A Choice ~ Rohmatul Adhimah

Spread the love
Butuh waktu 12 menit untuk membaca tulisan ini

“Va, kamu kalau pake baju yang bener. Yang menutup aurat, bukan membuka aurat,” nasihat Ana sembari mengerutkan dahinya melihat sahabatnya, Eva memakai baju yang ketat dan memakai jilbab, namun tidak menutupi dadanya.
“Udah deh An, jangan mulai lagi. Ini tuh namanya kekinian, tau nggak? Toh, gue ga pernah tuh mempermasalahkan baju lo tiap kota nongkrong. Tapi kok lo sewot mulu sih sama apa yang gue pake?” tuduhnya.
“Bukannya sewot, tapi sebagai wanita, kita itu harus menyayangi diri kita sendiri. Jangan mengumbar harta diri kita yang seharusnya kamu sembunyikan rapat-rapat.” Ana mendekati Eva, dan langsing memperbaiki jilbab ‘kekiniannya’ yang tidak memenuhi standar islam.
Ini lah keseharian mereka bertiga, tiada hari tanda pertengkaran. Namun anehnya mereka bisa terus bersahabat selama lebih dari satu tahun, hebat bukan?
“Udah udah! Kita kan kesini mau ngerayain ultahnya Ana. Ribut mulu kalian berdua mah, kek Tom and Jerry!” kikik Airin membuat keduanya kompak memelototinya.
Airin menghiraukan mereka dan langsung menyeret keduanya menuju food court yang sering mereka kunjungi. Sesampainya disana, Ana sedikit menarik lengan baju mereka dan berkata, “Makan biasa aja ya? Gak usah dalam rangka perayaan. Lagian, ngapain sih ngerayain ultah? Ngerayain kalau umur saya di dunia ini berkurang satu tahun?”
“Hush! Ngomongnya! Ini tuh kita ngerayain karena kamu bertambah dewasa, gitu.” jawab Airin yang di angguki Eva. “Lo jangan kolot deh, An. Ga seru lo mah,” celetuknya yang di hadiahi toyoran oleh Airin.
“Jangan mulai deh Va,” tegurnya, Eva hanya bisa memutar bola matanya malas, tak lagi melanjutkan perdebatan yang melelahkan.
“Kalian pesen dulu deh, aku mo ke toilet dulu. Pesenin aku ramen kek biasanya ya!” ucap Airin sebelum ngibrit ke toilet.
Sebenarnya, toilet hanyalah alasan bagi Airin untuk menipu Ana. Dia keluar untuk mengambil tart yang telah dia dan Eva pesan untuk Ana beberapa hari yang lalu.
“Woy Ai!”
Airin yang mendengar nama ‘khas’nya terpanggil sontak menoleh ke belakang, dan matanya langsung menyipit bahagia. “Eh bule Depok! Kapan kamu balik dari Spanyol?” Benar saja, siapa lagi selain bule Depok sebelah rumahnya yang akan memanggilnya dengan sebutan ‘Ai’.
“Ck, jangan bule Depok dong, ga keren amat! Gue baru balik kemarin si, ini juga buat ngasi kejutan ultah ke nyokap,” cerocos pemuda tampan berambut pirang dan berpupil safir didepannya.
Airin mengangguk mengerti. “Emang mau beli apa?” tanyanya penasaran.
“Iyoi.”
“Kalau gitu bareng aja, sekalian aku ngambil tart pesenan aku juga.” Gabriel a.k.a bule Depok langsung merangkul bahu Airin dan berkata, “Go! Go!”
Airin langsung menyikut Gabriel dan menjaga jarak darinya.”Astagfirullah, bukan muhrim, pea!”
Gabriel meringis dan menangkupkan kedua tangannya dengan perasaan bersalah. “Sorry sorry lupa gue Ai.”
Airin hanya memelototi Gabriel, dan tak lagi meneruskan masalah tadi. Keduanya pun sampai di toko Tart. Ketika Airin hendak membayar tagihan, Gabriel sudah mendahuluinya.
“Ih kamu apaan si! Ini kan buat ultah sahabat aku, jadi harus aku yang bayar!” protes Airin.
