My Bestie Is Medusa! ~ Rohmatul Adhimah

Butuh waktu 12 menit untuk membaca tulisan ini

Tahukah kamu? Orang jahat itu … terlahir dari orang baik yang tersakiti.
.
Hai, aku Dianne atau … Driad. Awalnya, aku hanyalah mahasiswa arkeologi biasa yang tidak bisa lebih biasa lagi. Keseharianku hanyalah ngampus, jajan, baca novel, nonton film, dan ngebo. Ditambah lagi statusku yang jomblo akut, membuatku hanya terus mengulang kegiatan yang sama setiap harinya.
Ketika aku sedang asyik bobo cantik setelah seharian mengerjakan tugas dari Dosen killer, entah bagaimana aku terbangun, dan mendapati jika aku sedang berada di dunia yang tidak aku kenali. Terlebih lagi, aku menyadari bahwa aku bukanlah manusia sekarang! Manusia mana yang akan memiliki sayap transparan tipis di punggungnya?!
Aku terus terombang-ambing mencari jawaban atas pertanyaanku di dunia yang sangat asing ini. Entah berapa lama waktu berlalu, mungkin puluhan tahun, atau bahkan ratusan tahun telah berlalu semenjak aku datang ke dunia antah-berantah ini. Akhirnya aku tersadar, jika dunia yang aku datangi ini … adalah dunia berlatar belakang greek Yunani yang telah aku pelajari sebelumnya.
.
Malam ini, guntur terus bergemuruh, angin bertiup kencang, bulan pun mengubah penampilannya yang semula putih suci, menjadi merah merona seperti halnya ternoda oleh darah. Semua ini seakan menandakan jika sebuah bencana telah mendekat. Setiap malam seperti inilah dia akan kehilangan seluruh kekuatannya, bahkan untuk sekedar berjalan pun ia tak sanggup.
Melihat manusia pemburu nimfa yang terus mendekat, dan terus melihat sayapnya dengan keserakahan di matanya, ia langsung putus asa. Apakah begini akhirnya? Setelah terbuang ke dunia antah-berantah ini, dan hidup kesepian selama ratusan tahun … apakah begini hasilnya? Mati karena sayap kehidupannya dirampas oleh seorang manusia rendahan? “Ya Tuhan, kau bercanda padaku ‘kan!”
Driad menutup matanya, siap untuk menerima nasibnya. Hanya berharap bahwa Tuhan tidak lagi menaruh dendam padanya. Namun, jeritan melengking yang mengalun syahdu terdengar di telinganya. Driad membuka kelopak matanya, dan pupil mata safirnya langsung membulat sempurna.
Dia bertemu Malaikat. Seorang wanita heroik dengan tatapan lembut nampak memegang busur panah di tangannya, mengulurkan tangan padanya. Sejak saat itu, wanita tersebut telah menjadi malaikat yang terpatri dalam pikiran dan relung jiwa Driad yang terdalam.
.
Akropolis, Athena
Hari pertama di musim semi membuat semakin banyak pelancong berlalu-lalang di kota kecil yang makmur bernama Athena. Sesaknya keramaian tak menghentikan seorang gadis remaja berparas elok untuk berlari menyelinap menemui teman baiknya di hutan pinggiran kota.
Sesampainya di hutan pinggiran kota, gadis itu berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang terengah-engah. Angin semilir yang lewat membuat rambut ikalnya yang indah terurai, menampakkan wajah menakjubkan sang empu. Kulitnya lebih cantik dari segarnya salju pertama, rambut pirang berkilauan melebihi sang mentari, pupil mata yang lebih hijau dari laut Aegean, dan bibirnya lebih merah dari mawar paling merah di dunia. Seluruh fitur wajahnya seakan diukir dengan hati-hati oleh sang pencipta.
“Medusa!” Gadis itu segera menoleh, matanya menyipit bahagia melihat teman baiknya, Driad.
