaya Minggat dan para prajurit kerajaan. Mereka tidak siap menghadapi serangan mendadak itu. Mereka pun kewalahan dan kalah jumlah.

“Jangan bergerak!” Teriak salah satu prajurit kerajaan sambil mencekik leher salah satu pasukan suku musuh dengan pedangnya.

“Bertarunglah!” Teriak pemimpin pasukan suku musuh sambil melawan prajurit kerajaan yang menyerangnya.

Namun, ia tidak mampu mengimbangi kekuatan prajurit kerajaan yang lebih tangguh dan terlatih. Ia pun tertusuk pedang prajurit kerajaan di dadanya dan mati seketika.

“Cepat katakan! Kau bawa lari kemana Pangeran?” Tanya Prabu Jaya Minggat dengan galak sambil menodongkan pedangnya ke leher salah satu pasukan suku musuh yang masih hidup.

“Pangeran… Pangeran… Tadi malam sempat kabur… Dan sampai sekarang belum ditemukan…” Jawab pasukan suku musuh itu dengan ketakutan.

“Cepat katakan! Atau nasibmu sama dengan temanmu ini!” Ancam Prabu Jaya Minggat sambil menunjuk mayat pemimpin pasukan suku musuh yang sudah bersimbah darah.

“Saya tidak berbohong… Saya jujur dengan yang saya katakan… Kami tidak tahu di mana Pangeran berada…” Jawab pasukan suku musuh itu dengan gemetar.

“Halah, banyak omong! Cepat bunuh dia, Prajurit!” Perintah Prabu Jaya Minggat dengan dingin.

“Siap laksanakan, Baginda!” Jawab prajurit kerajaan yang memegang pedang itu sambil menusuk perut pasukan suku musuh itu hingga ia mengeluarkan darah dan mati.

“Sudah biarkan saja. Ayo segera pergi dan cari Pangeran!” Perintah Prabu Jaya Minggat kepada para prajuritnya.

“Siap laksanakan, Baginda!” Jawab para prajurit dengan kompak.

“Sebentar lagi kalian berdua berpencar ke kedua arah hutan. Kalian cari jejak Pangeran di sana. Jika kalian menemukannya, segera laporkan kepadaku.” Perintah Prabu Jaya Minggat kepada dua prajuritnya.

“Siap, Baginda!” Jawab kedua prajurit itu sambil menuju ke kanan dan ke kiri hutan.

Prabu Jaya Minggat dan para prajurit masih mencari Pangeran Jaka Sara di hutan. Mereka tidak menyerah meskipun sudah berbulan-bulan tidak ada kabar dari putranya. Mereka berharap Pangeran Jaka Sara masih hidup dan bisa kembali ke kerajaan.

Namun, sore pun tiba. Mereka harus pulang dengan rasa putus asa karena Pangeran Jaka Sara tidak ditemukan. Mereka merasa bersalah dan gagal melindungi putra mahkota kerajaan.

“Baginda, kita harus pulang sekarang. Sudah sore. Kita bisa melanjutkan pencarian besok.” Ucap salah satu prajurit dengan hormat.

“Ya sudah. Kita pulang sekarang.” Ucap Prabu Jaya Minggat dengan lesu.

“Baginda, jangan bersedih. Kita pasti akan menemukan Pangeran Jaka Sara. Kita tidak boleh menyerah.” Ucap prajurit lainnya dengan bersemangat.

“Terima kasih atas semangatmu. Tapi aku merasa tidak ada harapan lagi. Sudah dua tahun kita mencari Pangeran Jaka Sara. Tapi tidak ada jejaknya sama sekali.” Ucap Prabu Jaya Minggat dengan sedih.

“Baginda, jangan berbicara seperti itu. Kita harus tetap berharap dan berdoa. Mungkin Pangeran Jaka Sara masih hidup di suatu tempat yang kita tidak tahu.” Ucap prajurit lainnya dengan optimis.

“Mudah-mudahan kamu benar.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil menghela napas.

Mereka pun pulang ke kerajaan dengan hati yang berat.

Di sisi lain, Permaisuri Saraswani selalu memikirkan Pangeran Jaka Sara dengan keadaannya yang masih belum ditemukan. Ia selalu sering sakit-sakitan dan murung. Ia merasa sangat kehilangan seorang putra yang sangat dicintainya.

Suatu hari, ia sedang duduk-duduk di taman kerajaan sambil merenungi nasibnya. Ia merasa sangat sedih dan putus asa.

