Dunia Perghostingan ~ Lailatul Munawaroh

Spread the love
Butuh waktu 4 menit untuk membaca tulisan ini

Malam ini malam minggu, malam tanpa tugas. Malam yang ditunggu para pelajar, temasuk aku. Aku duduk di teras rumah menikmati gorengan yang dibuat oleh Ibu sembari memainkan ponselku. Menghidupkan data lalu membuka aplikasi whatssapp. Banyak pesan yang masuk dari grup, dari grup belajar, grup ekstra, grup musala hingga grup berbagi cerita. Ada juga sebagian pesan pribadi.
Pertama, Aku membuka grup belajar isinya hanya tugas yang dikumpulkan oleh teman sekelasku. Usai membaca grup belajar, aku membuka grup berbagi cerita. Malam ini temanya sangat menarik membahas tentang “DUNIA PERGHOSTINGAN”. Topik kali ini tentunya sudah tidak asing lagi. Amel sebagai admin grup mengumumkan bahwa acara ghibah akan dimulai pada jam 19.00 WIB.
Tepat pukul 19.00 WIB acara dimulai. Dibuka dengan salam dan pembacaan surat Al-Fatihah agar acara ghibah berlangsung dengan hikmat. Pesan masuk silih berganti. Para anggota grup menimpali apa yang disampaikan oleh Amel.
“Gimana adakah yang sudah pernah ngeghosting?” Amel bertanya di grup. Pesan tersebut tidak kurespon. Aku hanya melihat dan membaca pesan yang dikirim oleh Amel. Boro-boro Aku ngeghosting yang ada malah dighosting.
“Kalau cuman ngeghosting pernah sih,” balas Putri. Aku heran Putri yang terlihat polos ternyata pernah ngeghosting.
“Ngeghosting katak,” lanjut Putri ditambah dengan emoticon ngakak. Semakin bingung aku membaca pesannya. Ngeghosting katak? Memang katak punya perasaan?
“Maksudnya?” kutanyakan langsung kebingunganku.
“Ceritanya gini, awalnya aku ngejar-ngejar katak itu. Katak ke timur aku ikut ke timur. Aku mendekati katak itu, kurayu kataknya. Setelah dapat aku berikan begitu saja kepada guru biologi … hahahaha” jawabnya. Aku bersyukur ternyata temanku masih sehat. Aku mengira Putri sudah gila Ngeghosting hewan.
“Lah masih mending ngeghosting katak. Daripada aku dighosting Kakak,” sambung Kiki. Diantara Amel, Aku, Putri, Lili, dan Kiki. Memang Kiki yang mempunyai banyak KTG. Yang gak ngerti apa itu KTG. Jadi, KTG adalah kepanjangan dari Kakak Temu Gede.
“Wah … Kakak yang mana nih? Kan kamu punya banyak kakak,” tanya Lili
“Kakak yang kemarin itu loh, yang DM aku duluan di instagram. Kan dia yang mulai duluan. Terus dia juga yang ngilang gitu aja,” curhat Kiki
“Mangkanya jangan terlalu baperan. Kalau dighosting siapa yang nangis? Siapa yang sakit hati? Siapa yang disalahkan? Seharusnya sebagai generasi muda kita harus tahu mana yang harus di respon dan mana yang harus diabaikan. Ingat, Dia cuman ketik pakai jari! Maka yang harus kamu lakukan balaslah pakai jari bukan pakai hati. Jangan pernah menjalani hubungan yang serius hanya lewat dunia maya! Sekalipun laki-laki itu berjanji. Jadi, jika seorang laki-laki berjanji lewat sosmed. Tidak usah dipegang janjinya cukup screen shoot saja. Agar mudah untuk menghapus gambarnya. Ingat itu, Kiki!” jelasku panjang lebar.
Aku berkata begini bukan aku tidak pernah merasakan dighosting. Bukan pula karena aku tidak pernah merasakan jatuh cinta online. Kuberkata seperti ini agar temanku tidak sampai sakit hati. Dan hanya akan menambah beban fikiran. Karena otak kita sama seperti memori. Jika ada file yang terlalu berat. Maka akan menggangu sistem kerja Handphone. Begitupun dengan otak kita. Jika, kita memikirkan yang terlalu berat, bisa menyebabkan tubuh kita tidak maksimal.
“Okey,” jawab Kiki

