Ada Hal Yang Lebih Berharga ~ Shella Nova Wahidiyah

Spread the love
Butuh waktu 5 menit untuk membaca tulisan ini

Stella, seorang gadis berusia 15 tahun, berdiri termenung di halte bus. Hujan deras telah mengguyur kota Probolinggo sejak sore tadi, membuat udara yang biasanya panas menjadi sejuk. Stella sudah menunggu bus sejak lama, tetapi belum ada tanda-tanda bus akan datang.

Tiba-tiba, seorang pria mendekatinya. Pria itu juga pelajar SMA, dan Stella sering melihatnya di sekolah. “Hai, kamu sudah lama nunggu ya? Mau gak aku antar pulang? Tenang aja, aku gak bakal ngapa-ngapain kok,” kata pria itu dengan nada ramah, tetapi juga gugup.

Stella terkejut dengan tawaran itu. Dia tidak mengenal pria itu, tetapi dia juga tidak mau menolaknya. Dia merasa bosan dan lelah menunggu bus yang tak kunjung datang. “Oke deh, aku mau,” jawab Stella tanpa ragu.

Tanpa banyak bicara, mereka berdua naik motor pria itu dan melaju di tengah hujan. Mereka tidak saling kenalkan diri, tetapi mereka merasa akrab satu sama lain. Beberapa jam kemudian, mereka sampai di rumah Stella dengan selamat. Pria itu pun pamit dan kembali ke rumahnya.

Keesokan harinya, di sekolah, pria itu mendapat hukuman dari guru piket karena tidak memakai dasi. Dia harus berdiri di depan bendera selama upacara bendera berlangsung. Stella melihat pria itu dari barisan kelas sepuluh. Dia merasa penasaran dengan pria yang telah mengantarnya pulang kemarin. Dia menatapnya dengan intens.

Pria itu juga melihat Stella dari tempatnya dihukum. Dia tersenyum tipis dan membalas tatapannya. Mereka berdua saling beradu pandang, tanpa menyadari bahwa upacara bendera sudah selesai. Mereka baru sadar ketika teman-teman mereka menarik-narik mereka untuk kembali ke kelas.

Saat jam istirahat, Zen dan teman-temannya menuju ke kelas Stella. Zen ingin berkenalan dengan gadis yang telah menarik perhatiannya itu. Dia merasa canggung dan gugup, tetapi dia berusaha bersikap santai.

Zen menyuruh teman-temannya untuk pergi dulu, agar dia bisa berbicara dengan Stella secara pribadi. Dia mendekati Stella yang sedang duduk di bangkunya. “Hai, aku sering lihat kamu di sekolah, tapi aku gak tahu namamu. Namamu siapa?” tanya Zen dengan ramah.

“Namaku Stella, Kak,” jawabnya dengan nada gugup karena terkejut.

“Namaku Zen. Aku kelas duabelas. Kamu kelas berapa?” tanya Zen lagi.

“Kelas sepuluh,” jawab Stella singkat.

Zen merasa ada jarak antara mereka. Dia ingin mengajak Stella lebih akrab, tetapi dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia melihat jam tangannya dan berkata, “Eh, udah mau habis istirahat nih. Kamu mau ke kantin gak? Ayo bareng aja.”

Stella menolak dengan halus. “Gak usah deh, Kak. Aku gak lapar kok.”

“Oh, gitu ya. Kamu gak suka sama aku ya?” tanya Zen dengan nada bercanda.

Stella salah tingkah. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia merasa ada yang aneh dengan perasaannya terhadap Zen. Dia juga ingat bahwa temannya, Zira, suka sama Zen. Dia tidak mau merebut Zen dari Zira.

Stella berpura-pura tersenyum dan berkata, “Enggak kok, Kakak baik sih. Cuma aku lagi gak enak badan aja.”

Zen tidak percaya dengan alasan Stella. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Stella darinya. Dia ingin mengetahui lebih banyak tentang Stella.

Zen mendekatkan wajahnya ke wajah Stella dan berkata dengan lembut, “Kamu yakin gak apa-apa? Kamu cantik banget sih.”