“Bagaimana dengan keadaan putra kita? Aku tidak sanggup jika hidup tanpa Pangeran begini, Baginda.” Ucap Permaisuri Saraswani sambil menangis.

Prabu Jaya Minggat yang baru saja pulang dari hutan mendengar tangisan istrinya. Ia segera mendekati istrinya dan memeluknya dengan erat.

“Sudahlah, Istriku. Engkau jangan bersedih terus menerus memikirkan Pangeran. Utamakan kesehatanmu terlebih dahulu. Pasti engkau belum makan kan?” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil mengusap air mata istrinya.

“Iya, Baginda. Aku tidak mau makan kalau Pangeran belum ditemukan. Daripada kehidupan Pangeran sengsara seperti itu, mending nyawaku saja yang Tuhan cabut. Aku tidak bisa hidup tenang jika seperti ini terus, Baginda.” Ucap Permaisuri Saraswani sambil menangis histeris.

“Husss… Tidak usah bicara seperti itu, Istriku. Aku yakin pasti Pangeran baik-baik saja di sana.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil mencoba menenangkan istrinya.

“Maksudnya Baginda di sana mana? Alam lain? Atau bagaimana?” Tanya Permaisuri Saraswani dengan bingung.

“Tenang, Istriku… Tenang… Aku yakin pasti Pangeran masih hidup. Mungkin ia berada di desa mana gitu, Istriku.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil berusaha memberi harapan.

“Aku takut Pangeran dimakan hewan buas, Baginda.” Ucap Permaisuri Saraswani sambil menggigil.

“Tidak mungkin, Istriku. Pangeran kita itu pintar dan tangguh. Ia pasti bisa bertahan hidup di hutan. Ia pasti bisa melindungi dirinya dari hewan buas.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil memuji putranya.

“Benarkah, Baginda?” Tanya Permaisuri Saraswani dengan harap-harap cemas.

“Benar, Istriku. Percayalah padaku. Aku akan terus mencari Pangeran sampai aku menemukannya. Aku akan mengumumkan kepada para warga, yang bisa menemukan Pangeran akan ku beri hadiah sebesar 100 juta dan akan memberikan emas sebanyak 3 karung dan akan menjamin kehidupannya.” Ucap Prabu Jaya Minggat dengan tegas.

“Benar ya, Baginda… Janji!” Ucap Permaisuri Saraswani sambil memandang mata Prabu Jaya Minggat.

“Janji, Istriku. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan membawa pulang Pangeran kita.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil mencium kening istrinya.

Kemudian Prabu Jaya Minggat menyuruh para prajurit untuk mengumumkan hal tersebut kepada seluruh warga dan kerajaan-kerajaan lain. Ia juga menyuruh mereka untuk mencari Pangeran Jaka Sara hingga ke pelosok-pelosok hutan.

“Para prajurit, aku punya perintah penting untuk kalian.” Ucap Prabu Jaya Minggat dengan serius.

“Siap mendengarkan, Baginda.” Jawab para prajurit dengan hormat.

“Aku menyuruh kalian untuk mengumumkan kepada seluruh warga dan kerajaan-kerajaan lain bahwa barang siapa yang menemukan Pangeran Jaka Sara akan mendapatkan hadiah sebesar 100 juta rupiah dan emas sebanyak 3 karung. Aku juga akan menjamin kehidupannya.” Ucap Prabu Jaya Minggat dengan tegas.

“Siap laksanakan, Baginda.” Jawab para prajurit dengan kompak.

“Aku juga menyuruh kalian untuk mencari Pangeran Jaka Sara hingga ke pelosok-pelosok hutan. Kalian harus teliti dan hati-hati. Kalian harus berhati-hati dengan pasukan suku musuh yang mungkin masih berkeliaran. Kalian harus segera melapor kepadaku jika kalian menemukan jejak atau kabar tentang Pangeran Jaka Sara.” Ucap Prabu Jaya Minggat dengan tegas.

“Siap melaksanakan, Baginda.” Jawab para prajurit dengan kompak.

“Baiklah. Kalian berangkat sekarang. Semoga Tuhan memberkati kalian.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil memberi salam hormat.

“Semoga Tuhan memberkati Baginda.” Jawab para prajurit sambil memberi salam hormat balik.