“Hey mengapa dua minggu ini kau tak pernah mengunjungiku? Apakah kau telah melupakanku? Aku hampir mati kebosanan di hutan yang sunyi ini tanpa siapapun menemaniku,” keluh Driad dengan tampang cemberut.
Mendengar itu, Medusa berdecih dengan tampang mengejek,”Pembohong kecil! Aku dengar banyak orang mengatakan seorang nimfa imut yang membuat banyak pria terpesona baru-baru ini merajalela di sekitaran Akropolis.”
Driad mencebikkan bibirnya,”Itu tidak seberapa dibandingkan dengan kecantikanmu yang di incar oleh para bangsawan negara-negara tetangga, bahkan beberapa dewa.” Driad membisikkan kalimat terakhir, sambil menatap Medusa dengan pandangan penuh arti.
“Omong kosong. Percuma saja, toh aku tidak akan menikah.” Medusa mengedikkan bahunya santai, tak mempedulikan tatapan terkejut sahabatnya.
“Hah?! Kenapa?!” seru Driad dengan mata terbelalak kaget.
“Aku sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pendeta kuil Parthenon. Aku akan mengabdikan hidupku untuk Dewi Athena! Mungkin saja sang Dewi akan tergerak dan akan datang menemuiku!” terang Medusa bersemangat, pupil emaraldnya yang berkilauan mengaburkan semua warna di sekitarnya, seakan tak ada keberadaan yang bisa menandingi keindahannya.
Driad menatap ragu sahabatnya. “Medusa aku pikir … kau harus mempertimbangkan kembali keputusanmu. Dewa Dewi itu … tak sebaik yang kau pikirkan,” sarannya yang langsung ditolak oleh sahabatnya.
“Tidak! Keputusanku sudah final. Kau kan tahu kalau aku sudah menganggumi Dewi Athena semenjak aku kecil. Kebijaksanaan, kekuatan, dan keindahannya yang mampu membuat para makhluk bertekuk lutut benar-benar mengagumkan!”
Driad masih tak menyerah untuk membujuk sahabatnya, namun Medusa segera memotongnya. “Sudah cukup Driad. Ini adalah keputusan yang tidak akan pernah aku batalkan, juga tidak akan pernah aku sesali. Aku harus pergi sekarang, besok adalah upacara penyambutan pertamaku. Aku harap aku bisa melihatmu di hari spesialku,” ucapnya sebelum melangkah pergi, meninggalkan Driad yang menatap nanar punggung Medusa.
“Ya tuhan, apakah kisah tragis ini tidak bisa dihindari? Aku mohon, tolong lindungi sahabatku … sudah cukup aku saja yang merasakan penderitaan diincar oleh seorang Dewi.” Driad menyilangkan telapak tangan di dadanya, di kesunyian yang mencekam ini, cairan bening yang terus mengucur di pinggiran kelopak matanya yang tertutup diam-diam menceritakan kesedihan sang empu.
Keesokan paginya, kota Athena yang semula semarak menjadi semakin semarak karena upacara penyambutan pendeta baru kuil Parthenon yang akan di adakan di siang hari, tepat ketika matahari bersinar paling terang.
Berita bahwa gadis terindah di kota Athena, yang kecantikannya tersebar luas di seluruh penjuru negeri menjadi pendeta baru kuil Parthenon berhasil membuat geger seluruh pemuda di sekitar wilayah Athena. Tidak peduli berapa banyak tentangan, keluhan, serta kesedihan dari seluruh pria di negeri itu, tetap tak berhasil menggoyahkan tekad Medusa untuk mengabdikan dirinya kepada sang Dewi pujaannya.
“Oh my lady! Kau sangat cantik! Tidak ada wanita yang lebih cantik darimu!” seru Driad berlebihan.
Medusa mendecakkan lidahnya. “Ck, kau terlalu melebih-lebihkan.”