Stella merasa panik. Dia merasa nafas Zen terasa di pipinya. Dia tidak tahan lagi dengan situasi itu. Dia bangkit dari bangkunya dan berlari keluar kelas.

Zen bingung dengan tingkah laku Stella. Dia tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Dia merasa tertarik dengan Stella, tetapi dia juga tidak mau memaksanya.

Zira melihat Stella berlari keluar kelas dengan wajah pucat. Dia khawatir dengan sahabatnya itu. Dia mengikuti Stella dan menanyakan keadaannya.

“Stel, kenapa kamu? Kamu gak sakit kan?” tanya Zira dengan cemas.

Stella menggeleng-geleng kepala sambil mengatur napasnya. “Gak papa kok, Zi. Aku cuma capek aja.”

Zira tidak puas dengan jawaban Stella. Dia merasa ada yang disembunyikan Stella darinya. Dia menduga bahwa itu ada hubungannya dengan Zen.

Zira bertanya lagi dengan nada tegas, “Jujur deh Stel, kamu ada masalah sama Zen ya?”

Stella terdiam. Dia tidak bisa berbohong kepada Zira, tetapi dia juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.

Dia merasa bersalah kepada Zira. Dia tahu bahwa Zira menyukai Zen sejak lama. Dia tidak ingin menyakiti perasaan Zira. Tetapi dia juga tidak bisa menolak perasaan aneh yang muncul di hatinya atas perlakuan Zen tadi. Khawatir Zen akan menyusulnya dan membuat masalah semakin runyam, Stella pun bergegas pergi meninggalkan Zira.

Zen mencari-cari Stella yang telah berlari meninggalkannya. Dia ingin mengejar Stella dan menjelaskan perasaannya. Dia berharap Stella tidak menolaknya.

Zen melihat Zira yang sedang berdiri di dekat kantin. Dia mengenal Zira sebagai teman dekat Stella. Dia berpikir bahwa Zira mungkin tahu keberadaan Stella.

Zen mendekati Zira dan menyapa dengan ramah, “Hai, Zi. Kamu temennya Stella kan?”

Zira terkejut dengan sapaan Zen. Dia tidak menyangka bahwa Zen mengingat namanya. Dia merasa senang dan gugup sekaligus.

Zira menjawab dengan malu-malu, “Hai, Kak Zen. Iya, aku temennya Stella.”

Zen bertanya dengan penasaran, “Kamu tahu gak di mana Stella sekarang? Tadi aku lihat dia lari ke sini.”

“Eh, dia tadi kayaknya langsung ke kelas, Kak,” jawab Zira dengan nada ragu membuat Zen nampak semakin bingung.

Zira masih merasa penasaran dengan tingkah laku Zen dan Stella. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara mereka. Dia pun bertanya dengan nada ingin tahu, “Oh iya, Kak Zen, ada apa sih sama Stella?”

Zen tersipu-sipu. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya terhadap Stella. Zen berkata dengan jujur, “Aku suka sama Stella. Aku pengen deket sama dia. Kamu bisa bantu aku gak?”

Zira terkejut dengan pengakuan Zen. Dia merasa sakit hati dan iri sekaligus. Dalam hati ia bergumam, “Kenapa Kak Zen harus suka sama Stella? Padahal aku yang dulu suka sama dia. Apa aku harus bilang ke Kak Zen? Apa aku harus rela melepaskan dia?”

Zira menelan ludahnya dan berpura-pura tersenyum. Dia berusaha bersikap baik kepada Zen.

Zira berkata dengan pura-pura ikhlas, “Wah, selamat ya Kak Zen. Aku senang buat kamu. Aku yakin Stella juga suka sama kamu kok.”

Zen senang mendengar kata-kata Zira. Dia merasa Zira adalah teman yang baik dan mendukungnya.

Zen berkata dengan penuh terima kasih, “Makasih ya Zi. Kamu temen yang baik banget. Aku harap kamu juga bisa dapet pacar yang kamu suka.”