Mereka pun berangkat untuk menjalankan perintah Prabu Jaya Minggat. Mereka mengumumkan kepada seluruh warga dan kerajaan-kerajaan lain tentang hadiah yang akan diberikan bagi yang menemukan Pangeran Jaka Sara. Mereka juga menyebarkan brosur yang berisi foto dan ciri-ciri Pangeran Jaka Sara.

“Pengumuman… Pengumuman… Pengumuman…” Teriak salah satu prajurit di tengah pasar.

“Barang siapa yang menemukan Pangeran Jaka Sara akan mendapatkan hadiah sebesar uang 100 juta rupiah dan emas 3 karung. Juga kehidupannya akan terjamin. Ini adalah foto dan ciri-ciri Pangeran Jaka Sara.” Ucap prajurit itu sambil menunjukkan brosur yang ia pegang.

“Jika kalian menemukan atau mengetahui keberadaan Pangeran Jaka Sara, segera laporkan kepada Prabu Jaya Minggat di istana kerajaan. Ini adalah kesempatan emas bagi kalian semua. Jangan sampai ketinggalan.” Ucap prajurit itu sambil menyebarkan brosur dan menempelkannya di tempat-tempat strategis.

Para warga yang mendengar pengumuman itu pun menjadi heboh dan penasaran. Mereka berebut untuk melihat foto dan ciri-ciri Pangeran Jaka Sara. Mereka berharap bisa menemukan Pangeran Jaka Sara dan mendapatkan hadiah yang besar itu.

Setelah itu para prajurit kerajaan juga pergi ke pelosok-pelosok hutan untuk mencari Pangeran Jaka Sara. Mereka berkelompok dan menyisir setiap sudut hutan dengan teliti. Mereka berharap bisa menemukan jejak atau kabar tentang Pangeran Jaka Sara.

Salah satu kelompok prajurit kerajaan menemukan sebuah gubuk di tengah sebuah hutan. Mereka melihat seorang anak kecil yang sedang bermain di depan gubuk. Anak kecil itu mirip dengan Pangeran Jaka Sara.

“Hei, Bro. Coba lihat itu. Sepertinya di sana ada sebuah gubuk yang berpenghuni.” Ucap salah satu prajurit sambil menunjuk gubuk.

“Iya, Bro. Ayo coba kita cek sekarang.” Ucap prajurit lainnya sambil mengangguk.

“Sepertinya di sana ada seorang anak kecil. Ayo segera hampiri. Mungkin itu Pangeran Jaka Sara.” Ucap prajurit lainnya sambil berlari.

Setelah salah satu dari prajurit melihat seorang anak kecil yang mirip dengan Pangeran Jaka Sara, mereka langsung bergegas menghampirinya. Mereka berharap anak kecil itu adalah Pangeran Jaka Sara yang hilang.

Namun, kakek yang sedang berada di dalam gubuk melihat mereka. Ia langsung menyuruh Pangeran Jaka Sara bersembunyi di dalam gubuk.

“Cu… Segera masuk, Cu… Itu di sana ada orang-orang yang akan datang ke mari sepertinya.” Ucap kakek dengan panik sambil membuka pintu gubuk.

“Baik, Kek.” Ucap Pangeran Jaka Sara dengan patuh sambil masuk ke dalam gubuk.

“Buk E… Buk E… Cepat kemari…” Ucap kakek dengan panik sambil memanggil nenek yang sedang berada di belakang gubuk.

“Iya, Pak E. Ada apa?” Tanya nenek sambil berlari menuju kakek.

“Sepertinya di sana bakalan ada orang-orang yang bakalan kemari. Tolong jaga Pangeran baik-baik. Aku akan menghadang mereka.” Ucap kakek sambil menunjuk ke arah para prajurit kerajaan yang semakin mendekat.

“Baik, Pak E. Segera kau hampiri mereka. Jangan sampai mereka tahu tentang Pangeran.” Ucap nenek sambil mengangguk.

“Iya…” Ucap kakek sambil berjalan menuju para prajurit kerajaan.

Kemudian prajurit kerajaan berbicara kepada kakek dan memaksa bertemu dengan seorang anak tersebut. Mereka curiga dengan anak kecil yang sedang bermain di depan gubuk tadi. Mereka berpikir anak kecil itu adalah Pangeran Jaka Sara yang hilang.

“Pak, apakah Bapak melihat anak ini?” Tanya salah satu prajurit sambil menunjukkan foto Pangeran Jaka Sara yang ia pegang.