Driad mengedipkan matanya polos. “Aku mempelajari itu dari seorang pujangga yang telah lama mengagumimu, dan telah kau tolak dua puluh kali,” ledek Driad dengan tampang geli.
Medusa memelototi Driad, tidak puas dengan sahabatnya yang terus-menerus meledeknya semenjak fajar menyingsing.
“Medusa, upacara akan segera di mulai,” pesan seorang Pendeta senior.
“Baik, saya akan segera ke podium.”
Medusa menatap sahabatnya serius. “Driad, aku harus pergi sekarang. Jadilah baik, jangan membuat onar, okey?”
“Aku tidak sebodoh itu, membuat onar di wilayah Dewi Athena,” gumam Driad.
“Good girl.” Medusa mengacak-acak lembut rambut Driad sebelum mengikuti Pendeta senior menuju podium.
Iringan musik yang menandai dimulainya upacara bergema di seluruh penjuru kuil, membuat sorak-sorai yang awalnya meletus menjadi tenang seketika. Kerumunan di sekitaran kuil telah lama terpana oleh keindahan seorang gadis di podium tertinggi. Sinar mentari yang jatuh di atas kepalanya seakan memberikan ilusi cahaya suci yang mengelilingi gadis itu. Bahkan sang pujangga handal tak mampu merangkai kata-kata untuk mengungkapkan keindahan gadis pujaannya.
“Mengapa menurutku, Nona Medusa lebih cantik daripada Dewi Athena itu sendiri?” bisik seorang pemuda kepada teman di sebelahnya.
“Sstt. Meskipun aku juga berpikir begitu, kita tidak bisa berbicara sembarangan di kuil Parthenon, atau konsekuensinya akan mengerikan.” Teman di sebelahnya bergidik ngeri memikirkan rumor soal pembuat onar yang di jatuhi hukuman kutukan oleh Dewi Athena.
“Aku bersumpah akan mengabdikan hidupku untuk Dewi Athena, dan tidak akan pernah mengkhianati, maupun mengotori kesucian kuil Parthenon,” ujar Medusa dengan keseriusan di wajah cantiknya.
“Dengan restu Dewi Athena, aku mengangkat Medusa sebagai pendeta kuil Parthenon.”
Seketika, sorak-sorai langsung meletus. Para penjaga kuil Parthenon kewalahan menertibkan masa, mereka cemas karena takut akan ada korban jiwa jika terus seperti ini. Hingga sebuah suara desisan yang seketika menenangkan masa. “Sssttt.” Medusa meletakkan jari telunjuk di bibir ranumnya untuk menghentikan masa yang hampir cek-cok di bawahnya.
“Tolong jangan saling mendorong, Dewi Athena tidak akan senang jika ada korban jiwa di hari yang indah ini,” sambung Medusa membuat para kerumunan kembali tenang. Para penjaga langsung menatap kagum, dan berterima kasih kepada Medusa.
Medusa turun bersama pendeta senior dari podium menuju aula kuil Parthenon, dimana perjamuan tengah diadakan saat ini.
“Hei Driad, kau tidak ingin memberi selamat padaku?” Medusa mengangkat alisnya, menatap bingung sahabatnya yang terus termenung.
“Ini bukan lah sesuatu yang harus di rayakan,” lirihnya.
“Hey apa maksudmu?” tanya Medusa, ia sedikit tersinggung dengan ucapan Driad.
“Maaf,” bisik Driad. Ia menundukkan kepalanya, mencoba menekan isak tangisnya.
“Hei hei ada apa denganmu? Apakah ada yang menggertakmu? Katakan, aku akan mencincang orang itu menjadi seratus bagian,” murka Medusa, membuat Driad tertawa bahagia.
“Kau selalu seperti ini, hiks a-aku juga i-ingin me-melindungimu, Medusa,” gumamnya dengan air mata yang terus bercucuran.