“Entar pulang ikut gue ngerayain ultah Mommy yak, biar rame. Lo kembaliin dengan bentuk hadiah buat Mommy aja deh! Mommy pasti bakal seneng! Kan sekalian ngerayain gue balik ke Indonesia. Yah? Yah?” Gabriel menangkupkan kedua tangannya, mengeluarkan jurus andalannya, yaitu sok imut.
“Tapi hari ini aku masih mau belanja ama temen aku. Kayaknya kalo hari ini ga bisa deh,” ucapnya ragu.
“Gak papa, gue nungguin lo di kafe Starbucks di lantai 1 ya.” Tanpa menunggu jawaban dari Airin, Gabriel langsung melenggang pergi dengan senyum sumringan di wajah tampannya.
Airin menghela napas, bingung bagaimana harus menjelaskan kepada sahabatnya jika ia harus pulang lebih awal. Namun ia mengingat Tante Renata—Mommy si Gabriel— yang selalu baik padanya, bahkan melebihi Mama kandungnya sendiri dan akhirnya memutuskan untuk kembali bersama Gabriel.
Airin mengambil ponselnya dan segera menelpon Eva, bersiap untuk mengejutkan Ana.
“Gimana? Aman?” tanya Airin.
“Aman lah. Cepet, keburu si Ana balik entar.”
Airin yang mendengar itu langsung berlari kecil ke arah food court, bahkan sebelum ia sempat mengakhiri panggilan teleponnya dengan Eva.
“Lama amat dah lu Rin,” keluh Eva.
“Sorry, ada problem tadi.”
Setelah itu, tanpa basa-basi lagi mereka langsung menancapkan lilin dan menyalakannya.
“Buruan! Tuh si Ana mo kesini!” heboh Eva.
Dengan sigap Airin menyembunyikan kue tart, dan ketika jarak Ana dengan mereka hanya tinggal satu meter lagi, Airin langsung mengeluarkannya dan menyanyikan lagu ulang tahun bersama dengan Eva.
“Kalian ….” Ana tak bisa berkata-kata di depan suprise yang sahabatnya persiapkan. Sudah berada lama semenjak ia tiup lilin seperti ini? Semenjak ‘kejadian itu’, keluarganya selalu di selimuti oleh aura suram. Bohong jika ia mengatakan tidak terharu. Namun ajaran yang selalu ia terima membuatnya tidak bisa menerima tiup lilin ini sepenuhnya. Tetapi ia tak ingin merusak moment ini, dan mengecewakan sahabatnya. Jadi ia mengusulkan untuk meniup lilin bersama.
Selepas selesai makan di food court, mereka melanjutkan acara berbelanja baju dengan hedonnya. Tentu saja, hanya Eva dan Airin yang melakukannya. Ana hanya berbelanja kebutuhannya seperlunya saja. Meskipun Ana telah menasehati mereka untuk tidak boros, tapi perilaku boros sudah mendarah daging pada keduanya. Mungkin juga karena keduanya telah terbiasa dengan hal itu semenjak kecil.
Sekitar lebih dari dua jam kemudian, Airin menghentikan perilaku berbelanjanya yang hedon dan langsung membayar tagihan.
“Tumben lu dah selesai?” tanya Eva heran.
“Maaf ya guyss aku harus pulang sekarang, soalnya mau ngasih kejutan buat Tante Renata, beliau ultah juga sekarang,” terang Airin dengan nada menyesal.
“Santai aja, lagian kita juga mau pulang kok, iya kan Va?” ucap Ana, dan diangguki oleh Eva.
“See you tomorrow guyss! Byebye!” Pamit Airin sebelum melangkahkan kakinya menutu kafe Starbucks di lantai 1. Airin mengambil ponselnya, hendak menghubungi Gabriel, namun tepukan ringan di bahunya membuatnya reflek menoleh ke belakang.
“Kebiasaan banget si kamu!” ketus Airin.
Dengan sikap yang gentleman, Gabriel langsung mengambil alih semua kantong belanjaan Airin. Dia hanya terkekeh ringan dan bertanya, “Ini udah semua? Hadiah nyokap gue?”
“Udah dong!” jawab Airin dengan tampang songong yang di mata Gabriel sangat imut.
