Katanya Janji? Kok Ingkar! ~ Aisyah

Spread the love
Butuh waktu 2 menit untuk membaca tulisan ini

Menunggu pelajaran dimulai, aku berkumpul santai  di kelas ditemani oleh Ferisha, Rafca dan Galen. Kami berempat memanglah berteman sedari kecil, kami juga bertetangga.

Pada saat kecil, kami pernah membuat janji yang ditulis menggunakan arang bekas kayu bakar yang ditulis di tembok belakang rumah Ferisha. Janji tersebut berisi bahwa kami tidak akan pernah berpisah, dan akan selalu ada antara satu sama lain dalam kondisi apapun.

Ketika waktu pembelajaran sudah habis, kami berempat pulang dengan berboncengan motor. Ferisha dibonceng olehku, sedangkan Rafca dibonceng oleh Galen. Kami berempat berencana untuk pergi ke pantai sembari melukis kenangan bersama sembari menunggu waktu perpisahan kita tiba, walau kami tak mengharapkan perpisahan itu datang, namun yang namanya pertemuan pasti akan merasakan perpisahan cepat atau lambat.

Pada saat di pantai, antara Ferisha dan Galen malah terlibat cekcok. Penyebabnya sepele, Ferisha kesal terhadap Galen karna tak sengaja menumpahkan minumannya tepat di kertas hasil kerja Ferisha.

“Emang kamu jalannya ga liat pake mata, ya! Aku nulis ini mati matian, Gal!” Suara Ferisha meninggi sembari menatap Galen penuh amarah.

Galen tau dirinya salah, dia akan bertanggung jawab akibat kecerobohannya. Hanya saja, ucapan Ferisha yang tak henti-henti menyalahkannya,membuat Galen akhirnya ikut emosi. Buntut permasalahan selembar kertas tersebut, akhirnya membuat Galen pergi meninggalkan daerah pantai sambil mengebut kuda besinya dengan kecepatan tinggi.

“Ver, kasian Galen,” ucapku berusaha menenangkan Ferisha, namun ia tetap ngotot dengan sikap keras kepalanya.

Tak ingin banyak berdebat, aku, Verisha, bersama Rafca bergegas untuk pulang. Saat Rafca ingin menghentikan angkutan umum untuk tumpangan pulang Verisha, tiba-tiba nomor Galen menelfonnya.

“Kenapa Len?” tanya rafca.

“Ma- maaf, Mas. Teman mas sekarang ada di rumah sakit, tadi nggak sengaja saya nabrak teman mas.” Suara seorang pria terdengar begitu jelas di ujung telepon.

Mendengar informasi tersebut, kami bertiga segera bergegas ke rumah sakit. Sayangnya, saat kami tiba dirumah sakit nyawa Galen sudah tidak terselamatkan.

Verisha pun terlihat begitu terpukul, ia sangat menyesali sikapnya yang mempermasalahkan hal sepele tadi.

“Gal, aku mending nulis ulang deh daripada harus kehilangan kamu. Kita berempat udah janji bakal selamanya bareng-bareng, kan!” serunya disertai deru air mata, namun takdir telah terjadi. Walaupun Ferisha menangis darah, takdir waktu tak akan bisa diputar kembali seperti halnya cerita mesin waktu doraemon.

=====

Kenalin namaku Aisss, sebenarnya Aisyah sih heheh, tapi bebas deh kalian mau panggil aku apa aja asal jangan aneh yaa. Oh iya, aku berasal dari kota yang dikenal sebagai sunrise of Java. Yaps, Banyuwangi. Aku lahir pada 18 Juni 2007.
Aku pernah mengenyam pendidikan di SDN 1 Bengkak dan MTsN 1 Banyuwangi. Sekarang aku juga udah resmi jadi bagian keluarga MAN 2 Probolinggo. Aku suka menulis sejak kelas 8, awalnya cuma gabut gara-gara pandemi, eh malah keterusan terus jadi hobi deh. Terimakasih yaa udah baca karya aku, dan semoga kalian suka.