“Oke kau akan melindungiku mulai sekarang, ya? Berhentilah menangis, kau tidak imut lagi ketika menangis,” hibur Medusa, membuat Driad berhenti menangis. Matanya di penuhi dengan tekad, ia menatap tajam patung Dewi Athena di ruang pemujaan.
Setelah upacara penyambutan Medusa sebagai pendeta baru, semakin banyak pengunjung yang mendatangi kuil Parthenon tiap harinya hanya untuk melihat keindahan sang Pendeta baru yang di katakan melebihi keindahan Dewi Athena sendiri. Bahkan menurut rumor yang beredar, banyak orang yang mulai membuat patung Medusa dan menyembahnya, di bandingkan menyembah Dewi Athena.
Medusa sangat tak berdaya menghadapi rumor yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Ditambah lagi sahabatnya Driad yang telah lama menghilang semenjak pesta perjamuan selesai, membuat hati Medusa semakin gelisah. Ia ingin keluar untuk mencari sahabatnya, tetapi ia tidak bisa menelantarkan tugasnya begitu saja.
Berbanding terbalik dengan kericuhan disisi Medusa, kehidupan Driad sangat sunyi. Sampai-sampai, kesunyian itu membuat seseorang bisa mendengarkan detak jantungnya sendiri.
.
“Hey? Kau akhirnya mau kembali setelah sekian lama bersembunyi?” seringai Pria berparas tampan, namun dengan kesuraman disekeliling tubuhnya.
“Katakan, apa yang kau butuhkan?” Pria itu mengangkat satu alisnya, matanya tak pernah meninggalkan wanita bertubuh mungil di depannya.
“Aku ingin kau mengubah takdir seseorang!” ungkap Driad.
Hades mengetuk jari telunjuknya di singgasananya, tanpa sadar ia menunjukkan kebiasaannya ketika sedang berpikir. Dia terdiam lama sebelum menjawab, “Maaf sayang, meskipun aku adalah Dewa teratas, aku tak memiliki kuasa mengubah takdir seseorang.”
Mendengar itu, Driad langsung layu seolah tak memiliki harapan. Dia menata ulang pikirannya, mencoba menemukan cara lain untuk menyelesaikan masalah. Selang beberapa saat, Driad mengepalkan tinjunya, bibirnya terkatup rapat, seakan menekan emosi yang berada diambang letusan. Dia mengambil napas dalam-dalam, sebelum berkata, “Aku ingin kekuatan. Kekuatan yang sangat kuat.”
“Tidak masalah. Kau hanya perlu menjadi wanita simpananku, atau … selirku. Bagaimana?” goda Hades masih dengan seringai di bibir tipisnya.
“Hades! Jangan berlebihan! Kau sudah memiliki Persephone sekarang!” geram Driad.
“Lalu?”
“Jadi … berita tentang kisah cintamu dan Persephone, serta kesetiaanmu pada istrimu yang di puja-puji oleh jagat raya, hanyalah omong kosong belaka?!” raung Driad, matanya dipenuhi dengan liquid bening, seakan menceritakan semua keluhan yang telah ia alami.
“Kau cemburu?” kekeh Hades.
Dia mengusap lembut rambut Driad sebelum berkata, “Aku memang mencintai Persephone, namun kau juga adalah cinta pertama dalam hidupku. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu?”
“Hades kau bajingan!” isak Driad sembari memukuli dada pria di depannya. Namun, bagaimana mungkin kekuatannya bisa berdampak apapun pada Hades, seorang tiga Dewa utama? Kekuatannya hanyalah gelitikan tak berarti bagi Hades, sama seperti halnya dengan perasaannya.
Hades mengangkat dagu Driad dengan jari telunjuknya, sembari mengagumi kemellowan di wajah imut kekasihnya, dia kembali bertanya dengan tampang serius. “Aku bisa memberimu kekuatan, yang bahkan bisa menandingi para Dewa dan Dewi di peringkat bawah. Jadi apakah kau bersedia?”