“Anak ini adalah putra dari seorang Prabu. Ia hilang diculik oleh pasukan suku musuh. Kami sedang mencarinya.” Jelas prajurit itu sambil menatap mata kakek.

“Waduh, ternyata Cu seorang anak bangsawan. Bagaimana ini?” Batin kakek dengan kaget.

“Kurang tahu juga ya, Mas. Aku tidak pernah melihat anak ini sebelumnya.” Jawab kakek dengan pura-pura tidak tahu.

“Lalu tadi yang bermain di depan rumah Kek siapa?” Tanya prajurit lainnya dengan curiga.

“Itu anak saya, Mas. Anak saya yang bungsu.” Jawab kakek dengan berbohong.

“Anak Kek? Kok mirip sekali dengan anak ini?” Tanya prajurit lainnya sambil menunjukkan foto Pangeran Jaka Sara lagi.

“Ya, memang mirip. Tapi itu bukan anak ini. Anak saya namanya Joko. Bukan Jaka Sara.” Jawab kakek dengan berbohong lagi.

“Ya sudah kalau begitu terima kasih nggih, Kek.” Ucap prajurit itu sambil mengangguk.

“Mungkin kami salah lihat. Maaf ya, Kek.” Ucap prajurit lainnya sambil mengangguk juga.

Kemudian para prajurit kerajaan langsung pergi dari tempat itu. Mereka merasa sudah salah alamat dan tidak ingin mengganggu kakek dan keluarganya lagi.

Namun, salah satu dari prajurit kerajaan masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakek tadi. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kakek tadi. Ia merasa sangat mencurigakan.

“Eh, Bro. Sepertinya kakek tadi berbohong kepada kita. Gimana kalau langsung kita samperin aja?” Ucap prajurit itu kepada temannya.

“Iya, bisa jadi kakek tadi ia berbohong terhadap kita. Yasudah ayo kita harus segera menghampiri gubuknya terlebih dahulu dan memastikan bahwa anak tadi itu bukan Pangeran.” Ucap temannya sambil setuju.

Para prajurit itu pun langsung bergegas menuju gubuk tersebut dan menemuinya. Mereka berharap bisa menemukan Pangeran Jaka Sara di dalam gubuk itu.

“Kek, cepat keluar atau tidak kami bakar gubuk ini.” Teriak salah satu prajurit sambil mengancam.

“Kami hanya ingin mengecek anak itu.” Ucap prajurit lainnya sambil menunjuk Pangeran Jaka Sara yang sedang bersembunyi di dalam gubuk.

“Ada apa lagi ya?” Tanya kakek sambil keluar bersama nenek dan Pangeran Jaka Sara.

“Kami hanya ingin mengecek anak itu.” Ulang prajurit itu sambil menunjuk Pangeran Jaka Sara lagi.

“Ini anak saya. Memangnya kenapa?” Tanya kakek sambil berpura-pura tidak tahu.

“Sini!” Ucap salah satu prajurit sambil menarik tangan Pangeran Jaka Sara dan mengecek wajahnya.

“Hamper sama dengan Pangeran. Tapi dipikir-pikir dengan Pangeran juga beda.” Ucap prajurit itu sambil menoleh ke temannya.

“Nek, apakah boleh anak Nenek dan Kek saya bawa ke kerajaan untuk saya tunjukkan kepada Permaisuri dan Prabu? Karena anak ini hampir mirip dengan Pangeran.” Tanya prajurit lainnya dengan sopan.

“Jangan! Ini anak saya satu-satunya yang sangat saya sayangi. Kepada siapa lagi kami akan hidup jika tidak ada anak ini.” Ucap nenek sambil memeluk Pangeran Jaka Sara.

“Ya sudah kalau begitu saya tinggalkan anak ini. Biarkan teman saya ini diam di sini. Dan biar saya pergi ke kerajaan untuk menjemput Prabu dan Permaisuri ke sini untuk memastikan bahwa ini adalah anak Kek dan Nek atau anak Permaisuri dan Prabu.” Ucap prajurit lainnya dengan bijak.

“Yasudah kalau begitu aku yang menunggu di sini. Tapi sebentar aku akan menanyakan kepada anak ini.” Ucap prajurit yang pertama dengan setuju.

“Iya, coba tanyakan terlebih dahulu kepada anak itu.” Ucap prajurit yang kedua sambil mengangguk.

“Nak, apakah engkau adalah Pangeran Jaka Sara?” Tanya prajurit yang pertama dengan serius.