“Kalo gitu, gass lah.”
“Eh ntar lagi mampir di masjid deket sini dulu ya, aku belum sholat ashar soalnya,” pinta Airin.
“Oke, lu tunjukin aja jalannya. Gue agak lupa jalanan disini.”

Ketika sampai di masjid, Gabriel menunjuk dirinya dengan bingung. “Terus gue gimana? Nunggu di parkiran?”
“Kalo kamu mau masuk juga gak papa kok.”
“Emang boleh ya?”
“Ya boleh lah. Dah, keburu abis ntar asharnya, aku tinggal dulu!” ujar Airin sebelum pergi dengan tergesa-gesa.
Gabriel melangkahkan kakinya menuju masjid, yang menurutnya tempat yang sangat asing. Ia adalah seorang kristiani, lebih tepatnya keluarganya. Semenjak bekerja di perusahaan Daddynya yang terletak di Spanyol, dia yang notabenenya workaholic bahkan hampir melupakan agamanya, jika saja tidak ada Gereja Kristen yang lokasinya dekat dengan kantor tempat ia bekerja. Melihat Airin yang taat mengerjakan perintah agamanya, yaitu beribadah lima kali dalam sehari, secercah kekaguman terbit di hatinya. Mereka telah berteman semenjak masih kanak-kanak, tentu saja Gabriel tau kondisi rumah Airin. Sungguh menakjubkan melihat Airin yang bersikukuh tetap di jalan agamanya yang lurus.
Gabriel merasakan ragu di hatinya ketika telapak kakinya akan menapaki garis suci. Ia takut orang akan memandangnya dengan aneh, atau bahkan menanyainya “Hey mengapa anda berada disini?”. Namun nyatanya, semua kekhawatiran Gabriel tidak lah berguna. Tidak ada yang memandangnya aneh, orang-orang fokus mengerjakan ibadahnya dan tidak ada pula yang menanyainya meskipun dia hanya berkeliling namun tak kunjung sholat juga. Mendengar alunan ayat suci Al-quran yang meedu, membuatnya merasakan kedamaian yang langka. Jika saja dulu bukan Airin yang memberitahunya, jika mereka melanjutkan ayat suci mereka, dan bukannya lagu, maka Gabriel mungkin akan selalu berada dalam kesalahpahaman.
Setelah puas berkeliling, Gabriel memutuskan untuk kembali ke tempat parkir dan menunggu Airin. Namun tanpa disangka, Airin sendiri sudah duduk manis di bangku di sekitar tempat parkir.
“Gue kelamaan ya? Sorry ya,” ucap Gabriel.
Airin menatap Gabriel dengan seksama, dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, “Kamu ikut sholat apa gimana dah? Kok lama bener?”
“Engga si, cuma keliling doang. Untung ga di sangka orang aneh,” akunya sembari cengingisan.
“Ai gue pengen belajar soal agama lo,” celetuk Gabriel, sukses membuat Airin yang sedang meminum air mineralnya tersedak, matanya membulat kaget. “Hah serius kamu?!” serunya tak percaya.
“Dua rius Ai,” jelasnya sungguh-sungguh.
“Kenapa?” tanya Airin penasaran.
“Gue yang selalu gelisah, cuma ngerasa damai aja gitu di dalem masjid tadi. Jadi gue pengen tau, apa yang bisa bikin gue damai,” jawab Gabriel, dia kembali mengingat perasaan damai tadi dan langsung tersenyum tipis.
“Alhamdulillah … akhirnya Bang El dapet hidayah!” girangnya sambil meloncat-loncat kecil.
Gabriel yang melihat itu ikut tersenyum lebar, sudah lama ia tak melihat Airin sebahagia ini. Semenjak kejadian itu, dia selalu menyimpan semua emosi dan pikirannya sendiri. Meskipun ia selalu terlihat ceria, Gabriel tahu jika semua itu hanyalah kedok untuk menutupi goresan luka di hatinya.
“Oke! Um … mulai dari mana dulu yak? Dari dasar-dasarnya dulu deh ya?” gumam Airin.