Driad menutup matanya dengan putus asa, mencoba menutupi segala penghinaan, rasa sakit dan mati rasa yang terpampang di pupil matanya. Kesombongan, serta harga dirinya seakan terkoyak saat ini. Dia menggigit bibir bawahnya hingga rasa asin darah terasa di mulutnya sebelum menjawab, “Ya.” Hades langsung menyeringai penuh kemenangan.
.
Medusa terus menatap kosong kota Akropolis di balkon dekat taman Kuil. Hatinya terus-menerus gelisah semenjak pagi ini, membuatnya semakin mengkhawatirkan sahabatnya yang sekarang tidak diketahui keberadaannya.
“Medusa, sang Dewi memanggilmu,” celetuk seorang pendeta senior, membuyarkan lamunan Medusa.
Medusa mengedipkan mata, mencoba mencerna apa yang baru saja di katakan oleh pendeta senior didepannya. “Ah? Hah?! Sang … sang Dewi ingin bertemu denganku?” tanyanya tak percaya.
“Ya. Cepat lah, jangan buat sang Dewi menunggu.”
Medusa pun segera berlari kencang menuju ruang pemujaan, tak ingin membuat Dewi yang sangat ia segani menunggunya. Sesampainya di ruang pemujaan, ia menghela napas dalam-dalam sebelum masuk dengan kepala tertunduk.
“Medusa?” ucap sebuah suara dengan keagungan yang tak perlu dipertanyakan, membuat jantung Medusa berdetak kencang saking bersemangatnya.
“Ya-ya Dewi?” jawab Medusa terbata-bata.
“Angkat kepalamu,” titah Dewi Athena. Medusa pun mengangkat kepalanya dengan patuh.
“Ini benar-benar seindah yang rumor katakan,” tuturnya, dengan cibiran yang tersembunyi di dalamnya.
Medusa sama sekali tak memperhatikan cibiran yang tersembunyi, ia memiliki filter yang sangat tebal untuk Dewi yang telah lama ia puja. Dengan kata lain, Medusa akan menjadi idiot di depan Dewi Athena.
“Kau membuat semakin banyak orang yang mengunjungi kuilku, kau melakukan tugasmu dengan baik,” pujinya membuat Medusa tersenyum lebar.
“Aku harus pergi sekarang,” ucapnya sebelum menghilang begitu saja, meninggalkan Medusa yang tercengang dengan senyum lebar layaknya seorang idiot.
“Dewi memujiku? Hah?! Benarkan? Aaahhh aku tidak percaya ini! Hahahaha aku … aku harus membagikan ini dengan Driad!” jeritnya kegirangan, sebelum ingat jika sahabatnya sedang menghilang begitu saja.
Ia mendengkus sebelum berkata, “Hmph dasar bocah itu! keluyuran kemana saja dia?” Medusa terus mendumel hingga sampai di taman kuil yang selalu ia kunjungi.
Matanya membelalak kaget melihat wanita yang tengah duduk di kursi batu taman dengan kekosongan di matanya.
“Driad?! Ada apa denganmu?! Bagaimana kau bisa jadi seperti ini?!” Kejut Medusa melihat mata sahabatnya tidak lagi penuh keceriaan. namun mati dan tandus, tanpa tanda-tanda kehidupan.
“Medusa, berhentilah menjadi pendeta, dan pulang lah bersamaku, oke?” mohon Driad dengan wajah memelas.
“Apakah ada yang menggertakmu? Katakan padaku! Aku akan menyihirnya menjadi kecebong! Aku sudah bisa menggunakan beberapa mantra sihir sekarang,” cerocosnya.
“Kau tidak bisa mengalahkannya,” lirihnya. Bagaimana mungkin seseorang bisa menangdingi raja Underworld? Kecuali dua Dewa utama lainnya, tak ada seorang pun yang bisa menandingi kekuatan Hades.
