Aku Bukan Dia ~ Syafhira Khoirotun Zahra

Spread the love
Butuh waktu 4 menit untuk membaca tulisan ini

Nampak seorang gadis sedang menumpukan tangannya di pembatas balkon kamarnya yang sangat dingin karena angin malam yang berhembus kencang. Dalam diam ia berpikir dengan tangan yang memegang pembatas balkon mengepal erat hingga ujung jarinya memutih.

Pandangannya datar dan tajam menatap lurus kedepan. Terus berputar dalam benaknya kalimat-kalimat menyakitkan dari sosok yang seharusnya memberikan ia kasih sayang. Helaan nafas terdengar setelah sekian menit ia terdiam dengan pikiran yang berkecamuk. Pandangannya yang semula hanya menatap lurus kedepan, kini ia alihkan untuk melihat indahnya langit malam yang bertabur bintang.

“Semua berubah sejak kau meninggalkanku selamanya, Bun. Kasih sayang itu tak lagi sama, hanya ada kalimat kasar dan rendahan yang mereka tujukan kepadaku,” ucapnya sendu dengan mata yang berkaca-kaca.

Perlahan air mata itu jatuh dan menciptakan anak sungai dipipinya yang dingin karena terpaan angin malam. Isak tangisnya terdengar pelan dengan getaran pelan dibahu kecilnya.

Dulunya ia adalah gadis periang yang selalu tersenyum, namun setelah hari itu, hari dimana ia kehilangan penopang hidupnya, senyum yang selalu terpampang di wajahnya mulai menghilang digantikan dengan tatapan datar yang menusuk.

Alexa Queenzy Berlyn adalah namanya. Ia seorang gadis rapuh yang menggunakan topeng berwajah datar dengan tatapan yang menusuk tajam.

15 menit berlalu, ia merasa sudah cukup tenang. Alexa menghapus air matanya dengan kasar dan beranjak masuk kekamar karena waktu sudah menunjukkan larut malam, dan yaa … besok ia harus sekolah.

=====

Skip jam 6.10 pagi.

Alexa berjalan pelan ke ruang makan untuk sarapan. Dengan tatapan datarnya ia melangkah dengan pelan namun tegas. Setibanya di ruang makan, ia menatap datar keluarganya yang telah memulai sarapan padahal ia belum bergabung.

“Huft, masih pagi udah bikin mood turun aja,” batinnya sebal.

Tak ingin badmood karena melihat tatapan mereka yang terkesan merendahkan dan acuh, ia pun memutar arah dan berjalan dengan langkah tegas menuju garasi untuk mengambil motor.

“Brumm!” deru motornya terdengar sangar, ia memakai helm fullfacenya sambil menggeber-geber gas motornya menambah kesan garang lalu mulai melaju dengan kecepatan sedang.

20 menit mengebut kendaraannya, Alexa sampai di SMA Angkasa. Ia memarkirkan motornya lalu beranjak menuju kelasnya dan langsung duduk di kursinya yang berada di bagian belakang dekat jendela.

Tangannya aktif mengotak-atik ponselnya untuk memutar lagu, setelahnya ia telungkupkan wajahnya dengan tangan di atas meja. Alexa tak tidur, ia hanya memejamkan mata mencoba menetralkan moodnya.

“Halo bestiee!” sapa seorang lelaki bernama Shaka Winata yang merupakan teman Alexa.

“Weh! masih pagi udah loyo aja.” ucapnya dengan nada bercanda.

“Diem, Lo! Gua belum sarapan, beliin gua sana!” sentak Alexa dengan wajah kesal.

“Ouw, kalem dong, Sis. Iya gua beliin, nggak usah ngomel,” ucap Shaka mencoba mengembalikan suasana, namun Alexa hanya diam dan memandang temannya dengan datar.

Tak menemukan tanda-tanda sang teman akan menjawab, Shaka pun melangkah ke kantin untuk membelikan Alexa sebungkus roti dan sekotak susu coklat. Tak berselang lama, Alexa sudah memakan makanannya dengan tenang dan berterima kasih atas kebaikan Shaka.

=====

Setelah proses belajar yang membosankan, bel pulang berbunyi tanda jam pelajaran telah berakhir. Alexa segera berjalan menuju parkiran dan pulang.

Sesampainya Alexa di rumah, terlihat banyak motor yang terparkir di halaman. Ia menatap datar jejeran motor di depannya dan mendengus pelan, “Huh … pasti itu temen-temen kakak, siapin mental ajalah.”