Pertanyaan yang diucapkan oleh prajurit tersebut membuat Pangeran Jaka Sara menoleh kepada kakek dan nenek. Ia merasa bingung dan takut. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak mau mengkhianati kakek dan nenek yang sudah merawatnya dengan baik. Ia juga tidak mau menyakiti hati Prabu dan Permaisuri yang pasti merindukannya.

“Tidak, aku bukan Pangeran.” Jawab Pangeran Jaka Sara dengan berbohong.

“Kalian masih belum percaya dengan apa yang anakku katakan?” Tanya nenek dengan marah.

“Yasudah kalau begitu. Tetapi sebelum itu saya akan memanggil Prabu dan Permaisuri ke sini.” Ucap prajurit yang kedua dengan bersikeras.

Kemudian salah satu prajurit pergi ke kerajaan untuk memanggil Prabu Jaya Minggat dan Permaisuri Saraswani. Ia berharap mereka bisa mengenali Pangeran Jaka Sara yang hilang itu.

Sesampainya di kerajaan, prajurit tersebut langsung melapor kepada Prabu Jaya Minggat.

“Lapor, Baginda. Saya menemukan seorang anak kecil di sebuah gubuk di tengah hutan. Anak kecil itu mirip sekali dengan Pangeran Jaka Sara.” Ucap prajurit itu dengan hormat.

“Benarkah? Apakah kamu yakin itu adalah Pangeran Jaka Sara?” Tanya Prabu Jaya Minggat dengan haru.

“Saya tidak yakin, Baginda. Tapi anak kecil itu sangat mirip dengan foto Pangeran Jaka Sara yang kami bawa. Kami sudah bertanya kepada kakek dan nenek yang mengaku sebagai orang tuanya. Mereka bilang anak kecil itu bukan Pangeran Jaka Sara. Tapi kami masih curiga.” Jelas prajurit itu dengan jujur.

“Kalau begitu ayo kita pergi ke sana sekarang. Aku ingin melihat sendiri anak kecil itu. Mungkin itu adalah Pangeran Jaka Sara yang hilang.” Ucap Prabu Jaya Minggat dengan bersemangat.

“Baik, Baginda. Tapi bagaimana dengan Permaisuri? Apakah kita harus mengajaknya juga?” Tanya prajurit itu dengan ragu.

“Ya, tentu saja. Aku tidak mau menyembunyikan hal ini dari istrinya. Aku yakin dia juga ingin melihat anak kecil itu. Ayo kita pergi sekarang.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil beranjak dari singgasananya.

“Baik, Baginda.” Ucap prajurit itu sambil mengikuti Prabu Jaya Minggat.

“Istriku. Cepatlah kemari.” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil memanggil Permaisuri Saraswani yang sedang berada di kamar istana.

“Iya, Prabu. Ada apa kenapa Engkau memanggilku?” Tanya Permaisuri Saraswani sambil berlari menuju Prabu Jaya Minggat.

“Aku ingin memberikan kabar baik, Istriku. Salah satu dari prajurit kita menemukan seseorang yang hampir mirip dengan Pangeran, Istriku.” Ucap Prabu Jaya Minggat dengan gembira.

“Apakah yang Kau katakan benar, Prabu? Yasudah tunggu apa lagi. Ayo kita ke sana.” Ucap Permaisuri Saraswani dengan senang.

Mendengar kabar gembira dari prajurit tersebut, Permaisuri Saraswani dan Prabu Jaya Minggat langsung bergegas untuk menemui Pangeran Jaka Sara. Mereka berharap anak kecil yang ditemukan oleh prajurit itu adalah Pangeran Jaka Sara yang hilang.

Sesampainya di sana, Permaisuri Saraswani dan Prabu Jaya Minggat tidak percaya dengan apa yang ada di depan mata mereka. Mereka melihat seorang anak kecil yang sangat mirip dengan Pangeran Jaka Sara. Anak kecil itu sedang berada di pelukan kakek dan nenek yang mengaku sebagai orang tuanya.

“Putraku… Apakah benar itu Engkau, Putraku? Hidup Bunda terasa hampa jika tidak ada Engkau di sisi Bunda.” Ucap Permaisuri Saraswani sambil menangis.

Akan tetapi Pangeran Jaka Sara tidak ingin mengakui bahwa ia adalah putra dari Permaisuri Saraswani dan Prabu Jaya Minggat. Ia merasa nyaman tinggal dengan kakek dan nenek yang sudah merawatnya dengan baik.