Gabriel terkekeh dibuatnya. “Gak usah keburu-buru, masih banyak waktu kok. kita pulang dulu aja, Mommy pasti udah nunggu-nunggu dari tadi.”
Airin menepuk dahinya dan cengingisan. “Oh iya, lupa aku.”
Dalam perjalanan pulang, Airin menjelaskan dasar-dasar islam seperti rukun islam, rukun imam, dan bahkan beberapa cerita mengenai Rasulullah. Gabriel mendengarkan dengan seksama, dan sesekali menyela untuk bertanya. Tak terasa, perjalanan yang awalnya panjang terasa sangat singkat kali ini. Namun Airin hanya bisa berhenti setelah melihat pekarangan yang telah dia kenal, dan juga tempat dimana dia menghabiskan masa kecilnya terbanyak setelah rumah dan sekolah.
Gabriel turun dari mobil membawa kadonya dan juga Airin, diikuti oleh Airin yang membawa kue tart sederhana namun tetap memiliki kesan yang mewah di tangannya.
Gabriel berjalan di depan, dia memencet bel dan menunggu beberapa saat sebelum Mommynya membukakan pintu.
“Masih tau cara balik? Pulang-pulang bukannya nemenin Mommy, malah keluuran sendiri,” omel Renata sembari menatap sinis putranya. Dia tidak memperhatikan Airin yang berada di belakang putranya karena putanya yang terlalu tinggi, sedangkan Airin adalah gadis pendek yang selalu tak mau mengakui jika dirinya pendek.
“Happy birthday Mommy!” seru Airin membuat Renata akhirnya menyadari keberadaannya.
“Eh eh eh ada anak gadis Mommy ternyata! Yaampun dah tiga bulan ga ketemu tambah cantik aja anak gadis mommy! Duh makasih banget loh udah ngasih surprise gini,” heboh Renata, ia mengambil kue tart di tangan Airin dan menyerahkannya pada putranya sebelum merangkul Airin dan membawanya ke ruang keluarga.
Gabriel yang melihat itu hanya bisa tersenyum tak berdaya. Beginilah jadinya jika Airin berada di rumahnya. Airin lebih seperti putri kandung Mommynya, sedangkan ia hanyalah anak pungut yang Mommynya ambil di pinggir jalan.
“Sebenernya Ai lupa sama ultah Mommy, tapi Gabriel ngingetin Ai tadi. Maaf ya Mom …” ucap Airin merasa bersalah.
“Udah lah, kamu tuh kek sama siapa aja.” Renata menepuk ringan punggung Airin, matanya menatap Airin dengan penuh kasih.
“Ohya gimana kuliah kamu? Kamu ngambil manajemen bisnis kan? Kalau ada yang gak tau bisa tanya ke Iel, gini-gini meskipun mukanya ga meyakinkan dia itu cumlaude Harvard jurusan manajemen bisnis loh*
“Iya mom, Ai sering ngechat Bang El pas lagi bingung kok.”
“Bagus deh, yaudah kalian ngobrol dulu deh, Mama mau lanjutin masak bareng bi Iyem dulu,” ujar Renata sebelum pergi.
“Terus rencana masa depan lo gimana? Apa mau ikut magang di perusahaan Daddy gue aja?” tanya gabriel sambil menyilangkan kakinya.
“Masih gak tau si, entar mo mikir-mikir lagi.” Gabriel hanya mengangguk mengerti. Mereka pun kembali melanjutkan pembicaraan mereka yang belum selesai di mobil tadi. Keingintahuan Gabriel yang luas bahkan membuat Airin kewalahan hingga dirinya harus membuka google. Disinilah dia menyadari bahwa ilmunya masih cetek.
“Kalian ngobrol apa nih? Seru banget kayaknya?” celetuk Renata membuat keduanya sontak terkejut.
Airin menatap ragu Renata, lalu kembali menatap Gariel. Ketika ia hendak menjelaskan, Gariel telah mendahuluinya.”Mah, aku lagi belajar soal islam,” akunya membuat Renata tercengang.
“Kalau misalnya nanti … aku masuk islam, gimana mah?” tanya Gabriel. Renata hanya terdiam, dan suasana pun menjadi tegang karenanya.