Setelah memarkirkan motornya, Alexa berjalan masuk kerumah dengan langkah tegas tak lupa tatapan datarnya yang khas dan menusuk.

Saat melangkah memasuki rumah, ia mengucapkan salam. Ia lihat di ruang tamu, kakaknya nampak asik berkumpul dengan tiga temannya.

“Dari mana aja, Lo?” tanya kakak laki-lakinya yang bernama Davi dengan ketus.
“Sekolah.” Alexa menjawab dengan raut wajah malas dan berlalu pergi ke kamarnya.

“Wih, singkat banget adek lo jawabnya,” ucap salah satu teman Davi yang membuat Davi terlihat semakin kesal.

=====
Tiba waktu makan malam, semua anggota keluarga kecuali Alexa sudah berkumpul di meja makan.

“Ck, mana sih tuh bocah, laper banget gua,” ucap Davi berdecak kesal.

Tak lama setelah Davi mengomel, terdengar langkah kaki Alexa yang kemudian muncul dengan wajah datarnya.

“Ngapain aja sih kamu, lihat tuh kakak-kakakmu sudah kelaparan nungguin kamu!” bentak sang ayah ketika Alexa duduk di kursinya., membuatnya hanya bisa menunduk dengan tangan yang mengepal sempurna di bawah meja.

“Ma- maaf, aku tadi ketiduran.” lirihnya sambil tetap menunduk, sementara sang ayah hanya merotasikan matanya dengan malas, lalu memulai makan malam dengan tenang.

Setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil menonton TV.

“Ngapain kamu kesini?” tanya ayah kepada Alexa dengan nada yang cukup tinggi.

“Aku juga mau nonton TV bareng-bareng,” terang Alexa pada Ayahnya.

“Kamu kan nggak diajak, lagi pula kamu tuh harus belajar. Contoh tuh kakak-kakakmu yang selalu belajar sampai larut malam. Nggak kayak kamu tuh, bisanya cuma main HP saja.” Ayah Alexa mulai menceramahi putrinya.

“Astaga, tadi kan kakak udah ngingatin kamu buat belajar, gimana kalau kamu lupa nyiapin pelajaran besok,” sambung kakak perempuan Alexa yang bernama Dea.

“Dengar tuh, kakak kamu udah perhatian banget sama kamu. Dea dulu kerjanya cuma belajar dan belajar, nggak santai-santai kayak kamu gini. Udah! Sekarang kamu cepat masuk kamar … dan belajar!” Kembali sang ayah membentak Alexa dengan kasar.

Mendengar bentakan tersebut, ditambah dirinya terus dibanding-bandingkan, Alexa dengan hati hancur segera beranjak dan berlari menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Alexa mengunci pintu lalu duduk di atas ranjang dengan memeluk lututnya.

“Lagi-lagi aku dibanding-badningkan. Kenapa sih mereka nggak pernah bisa hargai usahaku, kenapa harus nilai dari satu sisi aja sih. Meskipun udah sering dengar, tapi hati ini tetap aja sakit kalau terus dibandingin kayak gitu.” Alexa hanya bisa menangis menumpahkan rasa sesak didada.

“Bun … kenapa ninggalin aku sendiri di sini. Aku mau bareng Bunda, aku lelah, bawa aku ikut ke sana, Bun.” Alexa terus menangis meratapi dirinya yang terus saja diperlakukan dengan tidak adil.

Lelah menangis, Alexa merasa tubuhnya ingin beristirahat. Sebelum benar-benar terlelap ia bergumam lirih, “Tuhan hilangkan rasa sakit ini, aku tidak sanggup.”

=====

Setiap orang itu berbeda-beda, lantas mengapa selalu ada perbandingan diantaranya. Bahkan perkataannya yang begitu tajam mampu mengoyakkan lapisan baja yang menjadi pelindung mental.

Setiap orang memiliki potensinya masing-masing, jangan samakan seseorang dengan yang lain, selain merusak semangatnya, kalian juga dapat merusak psikis yang dijaga dengan begitu apiknya.

=====

Haii…
Saya Syafhir, suka membaca dan mendengarkan musik:)
Merangkai kata adalah hal yang saat ini sangat aku suka.
Mempunyai motto “Kalau belum mencoba jangan bilang tidak bisa”.
Terimakasih karena telah meluangkan waktu sejenak untuk membaca hihi..
Sampai jumpa di karya saya yang berikutnya:)