Keajaiban dalam Keheningan ~ Panca Putri Aisyah Nurul Jannah

Spread the love
Butuh waktu 3 menit untuk membaca tulisan ini

Malam ini terasa berbeda, seolah ada hal yang membuatnya lain dengan malam-malam sebelumnya. Hatiku merasa ingin mengeluarkan seluruh kegundahan dosa, melihat air hujan yang berjatuhan, ditambah cuaca yang amat sangat dingin memaksaku mengenakan jaket. Hujan lama-lama telah reda, aku berdiri di pinggir jendela yang terbuka lebar sambil menatap langit gelap, sejenak merenungkan mengapa hati ini merasa gelisah.

Azan isya telah selesai dikumandangkan, membuatku tersadar dari lamunan. Segera aku bergegas mengambil wudhu, hatiku yang masih saja gelisah membuat jantungku turut berpacu lebih cepat. Butiran peluh satu per satu mulai membasahi tubuhku di tengah dinginnya cuaca, bersamaan dengan menetesnya air mata yang entah mengapa tak bisa kutahan. Ada dorongan kuat dari dalam hati yang memaksaku melantunkan kalimat “Allah, Allah, Allah” berkali-kali.

Selesai salat, aku memutuskan duduk menyendiri di halaman rumah, sambil berusaha mencari ketenangan. Pemandangan temaram malam berhias lampu-lampu redup di sekitarku, berpadu dengan daun-daun yang ikut terlihat gelap dan basah karena baru saja tersiram berkah dari langit, menghadirkan kesejukan dalam hati. Terlintas kembali bayangan kejadian saat salat isya tadi, bibirku yang bergetar ingin terus melantunkan nama Tuhanku dalam dzikir, menyebutnya terus, terus, dan terus. Namun sepertinya kali ini raga menghianati hatiku, mukena yang kukenakan justru kulepas dan mengakhiri ritual yang mendekatkanku kepada Sang Pencipta.

Puas menikmati suasana malam, aku memutuskan kembali ke kamar untuk belajar dan membaca beberapa lembar buku. Waktu seolah tak terasa kini telah menunjukkan pukul 9 malam, ini waktunya aku beristirahat.

“Okey, aku harus segera tidur,” bisikku pada diri sendiri sambil mulai memejamkan mata.

Mata yang kupaksa menutup, sepertinya kembali tak bekerjasama dengan otakku. Aku kembali terjaga, membuat langit-langit kamar dapat kupandang dengan jelas. Entah mengapa perasaan aneh itu kembali muncul, rasa yang sulit tergambarkan kata-kata, membuat pikiranku berkelana kemana-mana.

“Astagfirullah,” ucapku singkat mencoba kembali menguasai hati.

Sekelebat pikiran tentang salat tahajjud tiba-tiba saja muncul dalam benakku, salat sunnah yang waktu utamanya dikerjakan pada sepertiga malam, salat yang sebenarnya belum pernah sama sekali kukerjakan. Terbit niat untuk mengerjakannya, membuat tanganku tangkas meraih ponsel yang tadi kuletakkan di nakas. Jariku lincah mensearching berbagai informasi tentang salat tahajjud, termasuk tentang niat dan tata caranya. Entah mengapa, hati dan raga meyakinkanku pasti mampu melaksanakan salat ini.

“Baik, akan kucoba kali ini.” Aku berusaha menguatkan tekad.

jari-jemariku kembali lincah mengetuk layar ponsel, mengatur alarm agar aku bisa terbangun. Tak sabar rasanya ingin segera bersujud mencurahkan segala hal kepada Sang Maha Kasih di tengah keheningan sepertiga malam. Mataku mulai terpejam, perasaanku mulai rileks, hingga akhirnya aku terbuai dalam tidur yang begitu nyenyak.

“aduh, apa aku telat ya?” tanyaku panik sambil bergegas mengumpulkan 100%kesadaran.

Ponsel yang berada di nakas langsung kugapai, dan mengecek jam. Keharuan langsung tumpah membasahi gersangnya hati dan jiwaku, aku berhasil! Bahkan aku bangun lebih awal, mendahului alarm yang semalam kutugaskan membangunkanku.

“Subhanallah, alarm langit benar-benar hebat,” ujarku ternsenyum.

Aku tak menyangka bisa sesegar ini bangun di sepertiga malam terakhir. Segera aku berwudhu dan menunaikan salat yang telah kuniatkan sejak semalam. Hatiku merasa jauh lebih tenang di kesunyian tahajjud, aku lebih puas berdoa pada malam ini. Seluruh keluh kesah dan kegundahan akan dosa yang membuat hati tak nyaman,semua kucurahkan dalam sujud di atas sajadah. Membuat beban yang tadinya terasa berat, kini terasa ringan dan membuat hati menjadi lapang.

“Ini sebuah keajaiban Allah. Kamu juga harus merasakan dahsyatnya salat sepertiga malam terakhir!”

Catatan: Kamu pasti bisa memetik beberapa kesimpulan dari cerita diatas, dan terima kasih telah membacanya sampai selesai.

=====

Panca Putri Aisyah Nurul Jannah. Lahir 08 Agustus 2007 dan bercita-cita menjadi Kowad. Memiliki hobi berpetualangan, membaca, dan menggambar. Ia merupakan alumni MI Izzatul Muta’allimin, MTSN 2 Probolinggo, dan kini tercatat sebagai siswi di MAN 2 Probolinggo. Kabar tentangnya bisa diikuti lewat IG @czxq.__