Zira tersenyum pahit dan berkata, “Iya deh Kak Zen. Semoga kamu bahagia sama Stella.”

Zen mengucapkan selamat tinggal kepada Zira dan berjalan menuju kelasnya. Dia ingin menemui Stella dan menyatakan cintanya.

Sementara itu, Stella keluar dari kelasnya untuk mencari udara segar. Dia merasa bingung dengan perasaannya terhadap Zen.

Stella berkata dalam hati, “Kenapa Kak Zen harus deket sama aku? Padahal dia kakak kelas yang disukai Zira. Aku gak mau merebut Kak Zen dari Zira.”

Stella melihat Zen dan Zira yang sedang berbicara di dekat kantin. Dia tidak tahu bahwa mereka berdua sedang membicarakan dirinya.

Saat pulang sekolah, Zen kembali menemukan Stella yang sedang berjalan sendirian. Dia ingin memberikan tumpangan kepada Stella seperti sebelumnya. Dia berharap Stella mau menerima tawarannya.

Zen mendekati Stella dan berkata dengan ramah, “Hai, La. Mau gak aku anterin pulang? Aku gak sengaja kok lewat sini.”

Stella menolak dengan halus, “Gak usah, Kak Zen. Aku bisa pulang sendiri kok. Makasih ya udah nawarin.”

Zen merasa ada yang aneh dengan sikap Stella. Dia merasa Stella menjauh darinya.

Zen bertanya dengan penasaran, “La, kamu kenapa sih? Aku ada salah sama kamu? Kamu kok jadi dingin gitu?”

Stella menghela napasnya. Dia tidak tahan lagi menyimpan rahasia ini.

Stella menjawab dengan jujur, “Emm, sebenarnya Zira teman aku yang kakak temui saat kakak mau ke kelas aku itu, dia suka sama kakak. Kakak gak peka ya? Dia ngode di story terus. Aku merasa bersalah karena aku dipikirnya deketin kakak. Zira pikir aku suka sama kakak dan kakak juga suka sama aku. Maaf ya Kak Zen, aku gak mau persahabatanku sama Zira rusak gara-gara cowok.”

Zen terkejut mendengar pengakuan Stella. Dia tidak menyangka bahwa Zira suka sama dia, “Loh, kok bisa? Aku gak tahu kalau Zira suka sama aku. Aku pikir dia cuma temen baik kamu aja.”

Stella berkata dengan sedih, “Ya begitulah Kak Zen. Aku gak bisa menerima perasaan kakak karena aku sayang sama Zira. Aku harap kakak mengerti.”

Stella pun pergi meninggalkan Zen yang masih terdiam. Dia merasa sedih dan lega sekaligus.

Sementara itu, Zira melihat Zen dan Stella yang sedang berbicara dari kejauhan. Dia tidak tahu bahwa mereka berdua sedang membicarakan dirinya.

Zira berkata dalam hati, “Kenapa Kak Zen harus ngobrol sama Stella? Apa mereka udah jadian? Apa aku harus nyerah aja?”

Zira pun berbalik dan berjalan menjauh dari mereka. Dia merasa sakit hati dan putus asa sekaligus.

Beberapa bulan kemudian, Zen dan Stella menjadi asing satu sama lain. Mereka jarang bertemu dan berbicara lagi.

Stella dan Zira tetap bersahabat seperti biasa. Mereka tidak memikirkan cowok lagi.

Zen pun melupakan perasaannya terhadap Stella. Dia mencari cewek lain yang bisa membuatnya bahagia.

=====

Perkenalkan, nama saya Nova. Saya memiliki dua hobi yang sangat saya sukai, yaitu menulis dan menyanyi. Sejak SMP, saya sudah gemar membuat cerita dengan berbagai genre dan tema. Saya memiliki moto hidup yang selalu saya pegang teguh, yaitu “terlahir dari keluarga sederhana tidak akan menghalangi cita-cita ku untuk mencapai kesuksesan”. Saya percaya bahwa dengan kerja keras, kreativitas, dan optimisme, saya bisa mewujudkan impian saya.