“Yang nasehatin sudah berpengalaman? Atau sekedar memberi nasehat? Atau bagaimana nih?” tanya Amel yang selalu hadir dengan rentetan pertanyaannya.
“Berpengalaman dong,” jawabku.
“Apakah boleh menceritakan pengalamannya di dunia perghostingan?” tanya Lili
“Kesalahanku sama seperti Kiki. Karena janjinya aku pegang bukan di screen shoot. Coba aja dari awal janjinya cukup di screen shoot. Pasti bakalan gampang menghapusnya,” jawabku sekenanya
“Terus gimana sekarang sudah kehapus atau belum?” tanya Amel penasaran
“Yah belum lah, kan aku sudah bilang janjinya ga aku SS. Yang artinya janjinya aku simpan di tempat yang lain. Aku lupa naruh janjinya itu dimana,” jawabku asal
“Coba cari di bawah meja, atau lemari buku, atau jok sepeda motor!” canda Putri
“Yah kali di jok sepeda motor, emangnya apaan? Jas hujan? Kalau di lemari buku kan isinya janjiku padamu yang kutulis di buku Bahasa Indonesia. Bukan janjinya padaku,” jawabku menanggapi candaan Putri.
“Janjiku padamu apaan? Emang aku pernah punya janji sama kamu? Emang sejak kapan ada pelajaran Bahasa Indonesia bab janji?” tanya Putri
“Pernah, yaitu janji belikan es degan di depan sekolah. Dan soal pelajaran Bahasa Indonesia nanti tinggal tambahin sendiri bab XXX yaitu bab janji,” jawabku asal. Memang pernah saat itu Putri berjanji membelikan aku es degan, dan itu kutulis di buku bahasa Indonesia untuk mengingat-ngingat. Karena janji adalah hutang.
“Emang gimana sih cerita awalnya?” tanya Kiki yang mulai penasaran.
“Cerita es degan?” jawab Putri
“Bukan itu Put! Tapi cerita tentang pengalaman teman kita yang pernah dighosting,” jawab Kiki
“Siapa euy yang pernah dighosting?” tanyaku pura-pura tidak mengetahui bahwa yang dimaksud adalah aku.
“KAMU! Cepat cerita!” jawab Kiki yang mulai emosi
“Kiki yang cantik, imut, dan baik hati ga boleh marah-marah! Terkadang tidak semua hal bisa dijelaskan. Cukup disimpan dan dijadikan pelajaran agar tidak terulang,” jawabku mengalihkan. Karena tidak ingin menceritakan masalah ini terlalu jauh.
“Katanya jangan disimpan agar memorinya tidak penuh,” timpal Amel membalik ucapanku.
“Tidak seperti itu konsepnya AMELIA!” jawabku yang mulai tersulut emosi. Kalau bicara dengan Amelia memang harus diteliti. Karena dia sangat jeli dalam menyimak setiap obrolan.
“Konsepnya begini Mel.” Putri menyambung penjelasanku. Memang diantara teman yang lain. Putri ini merupakan sosok teman yang paling pengertian.
“Lanjutkan Put! Jelaskan kepada Amelia,” jawabku menyemangati Putri
“Jadi konsepnya itu, Kamu ambil uang dari sakumu lalu keluar dari rumah. Dan hentikan orang penjual es dawet. Kamu beli es dawet kemudian langsung aja seruput,” jawab Putri yang menjelaskan tentang konsep penyimpanan.
“Itu mah kamu aja yang pikirannya dipenuhi es dawet,” Lili ikut menimpali jawaban Putri.
“Heheheheh.” Putri tertawa online.
“Kalian ini sudah muncul gejala gilanya. Sebelum kita terlanjur gila. Marilah kita tutup perbincangan kita tentang dunia perghostingan ini dengan bacaan hamdala!” Amel menutup perbincangan
“Alhamdulillah,” jawab Kiki mewakili semua anggota grup.
Jam masih menunjukkan pukul 20.30 WIB. Perbincangan tadi mengingatkanku pada seseorang. Yang memberi harapan kemudian hilang begitu saja. Akan tetapi, ini memang salahku yang terlalu berharap pada yang tidak pasti.
Aku tidak menyesali hal tersebut. Aku sangat bersyukur, karena dengan itu tandanya Allah masih sayang kepadaku. Dengan cara menyadarkanku bahwa membalas pesan pakai hati itu menyakitkan. Satu hikmah yang bisa kuambil dari pengalamanku. Bahwa dighosting merupakan cara Allah dalam mencurahkan kasih sayangnya.