Driad menggenggam telapak tangan Medusa erat-erat, dia menatap lekat pupil emerald sahabatnya dan berkata, “Medusa, berjanji lah padaku, apa pun yang terjadi, jangan sampai kau menengok ke belakang.”
Medusa menatap bingung Driad, tak mengerti dengan gelagat aneh sahabatnya. “Memangnya ada apa?”
Driad menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum seolah baik-baik saja. “Tidak ada. Maaf, aku sedikit mabuk tadi, jangan pedulikan itu. Aku mengantuk, aku harus kembali sekarang.”
Ketika Driad hendak berbalik, Medusa menghentikannya, dia menatap prihatin sahabatnya. “Bagaimana jika kau tinggal bersamaku saja hari ini? Aku takut Bulan berdarah akan segera datang,” nasihatnya.
“Tidak perlu, Bulan berdarah hanya akan datang lusa,” tolak Driad. Lagi pula, dia masih memiliki urusan yang harus segera ia selesaikan, yaitu mencuri pedang dari Hermes. Pedang yang akan menentukan kemenangan atau kekalahannya di pertempuran ini.
Dengan sigap Driad mengepakkan sayapnya, dan terbang menuju kediaman Hermes yang berada di sudut Olympus. Melihat Hermes yang tertidur pulas di karenakan sihirnya, Driad langsung lega. Setidaknya bedebah Hades itu tidak membohonginya kali ini, dan benar-benar memberinya kekuatan yang setara dengan Dewa tengah. Driad mengobrak-abrik seluruh kediaman Hermes sebelum menemukan pedang yang ia cari di sembunyikan di bawah tempat tidurnya sendiri.
“Huh! Seharusnya aku tau jika Hermes hanya akan meletakkan benda berharga di tempat yang tak terduga. Benar-benar membuang waktuku saja,” keluh Driad sebelum membungkus pedang dengan kain hitam khusus dan membawanya di punggung.
Dalam perjalanan pulang, Driad merasakan jantungnya berdebar kencang, firasat burut terus menyelimuti pikirannya. Dia menambah kecepatan terbang, berusaha untuk segera kembali ke sisi Medusa. Namun sialnya, Tuhan benar-benar berada di sisi yang berlawanan dengannya. Driad melihat langit malam yang semakin gelap, dan bulan yang mulai termakan oleh kegelapan dan mengumpat, “Shit, bagaimana bisa bulan berdarah muncul lebih cepat dari sebelumnya?!”
Bulan termakan oleh kegelapan seluruhnya dan mulai menampakkan warna merah darah yang mempesona. Kekuatan Driad perlahan mulai menghilang, dia mencoba mencari tempat persembunyian sementara dengan hati yang terus merasakan kegelisahan.
Sementara itu, di sisi Medusa, keadaan menjadi mencengangkan setelah seorang pemuda dengan paras tampan, dan berbadan tegak yang membawa trisula di tangannya muncul di kuil Athena.
“Oh sayangku, kau sangat cantik! Bahkan lebih cantik dari beberapa hari yang lalu ketika aku melihatmu di tepi pantai Akropolis,” puji Poseidon dengan seringai di wajahnya.
“Hah? Maaf tuan, anda … siapa?”
“Aku Poseidon. Jadi, maukah kau menjadi selirku yang ke seratus? Aku bosa memberimu segalanya. Harta, kekuatan, dan kehormatan. Bagaimana?” ujarnya bangga, ia yakin tidak ada wanita yang akan menolaknya. Bahkan jika itu hanya sekedar untuk tiga janji yang ia katakan.
Sayangnya, Poseidon bertemu dengan Medusa, wanita dengan tekad yang kuat di hatinya. “Tidak. Jika anda ingin mencari perlindungan Dewi Athena, atau sekedar berlindung dari hujan deras, kuil Athena menyambut anda. Jika selain itu, maaf, anda bisa keluar.” Medusa menatap dingin Dewa di depannya.