“Itu hak kamu untuk memilih, Mama bakal tetep dukung kamu. Kalau Daddy kamu … yah dia gak akan peduli sih mau agama kamu apa, yang penting kerja tetep lancar,” ucap Renata, membuat keduanya langsung menghela napas lega.
Makan malam terhs berlanjut, Renata terus memperlakukan Airin sama seperti sebelumnya, tak ada yang berubah. Selepas selesai makan malam, Gabriel mengantar Airin ke rumah sebelah. Keduanya pun mengucapkan selamat tinggal.
Airin terpaku menatap rumah yang kosong melompong, dan hanya ada Bi Indah— pengasuhnya sejak kecil— yang menyambut kedatangannya. Rasa sesak kembali memenuhi dadanya, ia pun segera mengambil inhelar di tas kecilnya dan menghela napas. Seburuk apapun suasana hatinya malam itu, hari akan terus berlanjut. Airin kembali melanjutkan aktifitasnya seperti biasa. Hingga suatu hari, di hari yang mendung, di taman terpencil kampusnya, persahabatan yang telah ia pertahankan selama satu tahun nyaris berakhir begitu saja.
Taman Universitas Bengawen, Kota Mapang.
“Saya tidak berniat untuk menjalin hubungan, pergi sana!” ketus Ana dingin, ia mengepalkan tinjunya, mencoba menahan amarahnya yang nyaris meledak.
Pemuda di depannya hanya mengangkat alisnya. “Oke,” jawabnya sebelum melenggang pergi.
“Lo kenapa sih An?! Kan bisa kenalan dulu?! Gue gak nyuruh lo langsung pacaran sama si Aril tapi setidaknya lo ngehargain gue dong! Jangan kolot! Kalau kau nolak pun yaudah rolak biasa aja, gak usah sok ketus gitu. Kan gue malu entar pas ngumpul sama Aril!” keluh Eva, berhasil membuat Ana yang berada di ambang batas langsung meledakkan amarahnya.
“Kamu udah tau kalau saya bukan kamu yang akan menganggap zina adalah hal yang wajar! Menjadi wanita, kita harus meninggalkan rasa hormat pada diri kita sendiri. Kamu, yang selalu berkeliaran diantara para lelaki, apa pernah memikirkan ini?!” bentaknya penuh penekanan.
“What?!” Eva tersenyum miris dan mendengkus. “Hah Jadi … selama ini gue cuma wanita hina kan di pikiran lo? Fine. Wanita hina ini gak akan muncul di hadapan lo lagi, biar mata lo tetep suci, gak ternodai oleh gue yang hina dan penuh dosa ini,” imbuhnya dan langsung membalikkan badannya. Ia mengusap air mata yang hendak keluar dan segera mempercepat langkah kakinya.
“Hey! Mau kemana? Kok udah pergi? Katanya mau jajan? Eh lah? Kalian … kenapa?” tanya Airin bingung. Ia baru saja menyelesaikan matkulnya dan langsung mendapati Ana terduduk di rerumputan dan menenggelamkan kepalanya di pangkuannya. Sedangkan Eva pergi dengan Air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Tak ada yang menjawab pertanyaannya, hanya keheningan yang menyesakkan.
Airin mendekati Ana dan memeluknya. “An, kalian … kenapa?” tanyanya gelisah.
“Tanya sama temen kamu sana. Jangan ganggu saya,” jawab Ana dengan nada serak, dia menghindari pelukan Airin dan langsung pergi dengan langkah sempoyongan, meninggalkan Airin dengan tanda tanya besar di kepalanya.
Karena emosinya yang terlalu berat, Airin kembali merasakan rasa sesak yang familiar di dadanya. Dia segera mengambil inhelar di tasnya dengan tergesa-gesa, setelah rasa sesak di dadanya sedikit mereda, dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya terlebih dahulu.
Dring … dring …. dring …
Mendengar nada dering ponselnya, Airin langsung beranjak dari kasurnya, mengambil ponsel yang ia letakkan di meja belajarnya. “Halo?”
