Ali bin Abi Thalib: Babul Ilmi Kepercayaan Rasulullah Saw. ~ Amelia Hasanah

Spread the love
Butuh waktu 3 menit untuk membaca tulisan ini

Siapa yang tidak mengenal Ali bin Abi Thalib? Nama ini sudah sangat familiar di kalangan umat Islam. Ali adalah sosok yang memiliki peran penting dalam memperjuangkan agama Allah. Ia bukan hanya sahabat dan menantu Nabi, tetapi juga sepupu Nabi yang diasuh sejak berusia enam tahun. Ali tumbuh di bawah bimbingan langsung Rasulullah, dipenuhi dengan kasih sayang. Tidak heran jika Ali bin Abi Thalib memiliki akhlak mulia, karena panutan sejak kecilnya adalah Rasulullah.

Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang memeluk agama Islam dari kalangan anak-anak, dan juga orang ketiga yang mendirikan sholat setelah Rasulullah dan istrinya, Siti Khadijah. Saat itu, Ali bin Abi Thalib berkunjung ke rumah Nabi tepat saat Rasulullah dan istrinya sedang melakukan shalat.

Ali bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang sedang Anda lakukan?” Rasulullah menjawab, “Inilah agama Allah dan untuk itu Dia mengutus utusan-Nya. Aku mengajakmu untuk masuk ke jalan Allah yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan hendaklah engkau kafir kepada patung Latta dan Uzza.”

Ali kemudian berkata, “Sesungguhnya ajakan ini sama sekali belum pernah aku dengar sampai hari ini. Karena itu, aku harus berunding dengan ayahku, Abi Thalib. Sebab, aku tidak dapat memutuskan sesuatu tanpa dia.”

Rasulullah mencegah niat Ali yang ingin mengatakannya kepada sang ayah. Beliau tidak mau agama ini tersebar sebelum datang wahyu dari Allah.

“Ali, jika engkau belum mau masuk Islam, sembunyikanlah dahulu kabar ini!” kata Rasulullah.

Ali bin Abi Thalib mantap dengan ajakan Rasulullah. Sejak itu ia menyatakan untuk memeluk agama Islam.

Babul Ilmi (gerbangnya ilmu) adalah julukan yang melekat pada diri Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah orang yang sangat pandai dan cerdas. Pada masa itu, jarang sekali ada orang yang bisa membaca dan menulis, bahkan Rasulullah SAW adalah seorang ummi atau buta huruf. Karenanya, Ali bin Abi Thalib ditugaskan menjadi juru tulis Rasulullah SAW.

“Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali bin Abi Thalib adalah pintunya,” sabda Rasulullah.
Keberanian Ali bin Abi Thalib tidak ada duanya. Ia akan membinasakan semua orang yang ingin menyakiti Rasulullah dengan pedangnya. Ya, Ali bin Abi Thalib sangat lihai dalam memainkan pedang. Pedang Zulfikar adalah salah satu pedang Rasulullah SAW yang kemudian diwariskan kepada Ali bin Abi Thalib KW. Senjata ini menjadi saksi perjuangan kaum Muslimin melawan kaum kafir Quraisy.

“Tidak ada pedang, setajam pedang Zulfikar dan tidak ada pemuda yang setangguh Ali bin Abi Thalib.”

Beliau mengikuti semua perang, kecuali perang Tabuk. Karena Rasulullah memerintahkan dirinya untuk menjaga Madinah menggantikan Rasulullah. Ali rela mempertaruhkan nyawanya demi Rasulullah. Dibuktikan saat Rasulullah hijrah ke Madinah yang saat itu rumah Rasulullah dikepung oleh kaum kafir. Untuk mengelabui musuh, Ali menggantikan Rasulullah di tempat tidur beliau sebagai wujud ketaatan dan pengorbanan untuk melindungi Rasulullah dan dakwah Islam. Ia tidak takut jika dirinya yang menjadi sasaran kaum kafir.

Ali juga dipercaya menjaga putri kesayangan Rasulullah, Siti Fatimah Az-Zahra. Kisah cinta Ali bin Abi Thalib dengan Siti Fatimah sangat unik. Keduanya saling mencintai secara diam-diam. Ali yang saat itu tidak mempunyai apa-apa tidak berani meminang putri Rasulullah.

Banyak sahabat-sahabat Nabi yang meminang Fatimah termasuk Abu Bakar dan Umar. Ali terkejut mendengar itu, ia berkecil hati jika dibandingkan dengan Abu Bakar dan Umar, ia tidak apa-apanya. Ali ridho jika Fatimah tidak berjodoh dengan dirinya. Namun, Rasulullah menolak semua lamaran itu. Ali mencoba memberanikan diri untuk meminang Fatimah, siapa sangka lamarannya diterima oleh Rasulullah. Kemudian mereka dinikahkan dengan mahar 400 dirham dari hasil penjualan baju perang Ali. Saat ijab kabul, Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah, putri Khadijah, dengan Ali bin Abi Thalib. Maka saksikanlah, sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan mas kawin empat ratus dirham (nilai sebuah baju besi), dan Ali menerima mahar tersebut dengan ridha.

Ali bin Abi Thalib juga dikenal sebagai Khalifah terakhir dalam Islam setelah Usman bin Affan. Selama masa kepemimpinannya sebagai Khalifah, ia memiliki tanggung jawab besar untuk memperluas syiar agama Islam dan menjaga kesejahteraan rakyatnya. Masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib bisa dibilang sebagai periode yang paling sulit, karena terjadi perang saudara di antara kaum Muslimin setelah tragedi pembunuhan Usman bin Affan.

=====

Saya Amelia Hasanah, yang mempunyai cita cita setinggi langit. Hobi membaca dan menulis. Salah satu dari sekian banyak orang penyuka hujan.