Poseidon terpana, sebelum tertawa keras, tawanya di penuhi dengan kemarahan. “Dasar! aku menawarimu cawan anggur namun kau lebih memilih racun. Baik, kalau begitu jangan salahkan aku karena tidak sopan.”
Poseidon menggenggam tangan Medusa dan menyeretnya menuju aula persembahan. Disana ia mulai melecehkan Medusa secara seksual. Bagi Medusa beberapa jam disini sama dengan beberapa abad lamanya. Bagaimana mungkin dia, seorang gadis yang lugu dan polos bisa menanggung semua penyiksaan, dan penghinaan yang Poseidon lakukan padanya? Ia mencoba memberontak, namun kekuatannya hanyalah gelitikan semut bagi Poseidon, dan itu malah membuat Poseidon marah dan semakin menjadi-jadi.
Medusa hanya bisa mencantumkan harapannya pada Dewi Athena, berharap Sang Dewi mendengar doanya dan membebaskannya dari rasa malu yang ia derita. Hasilnya nihil. Bahkan setelah Poseidon mengecup keningnya dan pergi, Dewi Athena tak pernah muncul. Oh, dia muncul. Tepat setelah kaki belakang Poseidon meninggalkan kuil Athena. Namun bukan dengan wajah penuh welas asih seperti yang ia bayangkan, tetapi dengan kemarahan yang menggelegar.
“Aku tahu harusnya wanita cantik sepertimu takkan pernah bisa menjadi pendeta kuil Parthenon! Kau, hanya bisa menajiskan kuilku dan membawa malapetaka!” cecar Dewi Athena, membuat Medusa menatap tak percaya dewi di depannya.
Dewi yang selalu menjadi panutannya … ternyata seperti ini? Seketika itu, ia langsung teringat perkataan Driad. Ya! Dewa dan Dewi ini sangat buruk! Tidak sebaik yang dia bayangkan!
“Dengan ini, aku mengutukmu karena telah menajiskan tempat suciku. Jadilah seorang moster yang buruk rupa, yang setiap helai rambutnya memuntahkan racun mematikan, yang setiap tatapan matanya membuat orang menjadi batu!” murka Athena, dia melambaikan tangannya, dan dengan secercah cahaya, paras cantik Medusa langsung berubah menjadi monster buruk rupa.
“Tidak!” teriak Medusa dan Driad bersamaan.
Driad yang melihat pemandangan di depannya langsung terbakar amarah, dia menatap Athena dengan dua api kecil di pelupuk matanya.
“Dewi jahat sialan! Apa yang kau lakukan pada Medusa!” raungnya.
“Menghukum seorang pendosa,” jawabnya santai membuat Driad sesak napas, amarah hampir membakar kewarasannya.
“Tidak, kau baru memulihkan kekuatanmu setelah bulan berdarah usai. Kau takkan bisa mengalahkan Athena. Hanya pergi dari sini yang bisa kau lakukan Driad, sebelum semuanya terlambat,” nasihat peri yang berada dalam dirinya.
“Kau akan mendapatkan balasannya, Athena!” desis Driad sebelum menggendong Medusa di lengannya dan terbang, meninggalkan kuil Parthenon.
Athena yang melihat itu hanya tersenyum miring. “Hanya dengan seorang nimfa sepertimu?” ejeknya sebelum mengangkat terompet berbentuk karang ditangannya, dan meniupnya. Seketika itu, suara terompet yang melengking terdengar di seluruh penjuru Akropolis, yang merupakan pertanda jika sebuah monster penyebab malapetaka telah muncul di Akropolis.
Driad yang mendengar bunyi itu langsung mengumpat, dia berusaha sekuat tenaga untuk segera sampai di hutan terlarang. Satu-satunya tempat yang menurutnya aman untuk mereka saat ini. Medusa juga mendengar suara itu, matanya yang terus terpejam seketika membelalak. Namun mengingat kutukan yang Athena berikan padanya, ia segera menutup matanya kembali, tak berani melihat sahabatnya.