“Lo dimana Ai? Tadi gue ke rumah lo katanya lo masih kuliah. Jadi ga sempet pamit sama lo. Gue mo balik ke Spanyol buat ngurus kerjaan gue yang belum selesai sebelum pindah ke Indonesia. Lo jaga diri baik-baik, jangan kecapean, jangan sampe sakit,” jelas Gabriel di ujung telepon panjang lebar.
“Oke,” jawab Airin lemas dengan nada asal-asalan.
“Hey are you okay?” tanya Gabriel yang merasakan perbedaan dalam nada bicara Airin.
“I dont know. Sahabat aku tiba-tiba berantem, dan aku gak tau alasan jelasnya. Mereka semua keluar dari grub line yang aku buat, yah meskipun aku tetap keukeuh nambahin mereka lagi sih. Aku nanya kenapa kuga gaada yang jawab. Aku harus gimana Gab?” curhat Airin, ia merasa hari ini sangat lah melelahkan.
“Kasih mereka waktu buat berpikir, besok kamu bisa tanya lagi sama mereka.” nasihat Gabriel, membuat Airin langsung tercerahkan.
“Eh bentar lagi gue di pesawat. Gue tutup dulu yak, ingin jaga diri baik-baik!”
“Iya iya ….”
Setelah sepanjang hari berpikir bagaimana mendamaikan keduanya, rasa kantuk dan lelah mulai menyerangnya. Airin naik ke kasur dan memutuskan untuk mengisi kembali energinya terlebih dahulu. Namun di tengah malam, Airin terbangun karena guntur dan kilat yang terus menyambar. Susana di sekelilingnya membuatnya kembali mengingat moment yang selalu ingin ia lupakan. Ia menutup gorden dan bersembunyi di balik selimut, mencoba kabur dari suasana familiar di sekitarnya.
Rasa sesak kembali terasa di dadanya, ia mengobrak-abrik laci, dan tas kecilnya namun tidak menemukan inhelarnya. Yang ada hanyalah sisa inhelarnya dulu yang telah habis terpakai.
Ia mencoba tenang, dan mengambil handphonenya untuk menghubungi mama dan papanya.
“Halo? Mah … Ai … sesek mah …”
“Mamah sibuk! Kamu jangan manja deh! Kan ada Bi Indah.”
Tut … tut … tut …
‘Tapi Bi Indah kan lagi cuti pulang kampung Mah …’
Tak menyerah, Airin menahan sakit di dadanya dan menghubungi Papanya.
“Pah … Ai sesek …”
“Papa masih rapat penting. Kamu bilang sama bi indah saja.”
Airin mendongakkan kepalanya, air mata telah lama mengucur keluar, membuat rasa sesak di dadanya semakin kuat.
Ia mencengkram dadanya, tak lagi bisa berpikir tenang. Dia mencoba menghubungi Ana, Eva, dan Gabriel namun ketiganya mematikan ponsel mereka.
Airin terbaring terkapar, pasrah dengan nasibnya selanjutnya. Mendengar nada dering ponsel, ia mencoba mengangkatnya dengan tenaga akhirnya.
“Ai? Mau makan pizza bareng Mommy ga? Mommy abis pulang dari bogor nih—”
“Mom … Ai … sesek …” mendengar nada membelai yang familiar, tangis Airin seketika itu pecah.
“Sayang?! Kamu kenapa?! Jangan nakutin Mommy! Kamu bertahan, mommy segera kesana. Kita ke rumah sakit, yah?” Renata yang berada di ujung sana panik bukan main, ia segera berlari menerobos hujan bersama dengan kedua pengawalnya ke rumah sebelah.
Kedua pengawalnya mendobrak pintu rumah Airin, dan juga pintu kamar Airin, sebelum berhasil mengevakuasi Airin yang sudah lama terbaring lemas tak berdaya.
“Sayang?! Hey sayangnya mommy kan kuat, harus bertahan yah, oke? Demi Mommy, demi Gabriel,” lirih Renata dengan air mata berlinang.
Airin mencengkram kuat tangan Renata. Ia tidak menyangka bahwa saat terakhirnya, ternyata akan berada di pangkuan hangat Mommy Renatanya. “Mom … Ai … cape … ma … ka … sih …” ujar Airin.
Airin terengah-engah, keringat telah lama membasahi seluruh tubuhnya, ia berusaha menyelesaikan kalimat syahadat sebelum menutup matanya, untuk selamanya.