“Tidak, aku bukan Pangeran.” Jawab Pangeran Jaka Sara dengan berbohong.

“Nak, kami ini orang tuamu. Kenapa Engkau tidak mengakui kami?” Tanya Prabu Jaya Minggat dengan sedih.

“Sudahlah, Prabu. Dia itu anak kami.” Ucap kakek dengan membela Pangeran Jaka Sara.

“Kami sangat menyayanginya, Prabu.” Ucap nenek dengan membela Pangeran Jaka Sara juga.

“Akan tetapi dia hampir mirip dengan Pangeran. Oh iya, Pangeran memiliki kalung bangsawan yang berada pada lehernya. Coba sini, Putraku. Bunda lihat.” Ucap Permaisuri Saraswani sambil mendekati Pangeran Jaka Sara.

Setelah melihatnya ternyata benar yang dikatakan oleh Permaisuri Saraswani. Terdapat sebuah kalung bangsawan di leher Pangeran Jaka Sara. Kalung itu adalah ciri khas dari keluarga kerajaan.

“Putraku…” Ucap Prabu Jaya Minggat sambil menggendong Pangeran Jaka Sara.

“Kenapa Engkau tidak mengakui kami, Putraku?” Tanya Prabu Jaya Minggat dengan haru.

“Maafkan aku, Ayah. Aku sudah terlanjur kasihan terhadap Kakek dan Nenek. Aku terlanjur nyaman dengan mereka.” Jawab Pangeran Jaka Sara sambil menangis.

“Aku minta maaf, Permaisuri. Sudah berbohong terhadapmu. Aku sudah terlanjur sayang terhadap Pangeran.” Ucap nenek sambil menangis juga.

“Engkau harus menerima hukuman yang seberat-beratnya.” Ucap Permaisuri Saraswani dengan marah kepada kakek dan nenek yang sudah berbohong terhadapnya.

“Jangan, Bunda. Jangan hukum Kakek dan Nenek. Selama dua tahun mereka merawatku dengan baik dan penuh kasih sayang, Bunda. Aku meminta kepada Ayah dan Bunda untuk mengajak Kakek dan Nenek ke kerajaan untuk diberikan fasilitas yang sangat baik.” Ucap Pangeran Jaka Sara dengan membela kakek dan nenek.

“Yasudah karena itu permintaan Pangeran, aku akan menganggap kalian sebagai keluarga dari bangsawan dan akan dimasukkan ke dalam buku sejarah. Prajurit, ajak Kakek dan Nenek ke kerajaan dan kabarkan bahwa calon putra mahkota telah ditemukan.” Ucap Prabu Jaya Minggat dengan bijak.

“Siap laksanakan, Baginda. Dengan senang hati.” Jawab para prajurit dengan hormat.

Setelah Pangeran Jaka Sara ditemukan, kerajaan pun berpesta merayakan atas ditemukannya sang pangeran. Prabu Jaya Minggat dan Permaisuri Saraswani mengumumkan kepada seluruh warga dan kerajaan-kerajaan lainnya bahwa Pangeran Jaka Sara telah kembali ke pelukan mereka. Mereka juga mengucapkan terima kasih kepada kakek dan nenek yang sudah merawat Pangeran Jaka Sara dengan baik. Mereka memberikan mereka gelar bangsawan dan fasilitas yang layak.

Pangeran Jaka Sara pun hidup bahagia bersama orang tuanya, kakek dan neneknya, serta teman-temannya di kerajaan. Ia menjadi seorang pangeran yang baik hati, cerdas, dan berani. Ia juga tidak pernah melupakan pengalaman hidupnya di hutan bersama kakek dan nenek.

Pesan moral dari cerita di atas adalah bahwa kebahagiaan keluarga tidak bisa dinilai dengan suatu apapun. Kebahagiaan keluarga adalah anugerah yang harus disyukuri dan dijaga. Kejujuran juga termasuk kunci kebahagiaan dan kesuksesan. Kejujuran akan membuat kita dipercaya dan dihormati oleh orang lain.

=====

Nama saya Muhammad Syaiful, biasa dipanggil Ipong. Saya berumur 16 tahun dan saat ini saya bersekolah di MAN 2 Probolinggo. Saya memiliki hobi bermimpi untuk menjadi seorang penulis. Saya percaya bahwa mencari ilmu memang melelahkan, tapi ini semua demi masa depan yang lebih baik.