“Turunkan aku Driad, lari lah! Akulah yang diincar!” titah Medusa yang segera di tolak oleh Driad.
“Tidak! Omong kosong apa yang kau lakukan! Aku telah hidup selama ribuan tahun, bahkan jika salah satu diantara kita harus mati, aku lah orangnya,” ucapnya sungguh-sungguh.
Driad menatap hutan lebat tak berujung yang berjarak sekitar seratus meter darinya dan tersenyum. “Lihat, itu harapan kita. Kita akan aman setelah memasuki hutan itu,” sambungnya.
Namun suasana hati yang baik segera hancur melihat para pemburu, dan ksatria mulai mendekati mereka. Driad menghindari puluhan anak panah dengan keringat dingin. Tak mau kalah, Driad akhirnya mendarat dan melawan mereka dengan pedang yang ia curi dari Hermes. Namun bagaimana mungkin, Driad sendiri, dengan Medusa yang lemah dan tak berdaya bisa mengalahkan ratusan ksatria dan pemburu di depannya?
Driad tahu jika situasi saat ini tidak menguntungkan mereka. Dia membuat keputusan yang menentukan di hatinya dan tersenyum. “Medusa! Cepat lari! Jangan pernah membalikkan badanmu! Aku bersumpah jika aku, Driad, akan melindungimu dengan setiap tetes darahku!” Teriak Driad membuat medusa yang tersungkur tak berdaya di tanah, menggelengkan kepalanya keras-keras sembari menitikkan air mata.
“Aku sudah memutuskan! Jangan buat pengorbananku sia-sia, Medusa!” bentaknya, dan akhirnya melempar Medusa yang masih tersungkur di tanah ke dalam hutan terlarang, mengabaikan teriakan tragis Medusa.
“Tuhan, tolong jaga Medusa. Semoga di kehidupan selanjutnya, kita bisa bertemu kembali, dan tetap menjadi sahabat baik,” lirihnya.
Driad mengambil napas dalam-dalam, dia mengumpulkan semua kekuatan yang ia peroleh dari Hades di telapak tangannya.
Boom!
Percikan api melahap mayat yang telah terbujur kaku, di tengah badai asap yang tebal, terlihat sebuah permata biru safir yang tidak pada tempatnya. Permata itu bersinar terang, sebelum akhirnya meredup, dan padam sepenuhnya. Seperti halnya kehidupan Driad.
Suara ledakan yang terdengar hingga radius seribu meter dari tempat Driad berdiri bergema ditemani teriakan tragis dan penuh kemarahan dari dalam hutan terlarang.
Sejak saat itu, tak ada lagi Nimfa imut yang akan menggoda para pria, dan membuat mereka tergila-gila. Hanya tersisa kenangan, yang lambat-laun akan pudar seiring berjalannya waktu.
Tak ada penyesalan dalam hati Driad, hanya kelegaan meninggalkan dunia yang penuh kekotoran.
Beginilah kehidupan, datang dan pergi.

Bionarasi Penulis
Rohmatul Adhimah, atau sering juga di sapa dengan nama ‘Imey’. Lahir 16 tahun yang lalu tepat pada tanggal 28 September di kota Kraksaan, Probolinggo. Selain hobi menulis, mengbucin, dan menghalu, ia juga senang mempelajari kosa kata bahasa asing supaya ketika dia kuliah di China, dia bisa berkomunikasi dengan teman dari negeri asing menggunakan beberapa kosa kata bahasa ibu mereka. Si mageran yang selalu garuk-garuk kepala ketika menghadapi segala hal yang berbau IPA, namun tetap memilih jurusan IPA di MAN 2 PROBOLINGGO.
Mottonya ialah tetap bangkit sesakit apapun ketika terjatuh, hingga akhir hayat menjemput.