“Ai ….” Renata menangis meraung-raung meratapi kenyataan, meninggalkan sikapnya yang selalu elegan.
Hari pemakaman.
Ganriel mendekati nisan dengan terhuyung-huyung, masih tak percaya dengan kenyataan di depannya. Bagaimana mungkin gadis kecilnya … gadis kecilnya yang selalu menjadi ekornya dan memanggilnya dengan sebutan abang terbaring begitu saja di tanah yang dingin.
“Bagaimana bisa … lo udah janji buat jaga diri lo … lo janji bakal ngajarin gue agama lo … Kenapa?! Kenapa bisa?!” Raung Gabriel tak terima.
“Nak, hush gak boleh bentak Airin gitu. Dia sudah bahagia di surga sekarang. Dia gak akan ngerasain siksaan penyakit lagi,” ucap Renata mencoba menenangkan dengan air mata yang masih setia mengalir.
“Kok bisa mah? Kenapa …” Gabriel mengusap wajahnya kasar, mencoba menyembunyikan air mata yang mengalir keluar.
“Sesak napas, dan inhelarnya habis. Gak ada orang di sekitarnya. Mommy telat El … Ai terkena serangan jantung, dan Ai meninggal di pangkuan Mommy,” Renata memeluk putranya, mencoba menenangkan putranya, dan juga dirinya sendiri.
“Ai punya penyakit jantung?” Celetuk Ana dan Eva bersamaan. Wajah keduanya yang kuyu mengungkapkan duka yang mereka derita.
“Ya ….”
“Arghh keluarga sialan itu! Pasti mereka sekarang senang kan karena beban mereka yang berlebihan sudah tidak ada!” murka Gabriel matanya yang tajam menyapu pelayat yang hadir dan segera menemukan ‘orang tua kandung’ Airin yang hanya berdiri terpaku dengan wajah kosong.
“Ini semua karena anda! Jika anda tidak menginginkan Airin, keluarga kami menginginkannya! Ingat, Ai meninggal karena kalian!” seru Gabriel penuh emosi.
“Tidak … maaf ….”
“Tidak ada gunanya! Ai sudah gak ada!” teriak Gabriel sambil menangis. Renata yang melihat putranya kehilangan kendali mencoba menenangkan putranya, tak ingin membuat keributan lebih kauh lagi di acara pemakaman Airin.
Disisi lain, Eva dan Ana saling memandang.
“Gue gak tau … kalau Airin itu Broken home ….”
“Saya juga gak tahu … kalau Airin punya penyakit jantung bawaan ….”
Ana mengambil napas dalam-dalam sebelum berkata, “Maaf Ev, saya terlalu berlebih-lebihan. Saya begini … karena saya trauma, kakak saya pernah di lecehkan oleh seorang pria hingga dia bunuh diri di kamarnya.” Ana menatap kosong ke langit mendung di atasnya.
“Maafin gue juga. Gue jadi gini, juga karena Papa gue manfaatin islam yang memperolehkan poligami, dan bikin Mama gue sakit ati.” Eva menggigit bibir bawahnya, namun Isak tangis terus keluar dari bibirnya.
“Pasti … ini yang Airin inginkan, bukan?”
“Ternyata … sejak awal, kita sama sekali tidak pernah benar-benar saling mengenal.”

TAMAT
Bionarasi Penulis
Rohmatul Adhimah, atau sering juga di sapa dengan nama ‘Imey’. Lahir 16 tahun yang lalu tepat pada tanggal 28 September di kota Kraksaan, Probolinggo. Selain hobi menulis, mengbucin, dan menghalu, ia juga senang mempelajari kosa kata bahasa asing supaya ketika dia kuliah di China, dia bisa berkomunikasi dengan teman dari negeri asing menggunakan beberapa kosa kata bahasa ibu mereka. Si mageran yang selalu garuk-garuk kepala ketika menghadapi segala hal yang berbau IPA, namun tetap memilih jurusan IPA di MAN 2 PROBOLINGGO.
Mottonya ialah tetap bangkit sesakit apapun ketika terjatuh, hingga akhir hayat menjemput.